Menhub Sebut Penutupan Ruang Udara Cina akan Berdampak ke Kunjungan Wisatawan
Cina menutup wilayah udaranya pada sejumlah titik di lepas pantai selama 40 hari. Penutupan ini dikeluarkan melalui peringatan yang biasanya digunakan oleh otoritas penerbangan setempat jika akan melakukan latihan militer.
Menurut laporan The Wall Street Journal, pemerintah Cina tidak mengumumkan adanya latihan di wilayah tersebut. Hal ini memicu pertanyaan di sektor penerbangan sebab wilayah yang tidak boleh dilewati cukup luas.
Area tersebut membentang dari Laut Kuning yang menghadap Korea Selatan hingga ke selatan menuju perairan Laut Cina Timur yang menghadap Jepang. Peringatan ini berlaku mulai 27 Maret hingga 6 Mei 2026.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan penutupan ruang udara Cina akan berdampak pada beberapa hal, termasuk kunjungan wisatawan dari negara tersebut ke Indonesia.
“Jadi pasti tentunya akan ada dampak, misalnya berkurangnya turisme (wisatawan) dan segala macam,” kata Dudy saat ditemui usai media briefing di Jakarta, Kamis malam (9/4).
Ia mengatakan pemerintah Indonesia menyerahkan pengaturan ruang udara kepada kebijakan negara setempat. Pasalnya, setiap negara memiliki kondisi yang berbeda.
Dudy mengatakan Indonesia tidak bisa melarang negara lain untuk mengurangi penerbangan dan kondisi tersebut harus dimaklumi.
Dengan adanya potensi penurunan wisatawan asing dari Cina, pemerintah berupaya untuk menjaga kenaikan harga tiket pesawat domestik tidak terlalu tinggi. Hal ini bertujuan agar masyarakat bisa tetap bepergian, sebab wisatawan domestik menjadi bantalan pariwisata saat momentum genting seperti pandemi ataupun krisis.
“Jadi kita menjaga sedikit rupa supaya masyarakat Indonesia masih bepergian. Karena kita juga mengantisipasi kalau terjadinya pengurangan arus wisata dari mana-mana,” ujarnya.
Larangan Cina
Kementerian Pertahanan Cina dan otoritas penerbangan sipil hingga saat ini belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kabar penutupan ruang udara pada beberapa titik lepas pantai negara tersebut.
Berdasarkan informasi dari Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat, larangan terbang ini mencakup total area yang lebih luas dibandingkan pulau utama Taiwan, termasuk wilayah udara lepas pantai di utara dan selatan Shanghai. Area tersebut membentang dari Laut Kuning yang menghadap Korea Selatan hingga ke selatan menuju perairan Laut Cina Timur yang menghadap Jepang.
Beberapa latihan militer Cina sebelumnya berfokus pada penguasaan rute yang mungkin digunakan militer Amerika Serikat dalam potensi konflik terkait Taiwan.
“Wilayah udara yang dipesan tersebut dapat memberikan peluang untuk melatih manuver pertempuran udara yang diperlukan dalam skenario tersebut,” kata Direktur China Maritime Studies Institute di US Naval War College, Christopher Sharman, seperti dikutip dari Wall Street Journal, Jumat (10/4).