PHR Ungkap Strategi Jaga Produksi Migas Lapangan Tua

PHR
Fasilitas produksi Lapangan Sengeti PT Pertamina EP Jambi
Penulis: Mela Syaharani
Editor: Yuliawati
2/10/2026, 13.33 WIB

Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengungkapkan strategi yang dilakukan perusahaan untuk menjaga produksi migas di kondisi lapangan migas yang sudah berumur tua. Blok Rokan merupakan salah satu produsen minyak terbesar Indonesia saat ini, kontribusinya hampir sepertiga dari produksi nasional.

PHR menyebut beberapa strategi untuk menjaga produksi dilakukan melalui optimalisasi lapangan eksisting, eksplorasi, dan pemanfaatan teknologi.

Corporate Secretary PHR, Eviyanti Rofraida mengatakan langkah pertama dilakukan dengan mempertahankan baseline production dari lapangan yang sudah beroperasi agar penurunannya dapat ditekan. Strategi tersebut kemudian diperkuat melalui pencarian sumber produksi baru dan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan perolehan migas.

“Utamanya adalah menjaga baseline, produksi (migas) yang sudah ada kalaupun menurun, tidak jauh. (Namun lebih bagus) jika penurunannya hanya sedikit,” kata Evi dalam siaran pers, dikutip Jumat (2/10).

Tak hanya menjaga kinerja sumur-sumur tua, penjagaan produksi migas juga dilakukan dengan mengevaluasi potensi baru berdasarkan data yang tersedia. Perusahaan juga terus melakukan eksplorasi untuk menemukan sumber daya yang dapat dikembangkan menjadi sumber produksi.

Menurutnya dalam ini pemanfaatan teknologi menjadi bagian penting dalam strategi tersebut. Berbagai pendekatan teknologi diterapkan untuk meningkatkan produktivitas lapangan dan mengoptimalkan cadangan yang tersedia.

Di Jambi, salah satu proyek yang menjadi perhatian Pertamina adalah Puspa Asri. Proyek tersebut diproyeksikan memberikan tambahan produksi yang memiliki arti strategis bagi Pertamina EP Jambi.

Pengembangan tersebut menunjukkan penguatan ketahanan energi tidak hanya bergantung pada penemuan lapangan baru, tetapi juga kemampuan industri untuk mengubah potensi sumber daya menjadi produksi secara efektif melalui teknologi dan inovasi.

Kendati demikian Evi menyebut keberlanjutan produksi migas membutuhkan dukungan lintas pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan perguruan tinggi.

“Dukungan tersebut diperlukan agar kegiatan operasi, eksplorasi, hingga pengembangan wilayah baru dapat berjalan secara aman dan berkelanjutan,” ujarnya.

Di sisi lain, Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Muhammad Kholid Syeirazi mengatakan, langkah paling mendasar untuk memperkuat ketahanan energi adalah meningkatkan produksi energi, baik dari sumber fosil maupun energi terbarukan.

Menurutnya, peningkatan produksi perlu berjalan beriringan dengan diversifikasi sumber energi. Pengembangan biodiesel, misalnya, menjadi salah satu instrumen untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor solar. Selain itu pemerintah juga sedang mendorong pengembangan etanol sebagai salah satu alternatif untuk kebutuhan bensin.

Ia menambahkan, penguatan ketahanan energi harus mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan peningkatan produksi, keberlanjutan lingkungan, dan aspek ekonomi masyarakat. Dengan demikian, transisi dan diversifikasi energi tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan energi, tetapi juga tetap memperhatikan keberlanjutan.

Selain produksi, DEN juga mendorong percepatan pembentukan cadangan penyangga energi. Cadangan tersebut berbeda dengan cadangan operasional yang selama ini disiapkan badan usaha untuk menjalankan kegiatan sehari-hari.

“Cadangan penyangga energi itu kalau bisa sampai 30 hari setara impor. Itu diberi waktu sampai 2035. Mudah-mudahan kita mengejar. Tetapi dalam waktu dekat, paling tidak sebelum bisa 30 hari, lima hari dulu atau 10 hari dulu. Secara bertahap kita bisa sampai 30 hari, idealnya 60 hari, lebih-lebih bisa 90 hari,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani