Kadin: PHK Opsi Terakhir, tapi Tekanan Rupiah Bisa Ganggu Penyerapan Naker
Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi tekanan serius bagi dunia usaha. Hal itu berpotensi mengganggu penyerapan tenaga kerja (naker) apabila berlangsung dalam jangka panjang.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kamar Dagang Dan Industri (Kadin) Indonesia, Erwin Aksa mengatakan, pelemahan rupiah memberikan dampak langsung terhadap sektor industri yang masih bergantung pada impor.
Kenaikan kurs dolar AS otomatis meningkatkan biaya produksi dan mempersempit margin usaha. “Khususnya industri yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku, mesin, dan komponen impor,” ujar Erwin kepada Katadata.co.id. Jumat (5/6).
Sektor yang rentan terdampak antara lain industri elektronik, tekstil dan garmen, farmasi, petrokimia, plastik, otomotif, hingga industri makanan dan minuman tertentu yang masih mengandalkan impor bahan penolong.
“Kenaikan kurs sangat terasa pada industri yang menggunakan bahan baku impor dalam porsi besar. Jadi betul, pelemahan rupiah pada akhirnya menekan biaya belanja bahan baku dan cash flow perusahaan,” katanya.
Pelemahan nilai tukar rupiah menekan pelaku usaha untuk melakukan berbagai langkah mitigasi dalam menjaga keberlangsungan bisnis. Strateginya antara lain efisinsi, operasional, renegosisasi kontrak pembelian bahan baku, diversifikasi sumber pasokan, hingga menahan ekspansi usaha.
Sebagian perusahaan juga mulai menyesuaikan harga jual produk. Namun, menurut Erwin, tidak semua sektor memiliki ruang untuk melakukan kenaikan harga karena daya beli masyarakat masih berada dalam tekanan.
PHK Bukan Opsi Pertama
Kendati demikian, Erwin menegaskan pemutusan hubungan kerja (PHK) bukan pilihan utama yang akan diambil pelaku usaha. Sebab, pelaku usaha akan berupaya mempertahankan tenaga kerja selama masih memungkinkan.
“Dunia usaha pasti akan berupaya menjaga agar PHK menjadi opsi terakhir,” kata Erwin.
Namun, apabila tekanan biaya akibat pelemahan rupiah berlangsung terlalu lama tanpa adanya stabilisasi, risiko terhadap pasar tenaga kerja dinilai akan meningkat.
Tekanan biaya yang berkepanjangan berpotensi mendorong perusahaan melakukan langkah efisiensi lain, seperti pengurangan jam kerja, penundaan rekrutmen pegawai baru, hingga pengurangan tenaga kerja di sektor-sektor tertentu.
Kelompok industri yang tercatat paling rentan terdampak adalah sektor padat karya yang berorientasi pada pasar domestik dan memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor. Sektor-sektor tersebut tidak memperoleh manfaat signifikan dari pelemahan rupiah karena sebagian besar penjualannya dilakukan di pasar dalam negeri.
Sementara itu, sektor berbasis ekspor memang berpotensi memperoleh tambahan pendapatan akibat pelemahan rupiah. Namun, keuntungan tersebut tidak selalu besar karena sebagian biaya produksinya juga masih bergantung pada impor bahan baku dan komponen.
Untuk meredam dampak pelemahan rupiah terhadap dunia usaha, pemerintah dan otoritas moneter terus menjaga stabilitas nilai tukar serta kepercayaan pasar. Langkah struktural untuk mengurangi ketergantungan industri terhadap bahan impor juga diperlukan.
Upaya itu dapat dilakukan melalui percepatan program substitusi impor, pemberian insentif bagi industri domestik, kemudahan akses pembiayaan, hingga deregulasi untuk menekan biaya produksi.