Afrika Selatan Tunda Penggunaan Vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca

AstraZeneca
Ilustrasi, vaksin virus corona yang dikembangkan AstraZeneca. Afrika Selatan menunda penggunaan vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca.
8/2/2021, 12.07 WIB

Afrika Selatan akan menangguhkan penggunaan vaksin virus corona yang dikembangkan AstraZeneca. Keputusan itu diambil setelah hasil uji coba menunjukkan vaksin tersebut kurang efektif melawan varian Covid-19 di Afrika Selatan. 

Sebelum muncul varian baru Afrika Selatan, vaksin yang dikembangkan AstraZeneca menunjukkan kemanjuran sekitar 75%. Namun, dalam studi selanjutnya terhadap varian baru, vaksin AstraZeneca hanya mampu menurunkan risiko terpapar Covid-19 gejala ringan hingga sedang sebesar 22%.

Angka tersebut jauh di bawah standar WHO yang mematok efektivitas vaksin di atas 50%. Selain itu, uji coba tersebut tidak bisa menunjukkan efektivitas vaksin dalam mencegah Covid-19 gejala berat.

Itu lantaran peserta uji coba merupakan orang dewasa muda yang dianggap tidak berisiko tinggi terhadap penyakit serius. Terkait hal tersebut, AstraZeneca tetap mengklaim bahwa vaksinnya mampu memberi perlindungan terhadap Covid-19 dengan gejala berat dan dapat melawan varian 501Y.V2.

Meski begitu, Pemerintah Afrika Selatan tetap memutuskan menunda penggunaan vaksin AstraZeneca. Menteri Kesehatan Zweli Mkhize mengatakan pada Minggu (7/2) bahwa negaranya akan menggunakan vaksin dari Johnson & Johnson dan Pfizer / BioNTech. Vaksin tersebut akan tiba dalam beberapa pekan ke depan.

“Selama empat minggu ke depan, kami perkirakan akan ada vaksin J&J dan Pfizer,”  ujar Mkhize dikutip dari Reuters pada Senin (8/2).

Afrika Selatan menargetkan dapat memvaksinasi 40 juta orang, atau dua pertiga populasi, untuk mencapai kekebalan kelompok. Program vaksinasi itu rencananya dimulai setelah 1 juta dosis vaksin AstraZeneca tiba di negara tersebut pada pekan lalu.

Namun, hasil uji coba terbaru merubah rencana program vaksinasi di Afrika Selatan.  Meski begitu, Afrika Selatan tidak akan membuang vaksin tersebut.

Wakil Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Afrika Selatann Anban Pillay mengatakan pihaknya akan meminta pertukaran vaksin AstraZeneca dengan masa kadeluwarsa yang lebih panjang.  Sebab, ada kemungkinan vaksin tersebut masih bisa digunakan untuk mencegah Covid-19. Peneliti utama pada uji coba AstraZeneca di Afrika Selatan, Prof. Shabir Madhi, mengatakan vaksin tersebut mungkin masih memberikan perlindungan dari gejala Covid-19 yang parah. 

Di sisi lain, Profesor Salim Abdool Karim, seorang ahli epidemiologi yang menjadi penasihat pemerintah, mengingatkan agar program vaksinasi dilaksanakan dengan pendekatan yang baru. Salah satunya terkait efektivitas vaksin terhadap varian 501Y.V2.

Efektivitas vaksin tersebut dapat diukur dari berkurangnya orang yang rawat inap di rumah sakit. Jika tidak efektif dalam mengurangi rawat inap, individu yang menerimanya harus ditawarkan vaksin lain atau booster berdasarkan varian. Adapun varian 501.Y.V2 telah menyebabkan gelombang kedua infeksi Covid-19 sejak akhir tahun lalu di sana.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan