Terdampak Erupsi Anak Krakatau, Nelayan Pandeglang Sementara Berhenti Melaut
Para nelayan di pesisir Pandeglang, Banten, memutuskan tidak melaut akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda. Selain nelayan, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Labuan, Carita, hingga Panimbang juga menghentikan kegiatannya.
"Kami sudah tiga hari terakhir tidak melaut, karena meningkatnya erupsi Gunung Anak Krakatau," kata seorang nelayan bernama Samsudin, seperti dikutip dari Antara, Senin (7/9).
Samsudin mengatakan tingginya aktivitas Gunung Anak Krakatau mengganggu kawanan ikan yang hidup di perairan ini, sehingga akan berdampak pada hasil tangkapan yang menurun.
Ikan Pelagis kecil maupun besar merupakan target tangkapan utama para nelayan. Namun, untuk saat ini kedua jenis ikan tersebut sangat sulit untuk ditangkap.
Karena itu, para nelayan memutuskan untuk tidak melaut dan melabuhkan kapal-kapal mereka di TPI sambil menunggu redanya aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kembalinya kawanan ikan.
"Kami sekarang bersama teman-teman membersihkan kapal dan memperbaiki alat tangkap selama tidak melaut," ucap Samsudin.
Keputusan serupa disampaikan oleh Samun, seorang nelayan TPI Carita Pandeglang. Ia bersama nelayan lainnya tidak melaut karena aktivitas Gunung Anak Krakatau membuat ikan-ikan “bersembunyi”.
Kegiatan melaut yang biasa dimulai sejak pagi buta, belakangan ini digantikan oleh kegiatan-kegiatan perawatan kapal, dan perbaikan alat-alat pancing.
"Kami sekarang belum pulang ke rumah, tetapi merawat kapal dan memperbaiki alat tangkap selama tak melaut," ujar Samun.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pandeglang Uun Junandar mengatakan pihaknya mengimbau nelayan untuk sementara jangan melaut, karena cuaca di Perairan Selat Sunda belum normal pasca-erupsi Gunung Anak Krakatau.
Namun, jika nelayan nekat melaut diharap waspada dan hati hati dengan mengutamakan keselamatan.
"Kami saat ini tengah mendata nelayan yang tidak melaut akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau," paparnya.