Harga Minyak Naik Tipis di Tengah Mengecilnya Peluang Perundingan AS - Iran
Harga minyak naik tipis usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengecilkan peluang perundingan dengan Iran dalam waktu dekat. Trump juga mengancam akan melancarkan serangan yang lebih luas. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan meluasnya risiko pasokan global dari Timur Tengah hingga kawasan laut Hitam.
Harga minyak Brent naik 0,5% menjadi US$ 91,51 per barel pada pukul 08.05 waktu Singapura. Sementara itu harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,4% menjadi US$ 84,65 per barel.
Trump sebelumnya telah berjanji akan mengambil tindakan jika kelompok Houthi di Yaman mengganggu pelayaran di Laut Merah. Kelompok tersebut mendapatkan dukungan penuh dari Iran. Selain itu, Trump juga kembali mengancam akan segera menyerang lokasi yang diduga menjadi fasilitas nuklir Iran, Pickaxe Mountain.
Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command) mengatakan serangan AS ke Iran telah berlangsung selama 11 hari. Aksi yang terjadi usai gencatan senjata ini dilakukan untuk melemahkan kemampuan negara tersebut dalam mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Eskalasi perang antara AS dan Iran di Timur Tengah telah menaikkan kontrak berjangka minyak sepanjang bulan ini. Dalam beberapa hari terakhir, ada tiga kapal tanker yang diserang di Selat Hormuz dekat Oman.
Di luar kawasan tersebut, pasar juga menghadapi serangkaian serangan terhadap terminal Caspian Pipeline Consortium (CPC) di pesisir Laut Hitam Rusia, yang menjadi jalur pengiriman sebagian besar minyak mentah Kazakhstan.
Trump mengatakan Iran sangat ingin bertemu dengan AS, namun dia menyebut pihaknya tidak berminat. Pemerintah Teheran kemudian membantah klaim bahwa mereka sedang mengupayakan perundingan. Harga minyak terus berfluktuasi mengikuti perkembangan peluang eskalasi maupun meredanya ketegangan.
"Pandangan kami, harga minyak kemungkinan akan bergerak di kisaran US$ 80 hingga US$ 90 per barel, tergantung pada perkembangan berita. Jika Laut Merah benar-benar ditutup, itu akan menjadi ancaman besar. Kita belum melihat hal itu terjadi, namun jika benar, harga minyak bisa melonjak melampaui US$ 100 per barel,” kata Chief Executive Officer Infrastructure Capital Management LLC, Jay Hatfield dikutip dari Bloomberg, Rabu (22/7).
Di sisi lain, ancaman Houthi terhadap lalu lintas maritim Arab Saudi mulai menimbulkan dampak. Sejumlah kapal tanker tampak menghentikan pelayaran saat mendekati perairan Yaman, sementara kapal lain yang mengangkut minyak dari Arab Saudi berbalik arah menuju Terusan Suez. Kendati demikian, masih ada kapal-kapal lain yang tetap melanjutkan pelayaran ke kawasan tersebut.
Laut Merah menjadi jalur ekspor yang makin penting bagi Arab Saudi selama konflik Timur Tengah berlangsung. Sebab kondisi ini mengharuskan kerajaan tersebut mengalihkan sebagian pengiriman minyak melalui jaringan pipa sehingga tidak bergantung pada Selat Hormuz.