Bisnis Print on Demand Jadi Penopang Industri Tekstil Jawa Barat
Tren print on demand atau cetak sesuai pesanan menjadi salah satu penopang industri pakaian dan tekstil Jawa Barat di tengah tekanan ekonomi global. Permintaan cetak pakaian dalam skala kecil dan menengah tercatat tumbuh sekitar 3-4%.
Pertumbuhan ini didorong oleh semakin banyaknya kegiatan olahraga dan komunitas yang membutuhkan pakaian khusus. Acara lari, misalnya, mendorong permintaan jersei dengan desain yang dibuat khusus untuk setiap kegiatan.
Direktur Moremedia Indonesia Bryan W Arsaha mengatakan permintaan jasa cetak digital untuk pakaian masih tumbuh meski kondisi ekonomi global menghadapi berbagai tekanan.
"Kalau yang di skala menengah dan kecil, permintaannya adalah berbasis print on demand atau custom printing. Itu yang sekarang sedang naik pesat. Setiap ada acara olahraga lari, kostum jerseinya baru. Komunitas otomotif juga punya kostumnya masing-masing. Permintaannya sangat tinggi," kata Bryan di sela pameran Indonesia Apparel Production Expo (IAPE) 2026 di Bandung, Rabu (2/9).
Menurut dia, perkembangan teknologi cetak langsung ke tekstil atau direct to garment turut mendorong pertumbuhan pasar tersebut. Teknologi ini semakin banyak menggunakan tinta yang lebih ramah lingkungan. Pelaku usaha juga mulai mengolah kembali sisa kain melalui proses daur ulang atau upcycle.
Di sisi lain, industri pakaian dan tekstil masih menghadapi tekanan efisiensi biaya serta persaingan harga dengan produk dari negara lain, seperti Vietnam dan Bangladesh.
Bryan mengatakan IAPE 2026 menjadi salah satu upaya untuk membantu pelaku usaha lokal menekan biaya operasional. Pameran tersebut menghadirkan 20 perusahaan dengan 50 merek teknologi mesin pakaian.
Pameran yang berlangsung pada 2-5 September 2026 di Bandung Convention Centre itu juga mempertemukan pelaku usaha dengan penyedia mesin dan bahan baku. Dengan begitu, pengusaha distro, merek lokal, dan UMKM di daerah tidak perlu datang ke Jakarta untuk mengakses kebutuhan produksi.
Perkuat SDM dengan Libatkan Institusi Pendidikan
Founder IAPE Aulia Sunhandhyka mengatakan pengembangan industri apparel juga perlu diikuti peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Karena itu, IAPE 2026 melibatkan sejumlah institusi pendidikan vokasi di Jawa Barat, seperti SMK Tata Busana, ISBI, dan Islamic Fashion Institute (IFI) Bandung.
"Keterlibatan kalangan akademisi penting untuk memperkuat pertukaran pengetahuan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Dengan demikian, perkembangan bisnis apparel dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia," ujar Aulia.
Ketua Komunitas Praktisi Grafika Indonesia (Kopi Grafika) Usman Batubara mengatakan industri percetakan memiliki peran penting dalam menopang produk kreatif. Percetakan dibutuhkan mulai dari pakaian hingga kemasan produk ekspor.
Menurut dia, pemerintah dapat memperluas pasar industri cetak dengan membangun unit percetakan dan dekorasi pakaian di tingkat desa atau kecamatan.
"Lini cetak itu kebutuhan seumur hidup. Sekarang semua produk dikemas untuk meningkatkan nilai jual, dan di belakangnya selalu ada percetakan. Jika setiap kecamatan memiliki unit percetakan mandiri untuk memenuhi kebutuhan seragam atau sekolah di wilayahnya, ini bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat desa di Jawa Barat," kata Usman.
IAPE 2026 juga menghadirkan sejumlah kegiatan pendukung, seperti live demo, 10 sesi talkshow Apparel Talk dengan 15 narasumber, serta business matching. Pameran tersebut menyasar pelaku usaha di ekosistem apparel, mulai dari pengusaha distro, desainer fesyen, toko pakaian daring, hingga akademisi dan instansi pemerintah.