Industri Baja Hadapi Tekanan Permintaan dan Impor di Tengah Kontraksi PMI RI

ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz
Pekerja memeriksa baja lapis seng milik PT AM/NS yang akan di ekspor ke Amerika Serikat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (30/4/2025).
Penulis: Kamila Meilina
Editor: Ahmad Islamy
8/9/2026, 13.04 WIB

Industri besi dan baja nasional masih menghadapi tekanan pada paruh kedua 2026. Kondisi tersebut terjadi di tengah kembali melemahnya aktivitas manufaktur nasional.

Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali turun ke level 49,8 pada Agustus 2026, setelah sempat pulih ke zona ekspansi pada bulan sebelumnya. PMI di bawah level 50 menunjukkan aktivitas manufaktur kembali mengalami kontraksi.

Di tengah kondisi tersebut, utilisasi produksi industri baja nasional saat ini baru berada di kisaran 52,7%. Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA), Harry Warganegara, menilai rendahnya utilisasi tersebut perlu menjadi perhatian. Sebab, industri baja menjadi salah satu industri dasar yang memasok kebutuhan berbagai sektor, seperti konstruksi, infrastruktur, manufaktur, otomotif, hingga industri barang modal.

Peningkatan utilisasi produksi sangat bergantung pada penguatan permintaan domestik. Dengan kapasitas produksi baja nasional yang sudah cukup besar, pertumbuhan pasar dalam negeri menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan industri.

"Tingkat utilisasi industri baja nasional saat ini masih berada pada kisaran 52,7%, meskipun tingkat utilisasi dapat berbeda pada setiap segmen produk dan masing-masing perusahaan," ujar Harry kepada Katadata.co.id, dikutip Selasa (8/9). 

Permintaan Domestik Masih Lemah

Tekanan terhadap industri baja terjadi tatkala aktivitas manufaktur nasional kembali mengalami kontraksi pada Agustus 2026. Kondisi itu turut memengaruhi penyerapan produk baja di dalam negeri.

IISIA menyatakan, permintaan domestik yang belum kuat menjadi salah satu tantangan utama industri saat ini. Aktivitas industri dan konstruksi yang belum sepenuhnya pulih membuat konsumen maupun pelaku usaha lebih berhati-hati dalam melakukan pembelian.

Padahal, kebutuhan baja nasional dinilai masih cukup besar, terutama untuk pembangunan infrastruktur, perumahan, konstruksi, transportasi, energi, otomotif, dan pengembangan manufaktur.

"Serapan domestik memang masih menghadapi tekanan. Aktivitas industri dan konstruksi yang belum sepenuhnya kuat membuat konsumen dan pelaku usaha cenderung lebih berhati-hati," kata Harry.

Karena itu, kalangan industri menilai kebutuhan baja tersebut perlu diterjemahkan menjadi permintaan efektif yang dapat diserap oleh produsen dalam negeri. Percepatan pembangunan dan penguatan sektor pengguna baja dinilai penting untuk meningkatkan utilisasi industri.

Selain lemahnya permintaan, persaingan dengan produk impor juga menjadi perhatian industri baja nasional.

Ia menilai impor tetap diperlukan untuk memenuhi kebutuhan produk atau spesifikasi tertentu yang belum dapat diproduksi di dalam negeri. Namun, perdagangan harus dilakukan secara sehat agar industri domestik memiliki kesempatan bersaing yang setara.

Selain impor, industri baja juga menghadapi tekanan dari biaya energi, harga bahan baku, biaya logistik, harga baja global, serta kepastian regulasi.

Berbagai faktor tersebut dapat memengaruhi biaya produksi dan daya saing industri baja nasional.

Produksi dan Investasi Lebih Hati-hati

Rendahnya permintaan dan utilisasi juga membuat pelaku industri lebih berhati-hati dalam menentukan volume produksi maupun investasi pada paruh kedua tahun ini. Harry menyebut produksi akan disesuaikan dengan perkembangan permintaan untuk menjaga efisiensi sekaligus mencegah penumpukan stok.

Sementara itu, komitmen investasi industri masih tetap ada, terutama untuk pengembangan hilirisasi, efisiensi produksi, dan produk bernilai tambah. Namun, pelaku usaha membutuhkan kepastian mengenai prospek pasar dan iklim investasi sebelum merealisasikan investasi.

"Ketika permintaan belum cukup kuat dan utilisasi masih tertekan, pelaku industri akan lebih berhati-hati dalam menentukan volume produksi maupun investasi," ujarnya.

Ia pun mendorong adanya penguatan jaminan permintaan atau demand assurance, antara lain melalui peningkatan penggunaan produk dalam negeri, percepatan proyek strategis dan konstruksi, serta penciptaan persaingan yang setara antara produk baja domestik dan impor.

Dengan penguatan permintaan tersebut, industri berharap pertumbuhan pasar dapat mendorong peningkatan produksi, utilisasi, sekaligus investasi industri baja nasional.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina