BEC Bidik Gantikan Impor Metanol Rp7,1 Triliun Lewat Proyek Gasifikasi Batu Bara
PT Bumi Etam Chemical (BEC) mengatakan produk metanol hasil proyek gasifikasi batu bara akan dipasarkan untuk kebutuhan domestik. Presiden Direktur BEC Rio Supin mengatakan hal ini bertujuan untuk mensubstitusi impor metanol yang saat ini mendominasi kebutuhan dalam negeri.
“Jadi target utama kami memang dari awal untuk mengganti impor, tujuan utamanya pasar domestik,” kata Rio dalam acara penandatangan FEED dan EPCC proyek gasifikasi batu bara ke metanol di Jakarta, Rabu (29/7).
BEC merupakan perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia (Arutmin) dan PT Kaltim Prima Coal (KPC), bersama PT Istana Karang Laut (IKL) dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC).
Berdasarkan data BPS, jumlah kebutuhan metanol Indonesia mencapai 1,9 juta ton pada 2025. Dari jumlah tersebut, 1,3 juta ton atau 68%nya dipenuhi dari impor.
Dia menyebut berdasarkan data kebutuhan, impor dan hasil studi yang dilakukan, perusahaan memutuskan untuk melakukan hilirisasi batu bara menjadi metanol.
“Pada 2025, kita menghabiskan devisa sekitar US$ 400 juta per tahun untuk impor metanol. Nilai impor ini setara Rp 7,1 triliun,” ujarnya.
Rio mengatakan dengan kondisi geopolitik dan perang Timur Tengah yang berlangsung tahun ini, membuat harga metanol naik secara signifikan. Dia menyebut dengan kondisi ini diperkirakan jumlah devisa Indonesia yang keluar untuk impor metanol makin besar.
Metanol digunakan sebagai bahan baku untuk berbagai sektor industri, termasuk petrokimia, manufaktur, energi, dan industri turunannya. Termasuk juga sebagai bahan pembentuk biodiesel. Indonesia saat ini telah menetapkan kewajiban penerapan biodiesel 50% atau B50 mulai Juli 2026.
Rio menyebut semakin tinggi persentase biodiesel yang digunakan, maka membutuhkan lebih banyak metanol. Dia menyebut ada beberapa pihak yang menyatakan minat sebagai pembeli atau offtaker produk metanol mereka.
“Kami sudah teken kesepakatan dengan beberapa pihak, namun ini masih sangat awal. Mereka masih menunggu perkembangan proyek ini, setelah nanti mencapai titik tertentu maka kami akan memasuki tahap kesepakatan pembelian. Targetnya tetap pasar domestik, kalau ada sisa baru kami ekspor,” ucapnya.
Teken FEED dan EPCC
BEC telah menandatangani kontrak tahap perencanaan dan desain teknis awal (FEED) dan kontrak tahap pengadaan, pembangunan, dan pengoperasian awal (EPCC) untuk proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol.
Proyek yang berada di Kutai Timur, Kalimantan Timur ini merupakan salah satu proyek strategis nasional (PSN) dan diperkirakan menyerap biaya lebih dari US$ 2,3 atau setara Rp 41,5 triliun (kurs Rp18.056 per Dolar AS).
Presiden Direktur BEC Rio Supin mengatakan proyek ini akan memproduksi 2 juta ton produk metanol dalam satu tahun. Selain metanol, proyek ini juga akan menghasilkan produk samping berupa sulfuric acid. Dalam proyek gasifikasi ini, perusahaan akan menggunakan batu bara berkalori rendah 3300 kkal per kg GAR.
“KPC dan Arutmin berkomitmen untuk mengembangkan (proyek) sampai dengan (tingkat) produksi (metanol) 3,6 juta ton secara bertahap. Di fase pertama, target produksi (metanol) sebanyak 2 juta ton per tahun,” kata Rio dalam acara penandatangan FEED dan EPCC di Jakarta, Rabu (29/7).
Rio mengatakan lokasi yang berada dekat di pinggir Selat Makassar akan memudahkan akses perusahaan untuk bisa memasarkan hasil metanol secara domestik. Dia menyebut setelah penandatanganan FEED dan EPCC ini tahap proyek akan memasuki tahapan rekayasa.
“Semoga tidak lama lagi kami akan memasuki tahap groundbreaking secara fisik di kemudian hari. Harapan kami tahapan komisioning bisa dilakukan pada 2029. Kemudian pada 2030 secara komersial proyek ini bisa memproduksi 2 juta ton metanol,” ucapnya.