Israel Kembali Gempur Gaza di Tengah Rencana Perdamaian, Puluhan Warga Tewas

ANTARA FOTOMohammed Salem/rwa.
Palestinians inspect a house hit in an Israeli air strike, amid Israel-Gaza fighting, in Gaza city August 6, 2022.
1/10/2025, 17.17 WIB

Israel kembali melancarkan serangan udara ke Jalur Gaza pada 1 Oktober pagi. Serangan tersebut mengakibatkan 34 warga Palestina tewas, 29 orang di antaranya tewas di Kota Gaza.

Hamas sebelumnya telah menerima rencana gencatan senjata dengan Israel yang diajukan Amerika Serikat (AS). Namun, implementasi atau kepastian dari rencana itu masih belum jelas sejauh ini.

Al Jazeera melaporkan dua rudal Israel menghantam Sekolah al-Falah pada Rabu (1/10) pagi waktu setempat. Sekolah tersebut merupakan tempat penampungan bagi ratusan pengungsi di distrik Zeitoun, timur Kota Gaza.

Tim Pertahanan Sipil Palestina yang datang untuk mengevakuasi korban justru terkena serangan susulan sehingga banyak anggota tim terluka.

“Saksi mata melaporkan bahwa saat tim pertahanan sipil mencoba mengevakuasi korban dari reruntuhan, mereka justru menjadi sasaran serangan baru yang menyebabkan luka kritis,” kata Ibrahim al-Khalili, jurnalis Al Jazeera dari Kota Gaza.

Rumah Sakit al-Ahli melaporkan kepada Al Jazeera bahwa enam orang tewas dan sejumlah lainnya terluka akibat serangan itu. Beberapa jam kemudian, serangan lain menghantam sebuah rumah di distrik Daraj, timur Kota Gaza, menewaskan tujuh orang dan melukai banyak warga lainnya.

Al Jazeera melaporkan dampak gempuran tanpa henti di Kota Gaza telah menghancurkan pusat perkotaan terbesar di wilayah itu. Serangan-serangan Isreal menewaskan puluhan orang setiap hari, meratakan bangunan tempat tinggal dan sekolah, serta memaksa puluhan ribu warga mengungsi ke arah selatan.

Jurnalis Al Jazeera, Hani Mahmoud, melaporkan dari jalan pesisir di Nuseirat, Gaza tengah, menginformasikan banyak pengungsi terus berdatangan ke wilayah selatan yang cenderung kekurangan sumber daya dan sudah penuh sesak.

Hani mengatakan beberapa keluarga tidak punya pilihan selain mendirikan tenda di dekat laut. “Kondisi hidup di sini benar-benar parah dan bencana,” ujarnya.

Mohammed al-Turkmani, seorang pengungsi Palestina yang baru-baru ini melarikan diri dari Kota Gaza bersama istri dan anak-anaknya, kini tinggal di sebuah tenda di tepi pantai.

"Aku tidak tahu bagaimana kami bisa bertahan di dalam tenda ini. Saat musim dingin tiba, kami bisa kebanjiran dan tenda ini bisa hancur,” kata al-Turkmani.

Trump Ultimatum Hamas

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi Hamas waktu tiga hingga empat hari untuk menanggapi proposal gencatan senjata Gaza. Trump menegaskan bahwa para pemimpin Israel serta Arab telah menyetujui rencana tersebut.

“Hamas akan melakukannya atau tidak, dan jika tidak, itu akan menjadi akhir yang sangat menyedihkan,” kata Trump di Gedung Putih pada Selasa.

Komentar Trump disampaikan sehari setelah Gedung Putih merilis dokumen berisi 20 poin yang menyerukan gencatan senjata segera di Gaza. Proposal itu berisi klausul pertukaran tawanan Israel yang ditahan Hamas dengan tahanan Palestina di penjara Israel. Tawaran tersebut juga meminta penarikan bertahap pasukan Israel dari Jalur Gaza.

Dalam usulan tersebut, Hamas diminta untuk melucuti senjata, sementara AS bersama mitra Arab dan komunitas internasional berencana membentuk pasukan stabilisasi sementara guna mengamankan wilayah Gaza.

Rencana tersebut juga mendesak Hamas untuk tidak dilibatkan dalam pemerintahan Gaza. Para anggotanya ditawari amnesti jika bersedia berkomitmen pada perdamaian, sementara mereka yang memilih meninggalkan Gaza akan diberi jalur aman untuk keluar negeri.

Di tengah serangan Israel yang terus berlanjut, tim negosiasi Hamas masih mempelajari rencana Trump. Upaya terbaru untuk mengakhiri perang dua tahun Israel di Gaza muncul ketika jumlah korban jiwa Palestina telah menembus 66 ribu orang.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu