Airlangga: PLN Janji Pasokan Listrik Normal Usai Juni 2026

ANTARA FOTO/INDRIANTO EKO SUWARSO
Warga beraktivitas di Rusun Bendungan Hilir saat terjadi pemadaman listrik bergilir di Jakarta, Senin (5/8/2019).
Penulis: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti
24/6/2026, 21.43 WIB

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan PT PLN (Persero) telah menjanjikan kondisi pasokan listrik akan kembali normal setelah Juni 2026. Pemerintah mengakui gangguan kelistrikan tersebut telah menimbulkan dampak bagi kegiatan usaha dan industri yang bergantung pada pasokan energi yang stabil.

“Iya tentu beberapa sektor terutama di Jawa kan terkait dengan beberapa industri. Jadi ya kemarin PLN sudah menjanjikan sesudah bulan Juni sudah akan normal,” kata Airlangga kepada wartawan di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Rabu (24/6).

Airlangga belum memberikan gambaran besaran kerugian ekonomi akibat gangguan pasokan listrik tersebut. Namun, ia menekankan, stabilitas pasokan energi, khususnya listrik, menjadi salah satu perhatian utama para investor ketika mempertimbangkan iklim usaha suatu negara.

“Yang menjadi concern para investor itu energi. Mengenai energi, stabilisasi daripada suplai listrik. Energi sebagai infrastruktur utama untuk apapun, apakah itu untuk manufaktur, sektor transportasi, jasa, itu harus stabil,” kata dia. 

Keandalan infrastruktur energi, menurut dia, juga menjadi salah satu indikator yang diperhatikan dalam penilaian daya saing suatu negara. Karena itu, pemerintah mendorong penguatan sektor ketenagalistrikan, termasuk pengembangan energi baru dan terbarukan yang saat ini menjadi salah satu daya tarik Indonesia di mata investor.

“Nah kebetulan Indonesia sedang diminati karena kita punya renewable energy,” kata Airlangga.

PT PLN (Persero) sebelumnya telah menyatakan dua unit pembangkit listrik besar di wilayah Jawa mengalami gangguan dan tak dapat beroperasi sementara. Kondisi itu menyebabkan kemampuan pasokan listrik dalam sistem Jawa menurun.  

PLN mengatakanm sistem kelistrikan Jawa saat ini masih dalam kondisi terkendali. Namun, manajemen beban listrik dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik serta mempertahankan keandalan sistem.

“Langkah tersebut dilakukan karena terdapat kendala teknis operasional pembangkit serta ada dua unit pembangkit besar yang mengalami gangguan sehingga tidak beroperasi sementara dan menurunkan kemampuan sistem pasokan listrik,” ujar Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN Gregorius Adi Trianto dalam keterangannya, Jumat (19/6).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah sudah memberi ultimatum kepada PT PLN (Persero) terkait pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawayang terjadi dalam beberapa waktu belakangan.  

Dia menyebut pemerintah telah mengambil langkah dengan menggelar rapat evaluasi dan kontrol kepada PLN. Hal ini terutama telah dilakukan dalam beberapa hari terakhir. “Sudah kami beri ultimatum, tinggal teknis implementasinya di PLN,” kata Bahlil saat ditemui di Purworejo, Jawa Tengah, Jumat (20/6).

Berdasarkan rapat dengan PLN, menurut Bahlil, permasalahan pemadaman bergilir disebabkan oleh terkait pasokan batu bara kalori sedang atau medium. Namun, ia menampik penyebab pemadaman listrik bergilir karena pasokan batu bara.

Menurut dia, Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara sudah menugaskan pada perusahaan-perusahaan pengelola tambang untuk memenuhi kebutuhan PLN. Sedangkan jumlah kebutuhan batu bara untuk PLN mencapai 154 juta ton sepanjang tahun ini. 

Apabila menilik laporan keuangannya, persediaan batu bara hingga 2025 sebesar Rp 16,98 triliun. Namun beban bahan bakar dari batu bara tercatat Rp 79,48 triliun.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman