Harga Minyak Turun di Bawah US$ 100 per Barel, Pipa East-West Bakal Dibuka Lagi

ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Pekerja memeriksa pipa minyak booster station 27 milik PT Pertamina Gas Operation Central Sumatera Area (OCSA), Banyuasin, Sumatera Selatan, Jumat (19/9/2025). PT Pertamina Gas Operation Central Sumatera Area (OCSA) melalui Distrik Palembang mengoperasikan Booster Station KM 27 yang berfungsi menjaga kelancaran operasional sekaligus kehandalan penyaluran minyak mentah. Fasilitas ini merupakan salah sa dari enam booster station yang dikelola Pertamina Gas OCSA. Melalui jaringan pipa sepanjang 263 km yang mem
Penulis: Mela Syaharani
23/9/2026, 10.11 WIB

Harga minyak acuan dunia turun ke bawah US$ 100 per barel. Harga ini memang terus menurun selama lima hari terakhir.

Penurunan ini terjadi seiring dengan Arab Saudi yang bersiap mengaktifkan kembali jalur pipa utama, East-West. Di samping itu penurunan juga didukung oleh pernyataan AS bahwa ada kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran untuk mengakhiri perang yang telah mengguncang Timur Tengah.

Minyak Brent berada di level US$ 99,25 per barel pada pukul 09.09 waktu Singapura, tidak berubah dari perdagangan sebelumnya. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 0,3% menjadi US$ 90,27 per barel.

Harga minyak masih mencatat kenaikan lebih dari 60% sepanjang tahun ini karena konflik di Timur Tengah mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz. Lonjakan harga tersebut telah mendorong inflasi, dengan harga produk minyak bahkan meningkat lebih tinggi dibandingkan harga minyak mentah. 

Arab Saudi menargetkan untuk memulihkan ekspor minyak melalui jalur pipa East-West dalam beberapa hari ke depan. Hal ini memungkinkan Riyadh kembali menggunakan jalur alternatif untuk menghindari Selat Hormuz. 

Pipa East-West memiliki kapasitas angkut 7 juta barel minyak per hari dan mengalami kerusakan akibat serangan pada awal bulan ini.

Presiden Donald Trump mengatakan para pejabat telah melakukan pertemuan yang sangat produktif dengan utusan Iran, meskipun sebelumnya ia mengancam akan memusnahkan Republik Islam Iran dalam pidatonya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Trump menambahkan pertemuan lebih lanjut telah direncanakan.

Trump mengatakan utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ikut serta dalam pembicaraan dengan utusan Iran. Pemimpin AS tersebut juga dijadwalkan bertemu dengan para pejabat dari kawasan Teluk Persia, termasuk anggota Gulf Cooperation Council (GCC) yang beranggotakan enam negara, serta perwakilan dari Suriah, Irak, Yordania, dan Turki.

“Kami terlibat dalam pembicaraan panjang dengan delegasi Iran melalui para mediator. Mereka berhasil menyelesaikan satu putaran diskusi yang kami harap dapat membuahkan hasil yang konstruktif dan menjanjikan,” kata Witkoff dikutip dari Bloomberg, Rabu (23/9).

Kendati demikian, pelaku pasar mengingatkan agar klaim mengenai kemajuan diplomatik yang disampaikan pemerintahan Trump tidak ditafsirkan secara berlebihan. Berbagai upaya untuk mengakhiri perang sejauh ini tidak membuahkan hasil, termasuk kesepakatan perdamaian sementara yang sempat berlaku dalam waktu singkat. 

Sejak saat itu, AS telah memblokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Republik Islam Iran, sehingga membatasi pendapatan negara tersebut dari ekspor energi. Sebagai balasan, Iran menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz.

Setelah konflik berlangsung selama lebih dari enam bulan, kedua pihak masih berselisih mengenai sejumlah isu utama, termasuk Selat Hormuz. Teheran telah menegaskan kendalinya atas jalur perairan tersebut, sementara Washington bersikeras bahwa statusnya tidak berubah.

Selain ketegangan antara Iran dan AS, pertempuran juga terjadi antara kelompok pemberontak Houthi yang didukung Teheran di Yaman dan Arab Saudi. Kelompok tersebut telah menyerang fasilitas energi di Arab Saudi, sekaligus memperoleh keuntungan dalam pertempuran melawan rival lokal di sepanjang pesisir Laut Merah menuju titik penghambat Bab el-Mandeb.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani