Omicron Mengganas, Kasus Harian Covid-19 Tokyo Tembus Rekor 20 Ribu
Kasus harian Covid-19 di Tokyo, Jepang, pada Rabu (2/2), menembus 21.576 atau menjadi yang tertinggi sejak pandemi Covid-19, Lonjakan kasus disebabkan penyebaran kasus Covid-19 varian Omicron.
Kementerian Kesehatan Jepang menginstruksikan agar anggota keluarga yang melakukan kontak dengan anggota keluarga lain yang terjangkit Covid-19 untuk melakukan isolasi mandiri (isoman) selama tujuh hari pasca menunjukan gejala atau tindakan medis pencegahan.
Dilansir dari Channel News Asia, jumlah kasus harian Covid-19 di Tokyo yang mencapai 21.576 kasus, melampui rekor sebelumnya per Jumat (28/1) sebanyak 17.631.
Pada saat yang sama, jumlah kasus di Osaka tercatat susut menjadi 11.171 kasus. Dengan demikian, rekor kasus Covid-19 di Osaka masih di angka 11.881 per 1 Februari 2022.
Selain Tokyo, sebanyak 18 dari 47 prefektur di Negeri Sakura mencetak rekor kasus harian tertinggi sepanjang masa per Rabu (2/2). Secara total, kasus harian di Jepang per Rabu (2/2) telah mencapai 91.760 kasus.
Ibu Kota Jepang saat ini dalam pembatasan untuk menekan angka penyebaran Covid-19.
Pasalnya, gelombang lonjakan kasus Covid-19 saat ini disebabkan varian Omicron yang memiliki tingkat keterjangkitan yang lebih tinggi.
Berdasarkan data GISAID, kasus Omicron mencapai 8.148 atau menempati urusan ke-9 dalam daftar negara dengan kasus Omicron tertinggi.
Menteri Kesehatan Jepang Shigeyuki Goto mengatakan jumlah kasus Covid-19 ada anak-anak bertambah. Oleh karena itu, penyebaran ke orang dewasa didalam rumah yang melakukan kontak dekat juga melesat dan terpaksa melakukan Isoman.
"Kami harus menjaga kegiatan sosial-ekonomi sementara menjaga penyebaran infeksi (Covid-19)," kata Goto.
Oleh karena itu, Goto telah menginstruksikan periode siaga bagi orang yang melakukan kontak dekat dengan pasien Covid-19 diubah menjadi 7 hari sejak terkonfirmasi terjangkit COvid-19 atau sejak mendapatkan tindakan pencegahan penyebaran.
Waktu Isoman akan dimulai selambatnya sejak orang yang melakukan kontak dekat mendapatkan tindakan pencegahan penyebaran Covid-19.
Saat ini, okupansi tempat tidur yang disiapkan untuk pasien COvid-19 di rumah sakit telah mencapai 51,4%.
Pemerintah Jepang sebelumnya menginstruksikan untuk masuk ke situasi darurat saat okupansi tempat tidur khusus pasien Covid-19 telah menembus level 50%.
Namun demikian, kebijakan itu telah dirubah oleh pemerintah.
Chief Cabinet Secretary Hirozaku Matsuno mengatakan pemerintah tidak berencana untuk mengumumkan keadaan darurat. namun demikian, pemerintah akan tetap waspada.