Bahlil Targetkan Nilai Ekspor Nikel Naik 12,5% Jadi Rp806 Triliun di 2026

Antara Foto/Nova Wahyudi
Pekerja menggunakan pakaian tahan api saat mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di smelter PT Vale Indonesia Tbk di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Penulis: Metta Melani L
14/10/2026, 17.09 WIB

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menargetkan nilai ekspor nikel di Indonesia mencapai US$45 miliar atau Rp 806,13 triliun tahun ini. Angka tersebut naik dari tahun lalu yang mencapai US$40 miliar.

Target ekspor ini mengalami peningkatan setelah Indonesia menyetop ekspor bahan mentah berupa bijih (ore) nikel, dan pembangunan industrialisasi hingga ekosistem baterai mobil dari hulu ke hilir. 

Penyetopan ekspor bijih ini dilakukan bersamaan dengan penerapan kewajiban hilirisasi untuk nikel dalam beberapa tahun terakhir. Sebelum dilakukan hilirisasi, nilai ekspor nikel RI hanya mencapai US$ 3,3 miliar saja di periode 2017-2018. 

“Alhamdulillah nilai ekspor nikel kita di 2023 sudah mencapai US$ 34 miliar, kemudian di 2025 sudah lebih dari US$ 40 miliar. Di 2026 saya targetkan minimal US$ 45 miliar, ini baru satu komoditas,” kata Bahlil dalam acara  pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (14/10).

Dia juga menyebut Indonesia ke depan tidak akan lagi menjadi negara yang hanya mengekspor bahan baku. Bahlil menyebut pemerintah paham betul bahwa keputusan hilirisasi ini mengganggu negara lain yang sudah menjalankan industrialisasi dengan pasokan bahan baku dari Indonesia.

“Beberapa negara di Benua Eropa membawa Indonesia ke WTO. Pertarungan penciptaan nilai tambah tidak hanya dimaknai sebagai bagian daripada pertumbuhan ekonomi nasional, tapi harus dimaknai sebagai bagian kemandirian politik ekonomi nasional,” ujarnya.

Menurutnya hilirisasi ini sejalan dengan isi atau substansi Pasal 33 Undang-Undang Dasar 45. Bahlil mendorong kepada para investor agar melakukan investasi saja di Indonesia.

“Kami akan mendorong dengan pemberian energi baru terbarukan, karena produk global sekarang itu cenderung untuk mencari produk yang green energy dan green industry. Itu nilainya pasti jauh lebih tinggi ketimbang produk-produk yang dihasilkan daripada energi fosil dan Indonesia kita semua punya,” ucapnya.

Bahlil mengatakan hilirisasi merupakan strategi Indonesia dalam jangka panjang untuk mendorong ekspor yang berkualitas, kompetitif, dan mempunyai daya saing.

Tak hanya di sektor mineral, hilirisasi juga akan dilakukan di hampir semua bidang. Indonesia sendiri telah memiliki peta jalan hilirisasi.

“Hilirisasi Indonesia pada 2040 bisa mencapai US$ 618 miliar. Hilirisasi sesungguhnya dilakukan di seluruh sektor, baik mineral, batu bara, migas, kehutanan, perikanan, maupun pertanian. Peta jalan inilah yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional kita,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani