PT Polytama Propindo menargetkan kapasitas produksi resin polipropilena atau polypropylene naik dua kali lipat per 2028, dari kapasitas eksisting 300.000 metrik ton per tahun menjadi 600.000 metrik ton per tahun.

Untuk mencapai target, anak usaha PT Tuban Petrochemical Industries (grup Pertamina) ini tengah membangun sejumlah fasilitas baru meliputi pabrik baru, dermaga apung (jetty), hingga empat tangki penyimpanan yang semuanya ditargetkan rampung pada 2028. Adapun pembangunan yang sedang berlangsung saat ini adalah pembangunan dermaga apung dan satu tangki polypropylene berkapasitas 3.000 ton. Kapasitas satu tangki ini setara tiga kali lipat kapasitas per tangki eksisting.

“Tangki ini progres pembangunannya sudah 84,2%. Progres piling (untuk dermaga apung) masih kecil 15,6% karena kendala cuaca. Tapi kontraktor kita memperkirakan sekitar Oktober atau November seharusnya sudah selesai,” kata PIC Manager PT Polytama Propindo Riko Bimantara saat kunjungan media di pabrik Polytama Propindo di Kabupaten Indramayu, Jumat (31/1).

Menurut Riko, bahan baku propylene pabrik baru ini nantinya akan didukung pasokan dari kilang Refinery Unit (RU) V Balikpapan PT Kilang Pertamina Balikpapan. Saat ini, pasokan utama bahan baku pabrik masih berasal dari RU VI Balongan PT Kilang Pertamina Internasional sebagai bagian dari produk non bahan bakar minyak (non-BBM) kilang. Bahan baku disalurkan ke perusahaan melalui jaringan perpipaan yang terintegrasi dengan hulu kilang Pertamina tersebut.

Sepanjang 2025, Polytama Propindo mencapai volume produksi tertingginya sebesar 266.262 metrik ton. Produknya yang dijual dengan merek dagang “Masplene” digunakan sebagai bahan baku produk-produk plastik seperti bahan baku masker medis, karung beras plastik, botol plastik, kantong plastik, bungkus kemasan, hingga peralatan rumah tangga berbasis plastik.

Untuk diketahui, kebutuhan polypropylene nasional per tahunnya berada di kisaran 1,9 juta sampai 2,1 juta ton. Sementara itu, saat ini perusahaan-perusahaan produsen polypropylene tanah air, termasuk Polytama Propindo, total hanya mampu memasok setengah dari kebutuhan nasional. Sisanya, kebutuhan pasokan bergantung pada impor.

Direktur Polytama Propindo Dwinanto Kurniawan menyebut, kemitraan dengan industri hilir dapat berkontribusi mengurangi ketergantungan terhadap impor dan menghemat devisa nasional. Dalam jangka panjang, optimalisasi industri petrokimia dalam negeri ini berpotensi menghemat devisa hingga Rp17,5 triliun per tahun dari sektor polypropylene.

“Ini sejalan dengan visi pemerintah dalam memperkuat kedaulatan industri,” kata Dwinanto, Jumat (30/1).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Leoni Susanto