Tren Konsumen Bergeser, Industri Pangan Didorong Perkuat Standar Produk
Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, perubahan perilaku konsumen mendorong industri makanan dan minuman (mamin) meningkatkan kualitas produknya. Konsumen tidak lagi hanya melihat rasa dan daya simpan, tetapi juga memperhatikan kandungan gizi, keamanan pangan, transparansi informasi, serta dampak produk terhadap lingkungan.
Ia mengatakan pelaku industri tidak lagi cukup hanya memenuhi standar minimum yang ditetapkan pemerintah. Industri harus meningkatkan kualitas, keamanan, dan nilai gizin produk agar tetap diminati konsumen.
"Hal ini agar dapat menjawab tantangan kesehatan masyarakat sekaligus menjaga daya saing industri," ujar Adhi dalam konferensi pers Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia, di Jakarta Selatan, Kamis (2/7).
Standar baru ini disebut muncul menyusul peralihan tren masyarakat yang mulai berminat terhadap tren gaya hidup sehat. Ia menjelaskan, sekitar 60% penduduk Indonesia saat ini didominasi oleh generasi milenial, Gen Z, dan ke depan akan disusul Gen Alpha. Kelompok usia itu dinilai memiliki kepedulian yang lebih tinggi terhadap aspek kesehatan dalam memilih makanan dan minuman.
Misalnya, konsumen generasi muda kini semakin terbiasa membaca label kemasan dan memperhatikan bahan baku, hingga mencari kandungan gizi untuk membeli suatu produk. Atas alasan itu, sinergi antara industri, regulator, dan lembaga ilmiah diperlukan agar penerapan standar bermutu bisa berlangsung secara berkelanjutan.
Senada dengan Adhi, Direktur South East Asia Food and Agriculture Science & Technology (SEAFAST) Center LRI PGKH IPB, Puspo Edi Giriwono, mengatakan peningkatan mutu pangan harus dilakukan di seluruh rantai produksi, mulai dari bahan baku hingga produk sampai ke tangan konsumen (from farm to table).
Menurutnya, hal itu dapat dilakukan dengan memperketat pengawasan bahan baku, memperbaiki proses produksi, serta memanfaatkan teknologi dan inovasi berbasis sains.
"Tujuannya bukan hanya memastikan pangan aman dikonsumsi, tetapi juga meningkatkan nilai gizi, daya saing produk, dan memberikan manfaat bagi perekonomian," kata Puspo.
Penggunaan teknologi yang lebih baik juga bisa membantu mengurangi risiko keamanan pangan sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk makanan olahan.
Untuk mendorong inovasi dan peningkatan standar industri, pelaku usaha juga memperkuat kolaborasi melalui penyelenggaraan Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia 2026 pada 16–18 September 2026. Pameran ini akan mempertemukan pelaku industri, akademisi, pemerintah, dan pemasok bahan baku dalam satu forum untuk memperkenalkan inovasi terbaru sekaligus membahas pengembangan industri pangan.
Ajang tersebut ditargetkan diikuti lebih dari 700 merek internasional dengan sekitar 24.000 pengunjung. Selain itu, lebih dari 10 paviliun negara, seperti Kanada, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, dan Uni Eropa, akan berpartisipasi menampilkan inovasi bahan baku dan teknologi pangan terkini.