Pengunjung Mal Makin Ramai, Kapasitas Tetap Dibatasi

ANTARA FOTO/Rony Muharrman/wsj.
Pedagang merapikan perlengkapan alat shalat di sebuah toko di pusat perbelanjaan, Pekanbaru, Riau, Selasa (6/4/2021). Pedagang busana muslim tersebut mengaku sepekan menjelang Ramadan penjualan perlengkapan muslim seperti baju koko, peci, sarung, mukena dan sajadah mulai mengalami peningkatan hingga 40 persen dibandingkan dengan Ramadan tahun sebelumnya.
29/4/2021, 18.02 WIB

Menjelang hari raya Idul Fitri, masyarakat semakin ramai berkunjung ke pusat-pusat perbelanjaan. Bahkan, kunjungan ke pusat perbelanjaan mengalami peningkatan sejak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro dan berjalannya program vaksinasi Covid-19.

Pernyataan itu disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI)  Alphonzus Widjaja menanggapi hasil riset Mandiri Spending Index (MSI) oleh Mandiri Institute. Riset tersebut menunjukkan adanya perbaikan belanja masyarakat di awal kuartal II 2021.

Hal ini terjadi seiring dengan peningkatan mobilitas dan aktivitas masyarakat menyambut bulan Ramadan dan Lebaran di pertengahan April hingga Mei 2021. “Dalam beberapa waktu terakhir memang terjadi peningkatan kunjungan secara bertahap, meski belum mencapai 50%, namun saya rasa tren ini akan terus meningkat,” kata Alphonzus, Kamis (29/4).

Untuk diketahui, 50% merupakan Batasan kapasitas yang diperbolehkan dalam PPKM Mikro. Batasan ini dibuat untuk memungkinkan pengunjung tetap menjaga jarak di pusat perbelanjaan.

Alphonzus menjelaskan, tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan kelas menengah bawah lebih tinggi daripada tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan kelas menengah atas. Sementara, untuk tingkat penjualan di pusat perbelanjaan kelas menengah lebih tinggi daripada penjualan di pusat perbelanjaan kelas menengah bawah.

Dalam laporan MSI juga disebutkan, untuk belanja kebutuhan di supermarket relatif stabil pada kuartal I 2021, namun semakin meningkat menjelang bulan Ramadan di awal Kuartal II. Demikian juga dengan belanja restaurant yang terus meningkat seiring dengan peningkatan mobilitas masyarakat.

Simak Databoks berikut: 

Sejalan dengan laporan tersebut, Alphonzus mengatakan, memang saat ini pola belanja masyarakat masih mengutamakan kebutuhan pokok sehari-hari dan kebutuhan rumah tangga. Sebab, daya beli masyarakat yang belum kembali normal.

“Sektor makanan minuman menunjukkan kinerja yang paling baik di antara sektor lain. Peningkatannya hampir 50% lebih tinggi daripada sektor non-makanan minuman,” kata dia.

Lebih lanjut, ia mengatakan, tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan pada lebaran tahun 2020 hanya naik sekitar 20% dibandingkan dengan hari biasa pada tahun 2020. Ia juga memperkirakan, pada lebaran tahun 2021, tingkat kunjungan dan penjualan akan mengalami peningkatan sebesar 30-40% dibandingkan dengan lebaran tahun lalu.

“Tingkat kunjungan dan tingkat penjualan pada bulan Ramadan dan Lebaran tahun ini akan lebih tinggi dari tahun lalu, tapi tidak akan terjadi peningkatan yang signifikan,” katanya.

Sebelumnya, riset yang dilakukan Mandiri Institute menunjukkan terjadi perbaikan belanja masyarakat pada awal kuartal II 2021. Kondisi ini seiring kenaikan mobilitas masyarakat menjelang Ramadan dan Lebaran.

Belanja kelompok menengah atas bahkan sudah kembali ke level sebelum pandemi, pertama kali sejak Covid-19 merebak. "Hal ini terkonfirmasi oleh peningkatan belanja yang cukup tinggi pada awal April untuk beberapa kelompok belanja utama seperti supermarket, restoran, dan fashion," demikian tertulis dalam bahan paparan Mandiri Institute, Kamis (29/4).

Riset tersebut mencatat, belanja kebutuhan di supermarket relatif stabil sepanjang kuartal I 2021 dan semakin meningkat menjelang Ramadan pada awal kuartal II. Hal serupa terjadi pada belanja restoran. 

Setelah mengalami tekanan hampir sepanjang 2020, belanja fesyen kembali mengalami perbaikan pada akhir kuartal pertama tahun ini. Kenaikan terus berlanjut pada awal kuartal kedua dan untuk pertama kalinya berada di atas level sebelum pandemi. “Perbaikan tersebut kemungkinan didorong oleh semakin meningkatnya mobilitas dan aktivitas bekerja di kantor,” demikian dikutip.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi