Prospek Bisnis Manajemen Armada Cerah, TransTrack Bidik Ekspansi ke 10 Negara
TransTRACK membidik ekspansi ke kawasan Asia Tenggara dan Timur Tengah, menargetkan penetrasi ke lebih dari sepuluh negara hingga 2028. Ekspansi seiring bertumbuhnya kebutuhan manajemen armada alias fleet management berbasis teknologi.
“Tahun lalu kita sudah ekspansi ke Singapura, Malaysia, Australia juga pasar Timur Tengah lewat Saudi Arabia dan Qatar,” kata Founder dan CEO TransTrack, Anggia Meisesari, dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Rabu (15/4).
Selanjutnya, TransTRACK akan membidik ekspansi ke Vietnam dan Thailand, serta negara Timur Tengah lainnya seperti Oman, Bahrain, dan Kuwait.
Ekspansi itu dilakukan di tengah pertumbuhan industri fleet management global yang diproyeksikan melampaui US$ 30 miliar atau setara Rp 514 triliun (kurs Rp17.140 per US$) pada 2026 dan mencapai lebih dari US$ 120 miliar atau Rp 2.056 triliun pada 2035, menurut Global Market Insights. Di Asia Tenggara, pasar masih berada pada tahap awal namun memiliki potensi pertumbuhan tinggi.
Anggia mengatakan perusahaan melihat peluang besar untuk memperluas pasar di kawasan dengan kebutuhan fleet intelligence yang terus meningkat.
“Memasuki tahun ketujuh, kami melihat momentum kuat untuk scale-up secara global, khususnya di Asia Tenggara dan Timur Tengah,” ujarnya.
TransTRACK menyediakan solusi terintegrasi untuk ekosistem logistik rantai pasok, mencakup segmen B2B dan B2G, mulai dari pemilik kargo, operator armada, hingga institusi pemerintah.
Andalkan Platform IoT dan AI
Co-Founder & CTO TransTRACK Aris Pujud Kurniawan mengatakan perusahaan mengandalkan platform berbasis Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), robotika, dan analitik data untuk meningkatkan efisiensi operasional.
“Platform kami dirancang hardware-agnostic dan integration-ready sehingga mudah diimplementasikan di berbagai ekosistem,” ujarnya.
Dari sisi kinerja, TransTRACK mencatat pendapatan sekitar US$ 45 juta atau Rp 771 miliar pada 2025 dengan model bisnis berbasis recurring revenue atau pendapatan berulang. Perusahaan juga membukukan gross margin sekitar 73%, margin bersih 20%, serta tingkat churn sebesar 0,6%.
Group CFO TransTRACK Lim Boon Wei menyatakan perusahaan akan menjaga ekspansi tetap terukur dengan mempertahankan profitabilitas.
”Model bisnis berbasis recurring revenue memberikan visibilitas yang tinggi terhadap pendapatan jangka panjang, sekaligus memungkinkan melakukan ekspansi secara terukur dengan tetap menjaga profitabilitas,” ujarnya.
Ke depan, TransTRACK juga menargetkan penetrasi ke sektor maritim, pertambangan, dan perkebunan, serta memperkuat strategi ekspansi melalui pendekatan teknologi yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing negara.