Pemerintah Kaji Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/kye
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan keterangan kepada media di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (16/10/2026). Bahlil menyampaikan bahwa stok Pertalite berkurang dari sebelumnya di atas 20 hari menjadi 16–18 hari akibat peralihan konsumen dari bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi ke BBM subsidi dan diperkirakan akan pulih dalam sepekan.
21/10/2026, 21.22 WIB

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang merangkap sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegatakan pemerintah peluang untuk tidak memperpanjang ekspor gas ke negara tetangga. 

Hal ini menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa kondisi Indonesia dan negara-negara lainnya dalam mode ‘survival’ atau bertahan.

Dia menyebut Indonesia sebagai negara harus terus bertahan. “Jadi kalau negara lain mau ada pandangan lain tentang kita, hati-hati. Saya juga mungkin (akan) memikirkan untuk tidak perpanjang ekspor gas ke negara tetangga,” kata Bahlil saat ditemui usai Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Rabu (21/10).

Ketua Umum Partai Golkar ini mengatakan dalam mode bertahan ini, negara harus memenuhi dulu kebutuhan dalam negeri atau domestik.

Menurut data Kementerian ESDM, total pemanfaatan gas bumi Indonesia mencapai 74,55% untuk domestik, sementara 25,39% ditujukan untuk ekspor di sepanjang semester 1 2026.

Pada paruh pertama tahun ini, Indonesia melakukan dua jenis ekspor gas yakni ekspor gas alam cair (LNG) 998,77 BBTUD dan ekspor gas pipa 354,13 BBTUD.

Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna mengatakan bahwa Indonesia saat ini berada dalam mode survival dan harus bertahan. Dia menyebut negara harus menyelamatkan seluruh kekayaan, sumber alam yang diibaratkan sebagai darah.

“Kalau darah kita bocor terus, tidak mungkin badan kita selamat,” ujar Prabowo.

Dia menyebut mode bertahan ini tak hanya dialami Indonesia tapi juga banyak negara di dunia. Prabowo menyebut dalam kondisi ini, negara harus mengutamakan kepentingan nasional dan kepentingan rakyat. 

Prabowo mengatakan dirinya sudah berkali-kali menyampaikan bahwa garis politik yang dia jalankan sesuai dengan pendiri bangsa Indonesia, yakni ingin menghormati semua negara dan semua kekuatan besar.

“Saya sudah sampaikan garis politik luar negeri saya adalah seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak. Saya ingin menjadi the good neighbor. Yang saya ingin jalankan adalah the good neighbor policy,” ucapnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani