Prabowo Targetkan RI Capai Swasembada Energi dalam Waktu Dekat
Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia dapat mencapai swasembada energi dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini penting di tengah gejolak tensi geopolitik global.
"Pangan kita aman. Ketersediaan Bahan Bakar Minyak kita masih aman. Selain itu, beberapa tahun lagi, tidak lama lagi, kita akan swasembada BBM dan swasembada energi," kata Prabowo dalam perayaan Hari Buruh di Monumen Nasional, Jumat (1/5).
Menurut banyak negara yang panik menghadapi tensi geopolitik yang meningkat dan menyebabkan gangguan rantai pasok pangan dan energi. Namun, kondisi Indonesia tidak terganggu, antara lain karena telah mencapai status swasembada pangan.
Adapun BBM di dalam negeri dibagi menjadi dua jenis, yakni solar dan bensin. Solar umumnya digunakan sebagai bahan bakar untuk kendaraan niaga, sedangkan bensin lazimnya menjadi bahan bakar untuk kendaraan pribadi.
Pemerintah menargetkan mencapai status swasembada solar pada tahun ini dengan menerapkan program campuran 50% minyak sawit dalam solar atau B50. Prabowo belum menjelaskan program maupun jadwal status swasembada bensin akan diraih. Namun, Kepala Negara telah menargetkan swasembada BBM dapat diraih selambatnya pada 2030
Pemerintah sebelumnya menetapkan penerapan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dengan campuran bahan bakar nabati biodiesel berbasis minyak sawit sebesar 40% atau B40 mulai 1 Januari 2025.
Ketetapan ini disampaikan langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM pada awal tahun ini, Sabtu (3/1).
Langkah ini, menurut Bahlil, sejalan dengan agenda Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto terkait ketahanan dan swasembada energi, serta target pemerintah mencapai net zero emission di tahun 2060. Pemerintah bahkan menyiapkan rencana peningkatan lebih lanjut ke B50 pada 2026.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi mengungkapkan program mandatori BBN ini dapat mengurangi impor BBM, sehingga menghemat devisa.
Penghematan devisa untuk B40 sebesar Rp147,5 triliun, sedangkan untuk B35 dapat menghemat Rp122,98 triliun. Dengan demikian terjadi penghematan devisa sekitar Rp25 triliun dengan tidak mengimpor BBM jenis minyak solar.