Israel Sergap Armada Global Sumud Flotilla, Greta Thunberg Ditahan
Kapal Global Sumud Flotilla (GSF) yang membawa misi kemanusiaan ke Gaza diserang pasukan Angkatan Laut Israel di perairan internasional pada Rabu (1/10) malam.
Dilansir dari unggahan akun resmi Israel Foreign Ministry, kapal berhasil dicegat dan sejumlah aktivis ditahan, termasuk aktivis lingkungan asal Swedia Greta Thunberg. Komunikasi kapal sebelumnya diputus sebelum operasi penyergapan dilakukan.
Global Sumud Flotilla mengecam tindakan tersebut sebagai ilegal terhadap relawan kemanusiaan tak bersenjata dan menyerukan perhatian dunia internasional.
Sedangkan Israel dilaporkan menyiapkan pelabuhan Ashdod dengan pasukan elite Shayetet 13, tim medis, hingga rencana deportasi aktivis ke negara asal.
Sebelumnya, GSF melaporkan mengalami gangguan dari Angkatan Laut Israel saat menjalankan misi menuju Gaza. Militer Israel disebut sempat mengganggu sistem komunikasi salah satu kapal utama.
GSF membawa sekitar 500 orang, termasuk di dalamnya Greta Thunberg dan mantan Wali Kota Barcelona Ada Colau. Mereka melaporkan telah berhadapan dengan kapal-kapal angkatan laut Israel yang mengelilingi kapal utama flotila selama sekitar enam menit sambil menonaktifkan sistem komunikasinya dari jarak jauh.
Peristiwa tersebut terjadi saat GSF berada di utara Mesir, sekitar 140 mil laut atau 220 kilometer dari Gaza pada Rabu, 2 Oktober dini hari waktu setempat. “Pada dini hari ini, pasukan angkatan laut Israel melancarkan operasi intimidasi,” demikian pernyataan flotila itu, dikutip dari The Guardian pada Rabu (2/10).
Aktivis asal Turki yang menjadi salah satu orang yang berada di kapal, Metehan Sar, mengatakan bahwa kapal-kapal angkatan laut Israel berada dalam jarak 5 hingga 10 meter dari kapal mereka pada dini hari Rabu. “Mereka mencoba menakut-nakuti kami, tetapi kami tidak takut,” ujarnya.
Menanggapi situasi tersebut, Pemerintah Italia dan Yunani kembali menegaskan seruan agar Israel menjamin keselamatan semua peserta flotila. Dua negara itu menuntut Israel menjaga keselamatan peserta flotila sekaligus menghormati hak diplomatik warga negara mereka.
Di sisi lain, Pemerintah Italia dan Yunani meminta pihak aktivis agar menyerahkan bantuan kemanusiaan yang dibawa GSF kepada Gereja Katolik agar bisa didistribusikan ke Gaza. Namum permintaan tersebut ditolak oleh flotila karena mereka ingin langsung menantang blokade laut Israel terhadap Gaza.
Israel menerapkan blokade laut terhadap Gaza sejak 2009. Langkah itu merupakan penguatan dari blokade yang sudah berlangsung sejak 2007, setelah Hamas mengambil alih kendali wilayah itu.
Sempat Dikawal Spanyol dan Italia
Kapal angkatan laut Spanyol sebelumnya mengawal konvoi GSF untuk melindungi mereka dari kemungkinan serangan drone. Hingga Selasa, kapal perang Italia juga mendampingi flotila dan memberi peserta kesempatan meninggalkan kapal bila situasi membahayakan.
Francesca Albanese, pelapor khusus PBB untuk Palestina, mengkritik langkah Italia menarik dukungannya. “Pemerintah Italia bersiap meninggalkan mereka, membiarkan Israel bebas melakukan pelanggaran lebih lanjut, dan melanjutkan genosida tanpa gangguan,” ujarnya dalam sebuah unggahan di media sosial X.
Memasuki Selasa, 1 Oktober malam, pemerintah Spanyol menghubungi flotila dan menegaskan agar mereka tidak memasuki zona larangan yang ditetapkan Israel demi keselamatan semua pihak.
Menurut sumber resmi pemerintahan di Madrid, meskipun misi flotila dianggap 'terpuji dan sah', keselamatan nyawa semua orang di kapal harus tetap menjadi prioritas utama.
Sumber itu menjelaskan bahwa kapal patroli Spanyol, Furor, yang dikerahkan untuk mendukung flotila, tidak akan memasuki zona larangan Israel karena hal itu bisa membahayakan kapal dan awaknya. Meski begitu, Furor tetap berada dalam radius operasi dan siap memberikan bantuan atau evakuasi jika diperlukan.
Dalam wawancara dengan TVE pada Rabu pagi, Menteri Transformasi Digital Spanyol, Óscar López, menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama.
“Orang harus ingat bahwa apa yang dilakukan orang-orang ini adalah membawa makanan dan obat-obatan, dan ini bukan pertama kalinya Israel memblokade bantuan bagi rakyat Palestina,” ujarnya.
Óscar López menilai gerakan flotila sangat adil dan pantas mendapat empati. Namum ia mengatakan pemerintah harus mengambil keputusan dengan tidak menempatkan kapal Spanyol di perairan yang telah dideklarasikan sebagai zona larangan Israel.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni juga menyerukan flotila untuk menghentikan misinya. Ia memperingatkan bahwa setiap upaya memecah blokade bisa membahayakan inisiatif perdamaian baru antara Israel dan Hamas oleh Amerika Serikat.
Dalam beberapa minggu terakhir, pemerintah Italia berulang kali mendesak Flotila untuk menghindari konfrontasi dengan Israel. Italia mendorong Florila untuk menyerahkan bantuan melalui pelabuhan Israel atau Siprus.
Namun, para aktivis menegaskan bahwa operasi mereka bukan sekadar soal bantuan – yang mereka anggap simbolis – melainkan upaya untuk mematahkan apa yang mereka sebut 'blokade ilegal' Israel terhadap wilayah tersebut.