Omicron Mengganas, Kasus Harian Covid-19 Tokyo Tembus Rekor 20 Ribu

ANTARA FOTO/REUTERS/Kim Kyung-Hoon/hp/cfo
Para perempuan memakai kimono dan masker pelindung melakukan swafoto setelah upacara perayaan Hari Kedewasaan, di tengah penyebaran penyakit virus korona (COVID-19), di Tokyo, Jepang, Senin (10/1/2022).
Penulis: Andi M. Arief
Editor: Maesaroh
3/2/2022, 08.25 WIB

 Kasus harian Covid-19 di Tokyo, Jepang, pada Rabu (2/2), menembus 21.576 atau menjadi yang tertinggi sejak pandemi Covid-19, Lonjakan kasus disebabkan penyebaran kasus Covid-19 varian Omicron.

Kementerian Kesehatan Jepang menginstruksikan agar anggota keluarga yang melakukan kontak dengan anggota keluarga lain yang terjangkit Covid-19 untuk melakukan isolasi mandiri (isoman) selama tujuh hari pasca menunjukan gejala atau tindakan medis pencegahan.

Dilansir dari Channel News Asia, jumlah kasus harian Covid-19 di Tokyo yang mencapai 21.576 kasus, melampui rekor sebelumnya per Jumat (28/1) sebanyak 17.631. 

Pada saat yang sama, jumlah kasus di Osaka tercatat susut menjadi 11.171 kasus. Dengan demikian, rekor kasus Covid-19 di Osaka masih di angka 11.881 per 1 Februari 2022. 

 Selain Tokyo, sebanyak 18 dari 47 prefektur di Negeri Sakura mencetak rekor kasus harian tertinggi sepanjang masa per Rabu (2/2). Secara total, kasus harian di Jepang per Rabu (2/2) telah mencapai 91.760 kasus. 

Ibu Kota Jepang saat ini dalam pembatasan untuk menekan angka penyebaran Covid-19.

Pasalnya, gelombang lonjakan kasus Covid-19 saat ini disebabkan varian Omicron yang memiliki tingkat keterjangkitan yang lebih tinggi.  

Berdasarkan data GISAID, kasus Omicron mencapai 8.148 atau menempati urusan ke-9 dalam daftar negara dengan kasus Omicron tertinggi.

Menteri Kesehatan Jepang Shigeyuki Goto mengatakan jumlah kasus Covid-19 ada anak-anak bertambah. Oleh karena itu, penyebaran ke orang dewasa didalam rumah yang melakukan kontak dekat juga melesat dan terpaksa melakukan Isoman. 

"Kami harus menjaga kegiatan sosial-ekonomi sementara menjaga penyebaran infeksi (Covid-19)," kata Goto. 

 Oleh karena itu, Goto telah menginstruksikan periode siaga bagi orang yang melakukan kontak dekat dengan pasien Covid-19 diubah menjadi 7 hari sejak terkonfirmasi terjangkit COvid-19 atau sejak mendapatkan tindakan pencegahan penyebaran.

Waktu Isoman akan dimulai selambatnya sejak orang yang melakukan kontak dekat mendapatkan tindakan pencegahan  penyebaran Covid-19. 

Saat ini, okupansi tempat tidur yang disiapkan untuk pasien COvid-19 di rumah sakit telah mencapai 51,4%.

Pemerintah Jepang sebelumnya menginstruksikan untuk masuk ke situasi darurat saat okupansi tempat tidur khusus pasien Covid-19 telah menembus level 50%. 

Namun demikian, kebijakan itu telah dirubah oleh pemerintah. 

Chief Cabinet Secretary Hirozaku Matsuno mengatakan pemerintah tidak berencana untuk mengumumkan keadaan darurat. namun demikian, pemerintah akan tetap waspada. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief