Netanyahu Ingin Israel Ambil Alih Kontrol Seluruh Wilayah Gaza

REUTERS/Ronen Zvulun
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu didemo ratusan warganya yang meminta perang dihentikan.
Penulis: Agustiyanti
8/8/2025, 08.11 WIB

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Israel berencana mengambil alih kendali militer penuh atas Jalur Gaza. Pernyataan ini muncul  di tengah reaksi keras dari dalam negeri maupun komunitas internasional terhadap perang Israel di Gaza yang telah berlangsung selama dua tahun.

Dalam wawancara eksklusif dengan Fox News Channel, Netanyahu menjawab pertanyaan tentang rencana Israel  yang menguasai seluruh wilayah pesisir Gaza. “Kami bermaksud demikian. Kami tidak ingin mempertahankan wilayah itu, tapi kami ingin perimeter keamanan. Kami tidak ingin mengatur atau memerintahnya," ,” ujar Netanyahu seperti dikutip dari Reuters, Jumat (8/8). 

Rencana Serahkan Gaza ke Pasukan Arab

Netanyahu menyatakan bahwa setelah operasi militer, Israel akan menyerahkan pengelolaan Gaza kepada pasukan Arab. Namun, ia tidak menjelaskan lebih lanjut soal mekanisme pengaturan tersebut maupun negara-negara Arab mana yang akan terlibat.

Komentar ini disampaikan menjelang pertemuan terbatas kabinet Israel untuk membahas langkah militer berikutnya. Rencana perluasan operasi ini sempat diperdebatkan dalam pertemuan sebelumnya dengan kepala militer Israel, yang menurut sumber pemerintahan berlangsung "menegangkan".

Menurut salah satu sumber Reuters, skenario yang dipertimbangkan adalah pengambilalihan bertahap wilayah Gaza yang belum berada di bawah kendali militer Israel, dengan pemberian peringatan evakuasi kepada warga Palestina.

Pengambilalihan Militer 

Jika diwujudkan, rencana ini akan membalikkan kebijakan Israel tahun 2005 yang menarik pasukan dan warga negaranya dari Gaza, meski tetap mengontrol perbatasan, wilayah udara, dan utilitas.

Pihak sayap kanan Israel menganggap keputusan penarikan tahun 2005 sebagai penyebab utama kemenangan Hamas dalam pemilu 2006.

Namun, hingga kini belum jelas apakah Netanyahu merencanakan pendudukan jangka panjang atau hanya operasi militer sementara untuk membubarkan Hamas dan membebaskan sandera.

Reaksi Hamas dan Negara-negara Arab

Kelompok Hamas menyebut pernyataan Netanyahu sebagai "kudeta terang-terangan" terhadap proses negosiasi. “Rencana Netanyahu menyingkirkan para sandera dan mengorbankan mereka demi agresi militer,” demikian pernyataan Hamas.

Seorang pejabat Yordania menyatakan kepada Reuters bahwa negara-negara Arab hanya akan mendukung solusi yang disepakati rakyat Palestina. Sementara itu, pejabat Hamas Osama Hamdan mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pasukan Arab yang akan memerintah Gaza akan dianggap sebagai "kekuatan pendudukan" jika bekerja sama dengan Israel.

Sebelumnya, Israel dan AS telah menolak usulan Mesir untuk membentuk komite administratif teknokrat Palestina guna memerintah Gaza pascaperang.

Protes Warga Israel dan Tuntutan Penghentian Perang

Pada Kamis malam, ratusan demonstran berkumpul di luar kantor Perdana Menteri di Yerusalem, menuntut agar perang segera dihentikan dan sandera dibebaskan.

Para pengunjuk rasa membawa poster bergambar para sandera yang masih ditawan di Gaza. “Saya muak dan lelah dengan pemerintahan ini. Mereka telah menghancurkan hidup kami,” kata Noa Starkman (55), warga Yerusalem yang berasal dari komunitas Israel selatan dekat lokasi serangan Hamas tahun lalu.

Forum Keluarga Sandera mendesak Kepala Staf Militer Eyal Zamir menolak perluasan operasi militer. Namun, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant menyatakan bahwa militer akan terus melanjutkan misi hingga seluruh tujuan perang tercapai.

Sandera yang Tersisa

Sebanyak 50 sandera masih ditahan di Jalur Gaza. Namun, pejabat Israel meyakini hanya sekitar 20 orang di antaranya yang masih hidup. Sebagian besar dari mereka yang telah dibebaskan sejauh ini berhasil keluar melalui jalur negosiasi diplomatik. Namun, upaya terbaru untuk mencapai gencatan senjata yang berpotensi membebaskan lebih banyak sandera gagal pada Juli.

Seorang pejabat senior Palestina menyebut bahwa Hamas telah memberi tahu mediator Arab bahwa peningkatan bantuan kemanusiaan ke Gaza dapat membuka peluang dilanjutkannya negosiasi gencatan senjata. Di sisi lain, Israel menuduh Hamas menyita bantuan yang masuk ke Gaza untuk didistribusikan kepada para pejuangnya atau dijual guna membiayai operasinya. Hamas membantah tuduhan tersebut.

Pekan lalu, Hamas merilis video yang menampilkan dua sandera masih hidup dalam kondisi sangat kurus dan lemah. Tayangan tersebut memicu kecaman internasional dan meningkatkan tekanan global terhadap situasi kemanusiaan di wilayah tersebut.

Hamas, yang telah berkuasa di Gaza selama hampir dua dekade tetapi kini hanya mengontrol sebagian wilayah, bersikeras bahwa kesepakatan apa pun harus mencakup penghentian perang secara permanen. Israel menolak permintaan itu, dengan alasan Hamas tidak memiliki niat untuk benar-benar menyerahkan kekuasaan setelah perang berakhir.

Militer Israel menyatakan telah menguasai sekitar 75% wilayah Gaza. Sementara itu, sekitar dua juta penduduk Gaza telah mengalami pengungsian berulang selama hampir dua tahun terakhir. Lembaga bantuan kemanusiaan memperingatkan bahwa warga Gaza kini berada di ambang kelaparan.

"Harus ke mana lagi kami pergi? Kami sudah cukup sering dipindahkan dan dipermalukan," kata Aya Mohammad (30), seorang warga Gaza City yang kembali ke komunitas asalnya setelah mengalami pengungsian berkali-kali.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.