Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026 mempertemukan lebih dari 2.700 delegasi dari 760 perusahaan di 67 negara di Bali pada 25–28 Agustus 2026. Forum ini membahas penguatan konektivitas, infrastruktur cloud, dan kecerdasan buatan (AI) di kawasan Asia Pasifik.

“Membangun masa depan digital mengharuskan kita memperkuat fondasi, mengadopsi kecerdasan, dan berkolaborasi di seluruh ekosistem,” kata Presiden Direktur Telkom Indonesia Dian Siswarini melalui keterangan resmi, Senin (31/8).

Menurut Dian, kolaborasi tersebut diperlukan untuk mengubah konektivitas menjadi inovasi, peluang ekonomi, dan pertumbuhan digital yang berkelanjutan.

Mengusung tema Uniting Ecosystem to Drive Connected Progress, BATIC 2026 juga diikuti 72 sponsor dan peserta pameran. Selama penyelenggaraan, lebih dari 4.500 pertemuan dijadwalkan melalui aplikasi BATIC.

Konferensi hari pertama berfokus kepada penguatan fondasi konektivitas global. Dalam pidato pembukanya, Dian membahas peran jaringan generasi baru, otomatisasi berbasis AI, dan infrastruktur digital dalam membuka peluang pertumbuhan ekonomi.

Pembahasan berlanjut melalui panel mengenai investasi infrastruktur kabel bawah laut dan serat optik. Panel yang menghadirkan perwakilan Telkom Indonesia, Airtel, BW Digital, HSBC, Alcatel Submarine Networks, Digital Realty, dan PCCW Global itu mengulas kebutuhan investasi, model pendanaan, mitigasi risiko, serta kolaborasi lintas industri.

Dr. Yin Mingming dari China Mobile International turut memaparkan pembelajaran dari penerapan AI di perusahaan. Sementara itu, CEO Telin Abdul Rahman Ansyori bersama perwakilan e&, Mobile Ecosystem Forum, CPaaSAA, Orange, SBTS, dan Google membahas pengaruh AI dan kemitraan strategis terhadap masa depan industri komunikasi.

Sesi lainnya menghadirkan Praveen Kumar dari Nokia yang membahas perkembangan jaringan optik pada era AI. Telin dan Global Leaders’ Forum (GLF) juga menggelar pertemuan tertutup bagi para eksekutif untuk membahas investasi, rantai pasok, kolaborasi industri, dan akses energi bagi infrastruktur berbasis AI.

Pemerintah Tekankan Keamanan Ekosistem Digital

Konferensi hari kedua menyoroti peran cloud dan AI dalam transformasi ekonomi Asia Pasifik.

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Edwin Hidayat Abdullah mengatakan, transformasi digital Indonesia harus ditopang oleh inovasi, infrastruktur, dan kepercayaan publik.

“Hal ini membutuhkan ekosistem digital yang kuat, aman, dan inklusif, yang didukung kolaborasi erat antara pemerintah, industri, dan masyarakat,” ujar Edwin.

Menurut dia, kolaborasi diperlukan agar kemajuan teknologi dapat mendorong pertumbuhan berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Pembahasan mengenai infrastruktur dilanjutkan melalui diskusi bersama Herson Suindah dari SM+ Holdings dan Michael McPhail dari MoraRepublic mengenai peran pusat data dan konektivitas pada era AI. Pendiri DCI Indonesia Toto Sugiri juga memaparkan faktor yang mendorong permintaan layanan cloud di kawasan.

Sementara itu, pendiri dan CEO LARUS Lu Heng membahas perkembangan Bring Your Own IP atau BYOIP sebagai layanan strategis bagi penyedia cloud, konektivitas, dan pusat data.

Sejumlah pemimpin industri juga membahas adopsi cloud, integrasi AI, investasi, dan kemitraan dalam panel bertajuk From Demand to Impact: The Next Phase of Cloud Innovation and Adoption in APAC.

Program utama ditutup oleh Chief Growth Officer iBASIS Nicolas Barret yang menyoroti peran kolaborasi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital Asia Pasifik.

Di luar konferensi utama, BATIC 2026 menggelar sejumlah kegiatan pendamping sejak 24 hingga 27 Agustus. Rangkaian tersebut mencakup lokakarya Mplify, Future Tech Leaders Summit, Leadership Summit, sesi i3Forum, lokakarya TM Forum, dan Mplify Southeast Asia Council Meeting.

Lima Kesepakatan Strategis

BATIC 2026 juga menghasilkan lima penandatanganan kerja sama strategis, yaitu:

  • Letter of Intent antara Telin dan PEACE mengenai ekspansi PEACE;
  • manifesto Open API dan Open Digital Architecture antara Telin dan TM Forum;
  • nota kesepahaman kemitraan strategis antara Telin dan SM+;
  • nota kesepahaman antara Telin dan GTI terkait kapasitas serta konektivitas proyek BSC Fiber Pair; dan
  • nota kesepahaman antara Telin dan Mitratel mengenai penjajakan transaksi aset Telin di Timor-Leste.

CEO Telin Abdul Rahman Ansyori mengatakan, kesepakatan tersebut menjadi salah satu upaya menerjemahkan pembahasan selama konferensi menjadi kerja sama konkret.

“Seiring konektivitas berkembang menuju masa depan yang didorong AI, industri perlu bekerja bersama di seluruh ekosistem infrastruktur, teknologi, dan bisnis untuk membangun fondasi digital yang tangguh, terukur, dan inklusif,” kata Abdul Rahman.

Adapun, BATIC 2026 berlangsung di tengah penanganan dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur. Konferensi tetap digelar karena aktivitas di Bali dan kawasan Nusa Dua berjalan normal.

Penyelenggara akan menyalurkan donasi sebesar US$10 ribu untuk membantu pemulihan masyarakat terdampak gempa. Dana tersebut dihimpun dari pendapatan registrasi peserta dan sponsor BATIC 2026.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.