Penerbangan di Papua Barat Dibatalkan Imbas Kabut Asap Kebakaran Hutan
Unit Penyelenggara Bandar Udara Kelas II Rendani Manokwari, Papua Barat mengungkapkan seluruh jadwal penerbangan dari dan menuju Bandara Rendani terpaksa dibatalkan karena kabut asap mengurangi jarak pandang pilot pada Selasa (6/10). Penerbangan Sorong juga sudah terganggu selama dua hari.
Kepala UPBU Kelas II Rendani Manokwari Herman Sujito di Manokwari, mengatakan ketebalan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak terhadap jarak pandang yang tidak memenuhi ketentuan keselamatan operasional.
“Hari ini semua rute penerbangan dibatalkan karena jarak pandang saat pagi hari itu hanya sekitar 3 kilometer, dan siangnya hanya 1 kilometer saja,” ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa rute penerbangan komersial yang terdampak meliputi, Jakarta-Manokwari, Makassar-Manokwari, Manokwari-Sorong, Kaimana-Manokwari, Jayapura-Manokwari, dan Nabire-Manokwari.
Selain itu terdapat tiga rute penerbangan perintis siang hari yang juga dibatalkan karena membahayakan keselamatan operasional, yaitu penerbangan Wasior-Manokwari, Manokwari-Kambuaya, dan Manokwari-Teminabuan.
“Penerbangan komersial maupun perintis tidak bisa beroperasi, karena jarak pandang di bawah ketentuan keselamatan operasional,” kata Herman.
Dia berharap masyarakat pengguna jasa transportasi udara memahami situasi yang berada di luar kendali manusia, karena pembatalan penerbangan dilakukan untuk menjamin keselamatan penumpang maupun awak pesawat.
UPBU Rendani terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau perkembangan kondisi cuaca sebagai dasar bagi maskapai kembali mengoperasikan penerbangan dari dan menuju Manokwari.
“Kami tentu berharap kondisi kabut asap segera membaik sehingga aktivitas penerbangan dapat kembali normal,” ujarnya.
Ari Pomanto, salah satu penumpang rute Manokwari-Jakarta menyebut pihak maskapai telah menginformasikan pembatalan sekaligus memberikan perubahan jadwal baru untuk Kamis (7/10) guna mengantisipasi kondisi yang sama pada Rabu.
“Saya harusnya berangkat siang ini tapi batal dan dipindahkan ke Kamis. Kalau mau refund juga bisa tapi ada potongan 10 persen,” ucapnya.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua Barat Danang Tri Soesilo menjelaskan, kabut asap yang menyelimuti Manokwari juga dipengaruhi karhutla di Papua Selatan, dan Papua Nugini (PNG).
Asap kiriman dari Papua Selatan dan PNG mempertebal kabut asap akibat karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Papua Barat, antara lain Kabupaten Manokwari Selatan, Teluk Bintuni, Kaimana, dan Fakfak.
"Termasuk juga karhutla dari Maybrat, Papua Barat Daya yang asapnya kena sampai ke Manokwari,” ujarnya.
Terganggu Dua Hari
AirNav Indonesia Cabang Sorong menyebut kabut asap yang terjadi selama dua hari terakhir telah mengganggu sejumlah penerbangan di Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Sorong, Papua Barat Daya.
Manajer Operasi Tower 1 AirNav Indonesia Cabang Sorong Hery Purnomo di Sorong, Selasa, mengatakan gangguan terutama terjadi pada pagi hari ketika jarak pandang menurun hingga sekitar 2.000 meter berdasarkan laporan meteorologi.
"Dampaknya kemarin pagi ada tiga pesawat yang tidak bisa masuk ke Sorong, dua divert ke Biak dan satu divert ke Ambon," katanya.
Ia menjelaskan kondisi serupa kembali terjadi pada Selasa pagi. Kabut asap yang dinilai lebih pekat menyebabkan dua penerbangan rute Jakarta-Sorong, yakni Garuda Indonesia dan Batik Air, tidak dapat mendarat di Bandara DEO.
"Kedua penerbangan itu tidak bisa masuk ke Sorong dan memutuskan divert ke Ambon," ujarnya.
Menurut Hery, kondisi jarak pandang kemudian membaik pada siang hari hingga sekitar 3.000 meter. Pesawat yang sebelumnya dialihkan ke Ambon selanjutnya dapat melanjutkan penerbangan menuju Sorong.
"Teman-teman bisa melihat, tadi pesawat Batik, Garuda dan TransNusa dari Manado sudah bisa mendarat di Sorong," katanya.
Selain penerbangan menuju Sorong, kabut asap juga berdampak terhadap penerbangan dari Sorong menuju Manokwari.
Hery menambahkan kabut asap tidak hanya menyebabkan pengalihan penerbangan, tetapi juga keterlambatan jadwal penerbangan.
"Yang jelas dengan kabut asap ini jadwal penerbangan ada yang terganggu, yang jelas ter-delay," ujarnya.
AirNav Indonesia, kata dia, terus memantau kondisi cuaca dan jarak pandang berdasarkan informasi dari BMKG sebagai dasar dalam memberikan pelayanan navigasi penerbangan.
"Kami sebagai operator yang memberikan pelayanan navigasi penerbangan menggunakan prediksi dari BMKG," katanya.
Ia berharap kondisi jarak pandang, khususnya pada pagi hari, dapat segera membaik sehingga operasional penerbangan di Bandara DEO Sorong kembali berjalan normal.