Zulhas Targetkan Implementasi E20 dalam 5 Tahun ke Depan

ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/YU
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menceritakan isi buku saat Peluncuran Buku Pangan Indonesia di Jakarta, Jumat (4/9/2026). Buku Pangan Indonesia tersebut membahas berbagai persoalan pangan yang berdampak langsung pada ekonomi dan masa depan bangsa Indonesia.
6/10/2026, 16.55 WIB

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan Indonesia akan meningkatkan pemanfaatan bahan bakar nabati, termasuk campuran bensin dengan 20 persen bioetanol (E20) dalam lima tahun ke depan sebagai bagian dari transisi energi.

Dalam Indonesia International Sustainability Forum di Jakarta, Selasa (6/10), Zulkifli menyatakan optimistis Indonesia dapat memproduksi E20 menyusul keberhasilan penerapan biodiesel 50 persen atau B50.

Menurut dia, pengembangan energi terbarukan diperlukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.

“Investasi energi terbarukan yang mengurangi ketergantungan pada industri fosil dan menciptakan lapangan kerja baru,” ujarnya.

Zulkifli mengatakan agenda tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah membangun pertumbuhan ekonomi yang lebih hijau. Ia menyebut pengembangan energi terbarukan dan bahan bakar nabati perlu menjadi bagian dari transformasi ekonomi yang tetap memperhatikan ketahanan pangan dan perlindungan lingkungan.

Dalam pidatonya, Zulkifli juga menyampaikan bahwa pemerintah tengah membangun pasar karbon yang kredibel dan transparan sebagai salah satu pintu masuk pembiayaan internasional untuk mendukung agenda pertumbuhan hijau.

Pemerintah menetapkan penyelenggaraan nilai ekonomi karbon (NEK) melalui Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025. Kebijakan tersebut mencakup sejumlah instrumen, antara lain perdagangan karbon, pajak karbon dan pembayaran berbasis hasil (result-based payment).

Dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan RI Jakarta, Rabu (16/9), Presiden Prabowo Subianto telah meminta Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyiapkan lahan tebu yang sudah ada seluas 2 juta hektare untuk diolah menjadi bioetanol untuk Program E20.

Tebu dipilih sebagai sumber bahan baku bioetanol karena jumlah lahannya yang dinilai paling memungkinkan apabila dibandingkan dengan lahan perkebunan jagung dan singkong.

Prabowo juga memerintahkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menyiapkan industri untuk Program E20 tersebut.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Antara