Bahan Baku Lokal Melimpah, Industri Makanan dan Minuman Masih Andalkan Impor
Asosiasi industri makanan dan minuman mendorong pemerintah mempercepat pembangunan industri antara (intermediate industry) agar bahan baku lokal siap dipakai untuk kebutuhan di dalam negeri.
Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman mengatakan industri makanan dan minuman mengadapi tantangan berupa biaya produksi yang tinggi karena bahan baku lokal belum mampu memenuhi kebutuhan industri. Akibatnya, pelaku usaha masih bergantung pada impor dan rentan terhadap pelemahan nilai tukar rupiah serta kenaikan biaya logistik.
Adhi menyebut Indonesia sebenarnya memiliki sumber daya lokal yang melimpah. Namun, sebagian besar belum dapat langsung dimanfaatkan sebagai bahan baku industri karena belum melalui proses pengolahan (intermediate) yang sesuai dengan standar industri.
"Kesiapan bahan lokal untuk siap menjadi bahan baku industri itu masih kurang. Jadi proses intermediate ini yang perlu kita dorong," ujar Adhi dalam konferensi pers Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia, di Jakarta Selatan, Kamis (2/7).
Akibat belum siapnya bahan baku lokal, industri masih bergantung pada pasokan impor untuk memenuhi kebutuhan produksi. Kondisi itu menjadi tantangan utama bagi industri makanan dan minuman, terutama ketika rupiah mengalami pelemahan. Ketergantungan terhadap impor membuat industri rentan terhadap fluktuasi nilai tukar. Ketika rupiah melemah, biaya pengadaan bahan baku ikut meningkat. Di saat yang sama, pelaku usaha juga menghadapi kenaikan ongkos logistik yang semakin menekan biaya produksi.
"Bahan-bahan kita harus diimpor, belum lagi masalah logistik yang makin mahal. Inilah yang harus kita benahi bersama-sama dengan pemerintah," ujarnya.
Di sisi lain, ruang pelaku usaha untuk menaikkan harga jual juga semakin terbatas karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini membuat industri harus menanggung kenaikan biaya produksi tanpa dapat sepenuhnya meneruskannya kepada konsumen, sehingga margin keuntungan ikut tergerus.
Karena itu, GAPMMI mendorong pemerintah mempercepat pengembangan industri antara (intermediate industry) agar bahan baku lokal dapat diolah menjadi bahan baku siap pakai yang memenuhi kebutuhan industri. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus memperkuat daya saing industri nasional.
Adhi juga berharap semakin banyak pemasok lokal yang mampu menyediakan bahan baku dengan kualitas yang konsisten. Menurutnya, keberadaan lebih banyak vendor domestik akan memudahkan industri memperoleh bahan baku sesuai spesifikasi yang dibutuhkan.
Peluang di Balik Kebutuhan Impor
Sementara itu, Direktur South East Asia Food and Agriculture Science & Technology (SEAFAST) Center LRI PGKH IPB, Puspo Edi Giriwono, menilai impor tidak selalu harus dipandang sebagai kelemahan. Hal ini sebab ada peluang bagi industri untuk mengekspor produk jadi yang sudah memiliki nilai tambah yang tinggi.
"Yang perlu didorong adalah value added-nya. Negara-negara industri mengimpor bahan baku yang pasokannya berkelanjutan dan mutunya baik, kemudian diproses lagi menjadi produk intermediate yang mereka kuasai," ujarnya dalam gelaran acara yang sama.
Meski demikian, ia menekankan Indonesia perlu memperbesar porsi pengolahan bahan baku di dalam negeri agar nilai tambah tercipta di domestik. Sebab, tidak semua kebutuhan industri dapat dipenuhi dari sumber daya lokal, sehingga impor masih akan menjadi bagian dari rantai pasok.
"Yang penting adalah hasil impor itu diproses di Indonesia sehingga menghasilkan nilai tambah. Value added ini yang harus kita kuasai," kata Puspo.