Menopang Asa Beras Nasional
Pagi itu aktivitas di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan mulai ramai. Seorang pedagang beras, Bagus (35) membuka gudangnya sekitar pukul 05.00 WIB.
Beberapa pelanggan setia Bagus mulai berdatangan sejak pagi itu, mulai dari ibu rumah tangga, pembeli borongan sampai pengusaha katering.
“Mas beras 10 kilogram ya, yang ini,” ucap seorang ibu paruh baya seraya menunjuk beras premium di hadapannya.
Karung-karung beras tersusun tinggi hingga nyaris menyentuh langit-langit toko. Di sudut ruangan, para pekerja bergantian mengangkat dan menurunkan beras yang baru datang dari gudang, lainnya melayani pembeli.
Bagus mulai memilah-milah beras dan menempatkannya sesuai dengan harga dan kualitas. Harga beras medium di tokonya paling rendah dipatok Rp 14.500 per kg, sedangkan beras premium di kisaran Rp 15.000–Rp 16.000 per kg.
Sedangkan harga eceran menggunakan takaran liter, beras standar dipatok mulai Rp 11.000-an per liter dan beras premium sekitar Rp 14.000 per liter. Selama ini stok beras gudangnya diambil dari Karawang, Solo, hingga Indramayu, lalu dijual kembali ke pasar.
"Kalau naik standar aja dan masih stabil. Penjualan sampai sekarang juga ramai, stabil," ucap Bagus ketika ditemui Katadata, Minggu (17/5) pagi.
Ibu rumah tangga asal Medan, Sekar (50) mengatakan harga beras di tempatnya masih stabil meski naik tipis dalam beberapa waktu terakhir.
“Harga beras sekitar Rp 15 ribu–Rp 16 ribu per kilo,” ujar Sekar kepada Katadata.
Sekar mengatakan kenaikan harga beras justru tidak terlalu terasa jika dibandingkan dengan bahan pangan yang naik secara bertahap. Ia mencontohkan harga dada ayam, telur, hingga sayur seperti pakcoy melonjak.
“Ayam fried chicken sampai jajan-jananan saja naik,” ucap Sekar kaget.
Ibu rumah tangga asal Semarang, Solih (55) mengatakan baru-baru ini membeli beras dengan harga sekitar Rp 15.000 per kilogram. Di momen-momen tertentu, ia biasanya membeli beras langsung 5 kilogram sekitar Rp 75 ribu.
Sedangkan di Palembang harga beras juga stabil. Tiara (28) menyebut harga beras di kota yang terkenal dengan makanan pempek itu berkisar Rp 14.000–15.000 per kilogramnya.
Stabilisasi Harga Pangan
Stabilnya harga beras di pasar belakangan menjadi sinyal keberhasilan Bulog untuk menjamin ketersediaan stok bagi masyarakat. Malahan, cadangan beras nasional saat ini mencapai rekor tertinggi sepanjang masa mencapai 5,3 juta ton.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani capaian itu telah melampaui rekor tahun-tahun sebelumnya. Di tengah penguatan stok pangan nasional, Perum Bulog membidik cadangan beras pemerintah dapat menembus 6 juta ton akhir Mei 2026.
“Mungkin nanti di akhir Mei ini bisa mencapai 6 juta ton,” kata Rizal di Jakarta, Senin (11/5).
Kenaikan stok beras itu menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, sekaligus menjaga keseimbangan harga pangan dari hulu hingga hilir.
Di satu sisi, negara berupaya melindungi pendapatan petani seiring mempertahankan harga beras yang terjangkau bagi masyarakat. Bulog tetap membeli gabah petani sesuai Instruksi Presiden di harga Rp 6.500 per kilogram.
Sementara di tingkat konsumen, Bulog menjaga stabilitas harga melalui penjualan beras sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), yakni Rp 12.500 per kilogram untuk beras medium dan Rp 14.900 per kilogram beras premium.
Berikut volume produksi padi Indonesia Gabah Kering Giling (GKG) per ton:
| Tahun | Volume Produksi Padi Indonesia (ton GKG) |
| 2012 | 69,06 Juta |
| 2013 | 71,28 Juta |
| 2014 | 70,85 Juta |
| 2015 | 75,4 Juta |
| 2016 | 79,35 Juta |
| 2017 | 81,07 Juta |
| 2018 | 59,2 Juta |
| 2019 | 54,6 Juta |
| 2020 | 54,65 Juta |
| 2021 | 54,42 Juta |
| 2022 | 54,75 Juta |
| 2023 | 53,98 juta |
| 2024 | 53,14 juta |
| 2025 | 60,21 juta |
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), Data Diolah Katadata
Menurut Rizal, peran Bulog dalam memperkuat ketahanan pangan nasional bertumpu pada tiga pilar utama. Pertama, ketersediaan dijamin dengan menjaga Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) selalu tersedia dan siap disalurkan.
“Apa pun yang terjadi, di mana-mana bangsa lain banyak mengalami kesulitan, tapi minimal kita aman dalam masalah pangan, stok Bulog berlimpah,” kata Rizal dalam Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI, 7 April 2026.
Kedua, keterjangkauan dengan memastikan distribusi pangan menjangkau masyarakat luas. Sementara pilar ketiga stabilisasi dengan Bulog menjaga harga tetap terkendali melalui program seperti Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan Gerakan Pangan Murah.
Bulog juga menjaga agar harga gabah tetap sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sehingga petani memperoleh kepastian dan perlindungan atas hasil panennya.
Menurut Rizal, realisasi pengadaan gabah dan beras Bulog hingga 5 April 2026 telah mencapai sekitar 1,6 juta ton dari target 4 juta ton, tertinggi dalam sejarah RI.
BPS melalui Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono, melaporkan produksi produksi beras nasional sepanjang semester I 2026 diperkirakan mencapai 19,31 juta ton. Angka itu naik 0,05 juta ton atau 0,26% dibandingkan 2025 sebesar 19,26 juta ton.
Sementara potensi produksi beras diperkirakan mencapai 9,61 juta ton. Dari sisi produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG), total produksi Januari–Juni 2026 diperkirakan mencapai 33,52 juta ton GKG atau meningkat 0,09 juta ton.
Manuver di Tengah Tantangan El Nino
Di balik melimpahnya stok beras nasional, tantangan baru mulai membayangi RI. Pemerintah kini berpacu menjaga momentum ketahanan pangan di tengah potensi El Nino yang diperkirakan kembali pada musim kemarau panjang pada semester kedua 2026.
Rizal mengatakan Bulog menyiapkan berbagai mitigasi untuk menjaga ketahanan pangan. Mulai dari penguatan deteksi dini cuaca, optimalisasi distribusi dan cadangan pangan, hingga koordinasi dengan kementerian, TNI-Polri, BUMN pangan, dan sektor swasta logistik.
Kemudian Bulog bersama Bapanas dan Satgas Pangan Polri memantau harga pangan di pasar tradisional hingga tiga kali sepekan melalui SP2KP demi menjaga stabilitas harga di masyarakat.
“Kami monitoring di pabrik-pabrik, produsen juga kami cek agar harganya juga sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) maupun Harga Acuan Penjualan (HAP),” ucap Rizal.
Selain itu Bulog menyiapkan operasi pasar dan penyaluran bantuan pangan untuk menjaga stabilitas harga, sekaligus memperkuat antisipasi kebakaran saat musim kemarau panjang.
Ia mengatakan berkaca menghadapi El Nino 2024 menjadi modal penting. Saat itu Indonesia berhasil menjaga ketahanan pangan dan tetap mencapai swasembada.
“Bulog siap menghadapi dinamika global dan potensi perubahan iklim dengan menerapkan strategi dan langkah-langkah antisipasi,” ungkap Rizal.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai stok beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog bisa menjadi bantalan Indonesia menghadapi ancaman krisis pangan global dan gangguan pasokan akibat konflik geopolitik. Dalam kondisi normal, cadangan aman diperkirakan berada di level 2–3 juta ton, namun dapat ditingkatkan hingga 4 juta ton untuk mengantisipasi risiko El Nino.
Menurutnya, jika stok beras Bulog sudah melampaui batas aman tersebut, ekspor kelebihan cadangan menjadi langkah yang wajar dan strategis.
“Sebab beras akan rusak jika disimpan lebih dari 12 bulan,” ucap Wijayanto kepada Katadata.co.id, Senin (18/5).
Swasembada Pangan hingga Ditutupnya Pintu Impor Beras
Ketahanan pangan nasional telah memasuki babak baru. Di tengah tekanan geopolitik, Indonesia memperkuat swasembada dan hingga kini telah menutup keran impor beras.
Kondisi ini berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya kala RI masih mendatangkan jutaan ton dari sejumlah negara produsen utama seperti Thailand dan Vietnam saat tekanan El Niño dan gangguan pangan global memuncak pada 2023–2024.
Kini Indonesia justru mengalami surplus beras hingga tak ada lagi impor sejak 2025 hingga sekarang. Stok awal tahun atau carry over dari 2025 mencapai 12,4 juta ton, sementara stok beras nasional hingga akhir 2026 diperkirakan tetap tinggi di level 16,1 juta ton. Kebutuhan konsumsi beras nasional sebesar 31,1 juta ton pun diproyeksikan dapat dipenuhi dari produksi beras tahun ini yang mencapai 34,76 juta ton.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan keberhasilan Indonesia menjaga produksi dan cadangan pangan nasional mulai menarik perhatian dunia. Di tengah krisis pangan global dan pengetatan ekspor dari sejumlah negara produsen, banyak negara disebut mulai meminta pasokan beras dari Indonesia.
“Sekarang banyak negara minta beli beras dari RI, tetangga yang menganggap dirinya lebih hebat dari kita sekarang datang ke Indonesia minta beli beras,” ujarnya.
Pemerintah optimistis kebangkitan sektor pertanian berlanjut, memperkuat posisi Indonesia sebagai lumbung pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.