Harga Minyak Bergejolak, Brent Tembus US$ 109,55/Barel usai Houthi Serang Saudi

Vecteezy.com/Uriel Eichenbaum
Ilustrasi stok minyak mentah untuk ketahanan energi.
20/10/2026, 08.08 WIB

Harga minyak dunia bergerak fluktuatif setelah kelompok Houthi menyerang kamp pelatihan militer di Yaman. Tak hanya itu, kelompok yang bersekutu dengan Iran tersebut kembali melancarkan serangan baru terhadap berbagai fasilitas Arab Saudi.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent pada Senin (19/10) waktu AS ditutup turun 31 sen atau 0,3% menjadi US$ 109,55 per barel. Harga Brent sempat merosot lebih dari US$ 3 pada awal perdagangan setelah investor merealisasikan keuntungan dari reli pekan lalu yang membawa harga minyak ke level tertinggi dalam lima bulan. Level tertinggi itu muncul seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah memperbesar kekhawatiran akan gangguan pasokan. 

Sebaliknya, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 2,25 atau 2,2% menjadi US$ 103,66 per barel. Harga penutupan tersebut menjadi yang tertinggi sejak 15 September. Namun, aktivitas perdagangan WTI relatif sepi menjelang berakhirnya kontrak bulan berjalan pada 20 Oktober ini.

Pelaku pasar lebih banyak memperdagangkan kontrak Desember yang memiliki likuiditas lebih tinggi. Volume perdagangan kontrak tersebut mencapai lebih dari 195 ribu lot, jauh melampaui kontrak November yang mencatat sekitar 26 ribu lot menjelang berakhirnya masa perdagangan. Kontrak Desember ditutup pada US$ 98,54 per barel, turun 0,5%.

Kelompok Houthi di Yaman mengeklaim telah menyerang sejumlah fasilitas energi, bandara, dan instalasi militer Arab Saudi pada Senin (19/10). Kelompok militan itu menyebut fasilitas Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, serta Bandara Abha sebagai target serangan.

Otoritas Arab Saudi belum mengonfirmasi klaim tersebut. Reuters juga belum dapat memverifikasi klaim kelompok Houthi secara independen.

Secara terpisah, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan sebuah kapal tanker minyak terbakar dan meledak setelah menabrak ranjau laut di bagian selatan Selat Hormuz pada Minggu (18/10). Media Iran melaporkan insiden tersebut tanpa memberikan keterangan lebih lanjut dalam laporan yang dikutip Reuters.

Meningkatnya ancaman terhadap pelayaran komersial turut menekan arus pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz. Perusahaan analitik Kpler mencatat rata-rata pengiriman minyak melalui kawasan tersebut turun menjadi sekitar 8,5 juta barel per hari selama tujuh hari pada pekan lalu, dari lebih dari 20 juta barel per hari pada pekan sebelumnya.

Kpler juga mencatat sedikitnya 10 insiden terkonfirmasi yang melibatkan kapal komersial selama pekan lalu. Serangkaian insiden tersebut memperbesar kekhawatiran pelaku pasar terhadap kelancaran distribusi minyak global.

Analis SEB, Bjarne Schieldrop, memperkirakan peningkatan volume ekspor minyak melalui Selat Hormuz tidak akan berlangsung lama. Menurut dia, Iran berpotensi meningkatkan serangan menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November 2026.

Di tengah ketegangan tersebut, Mesir menyatakan kesiapannya mendukung Arab Saudi untuk menghadapi kelompok Houthi. Namun, parlemen Mesir menunda pemungutan suara mengenai pemberian wewenang kepada angkatan bersenjata untuk membantu Arab Saudi hingga 26 Oktober. Persetujuan tersebut akan menjadi dasar bagi pengerahan bantuan militer apabila Pemerintah Arab Saudi memintanya.

Sebelumnya, kelompok Houthi menyerang kamp pelatihan pasukan keamanan pemerintah Yaman di Provinsi Shabwa pada Senin. Serangan di wilayah penghasil energi yang terletak di pesisir selatan-tengah Yaman itu menewaskan 53 orang dan melukai 200 orang lainnya.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perintah eksekutif pada Jumat (16/10) yang memberikan pengecualian terhadap sejumlah sanksi dan tarif terkait ekspor energi Rusia. Kebijakan tersebut memicu kritik dari lawan politik maupun sekutu Trump.

Trump mengambil langkah tersebut ketika berupaya menurunkan harga energi menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada November.

Perusahaan analisis energi Gelber and Associates menilai kebijakan Trump berpotensi meningkatkan pasokan bahan bakar Rusia ke pasar global. Namun, perusahaan tersebut mengingatkan bahwa ketidakpastian mengenai penerapan dan masa berlaku kebijakan itu membatasi kepastian peningkatan pasokan dalam jangka panjang.

“Pengecualian tersebut membuka peluang bagi tambahan ekspor bahan bakar Rusia. Namun, ketidakpastian mengenai penerapan dan durasi kebijakan itu membatasi keyakinan terhadap peningkatan pasokan yang berkelanjutan,” tulis Gelber and Associates dalam catatan analisisnya.

Kepala analisis pasar di Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menilai kebijakan tersebut belum mampu mengatasi gangguan pasokan minyak secara langsung di Selat Hormuz. Menurut dia, serangan terhadap kapal tanker yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut masih terus berlangsung.

Di tengah upaya internasional untuk membatasi arus energi dari Iran dan Rusia, kedua negara itu masih mempertahankan ekspor bahan bakar. Aktivitas ekspor tersebut membantu membatasi dampak gangguan pasokan terhadap pasar global.

Di sisi lain, produksi minyak Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) meningkat pada September. Survei Reuters menunjukkan bahwa kenaikan produksi di Arab Saudi dan Irak menjadi pendorong utama peningkatan tersebut.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu