Belanja Militer Global Cetak Rekor US$ 2,89 T pada 2025, Ditopang Belanja Eropa
Laporan terbaru Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan Eropa meningkatkan pengeluaran militer pada tahun 2025 secara signifikan sehingga mendorong belanja militer global mencetak rekor sebesar US$ 2,89 triliun atau Rp 49,8 kuadriliun (kurs Rp 17.240 per US$).
Menurut laporan CNBC, SIPRI juga menyebut program persenjataan besar-besaran di Asia juga mendorong pengeluaran pertahanan global lebih tinggi untuk tahun ke-11 berturut-turut pada tahun 2025. Peningkatan belanja militer tersebut dipicu oleh perang, ketidakpastian, dan gejolak geopolitik dengan program persenjataan skala besar.
Laporan tersebut juga menunjukkan pengeluaran militer global sebagai bagian dari Produk Domestik Bruto (PDB) naik menjadi 2,5%, level tertinggi sejak 2009.
Eropa adalah pendorong utama peningkatan pengeluaran global, dengan belanja militer yang meningkat 14% menjadi US$ 864 miliar atau Rp 14,9 kuadriliun.
Jerman adalah negara dengan pengeluaran militer terbesar di kawasan Eropa, dengan pengeluaran meningkat 24% dari tahun sebelumnya menjadi US$ 114 miliar atau Rp 1,96 kuadriliun. Beban militer Berlin melampaui pedoman NATO sebesar 2% dari PDB untuk pertama kalinya sejak 1990 — mencapai 2,3% pada tahun 2025 — sebuah patokan yang didorong untuk dipenuhi oleh anggota aliansi.
Pengeluaran militer Spanyol melonjak 50% menjadi US$ 40,2 miliar atau Rp 693,09 triliun. Beban pertahanan Spanyol melebihi 2% dari PDB untuk pertama kalinya sejak target pengeluaran NATO disepakati pada tahun 1994.
Pada Juni 2025, anggota NATO, kecuali Spanyol, telah menguraikan tujuan jangka panjang untuk meningkatkan pengeluaran pertahanan menjadi 5% dari PDB pada tahun 2025. Madrid telah memilih untuk tidak mengikuti komitmen 5% tersebut.
Belanja Militer AS Menurun
Meskipun belanja militer global terus meningkat, laju pertumbuhannya melambat menjadi 2,9% pada tahun 2025. Laju pertumbuhan ini jauh lebih rendah daripada kenaikan 9,7% pada tahun 2024. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh pengurangan 7,5% dalam pengeluaran militer Amerika Serikat (AS) setelah tidak ada bantuan keuangan baru untuk Ukraina yang disetujui selama tahun tersebut.
AS tetap menjadi negara dengan belanja militer terbesar di dunia dengan nilai US$ 954 miliar atau Rp 16,45 kuadriliun. Cina, negara terbesar kedua di dunia, meningkatkan belanja militernya sebesar 7,4% menjadi sekitar US$ 336 miliar atau Rp 5,79 kuadriliun. Beberapa ahli berpendapat belanja militer Cina bisa jauh lebih tinggi, karena Beijing tidak sepenuhnya mengungkapkan pengeluaran militernya.
“Penurunan pengeluaran militer AS pada tahun 2025 kemungkinan hanya akan berlangsung singkat,” kata Nan Tian, Direktur Program Pengeluaran Militer dan Produksi Senjata SIPRI.
Pentagon telah meminta sekitar US$ 1,5 triliun atau Rp 25,86 kuadriliun untuk pengeluaran pertahanan pada tahun fiskal 2027, yang akan menandai permintaan terbesar dalam sejarah.
Asia Genjot Belanja Militer
Pengeluaran di Asia dan Oseania meningkat 8,1% menjadi US$ 681 miliar atau Rp 11,74 kuadriliun pada tahun 2025, menandai peningkatan tahunan terbesar sejak 2009.
“Sekutu AS di Asia dan Oseania seperti Australia, Jepang, dan Filipina menghabiskan lebih banyak uang untuk militer mereka, bukan hanya karena ketegangan regional yang telah berlangsung lama tetapi juga karena meningkatnya ketidakpastian atas dukungan AS,” kata Diego Lopes da Silva, peneliti senior di SIPRI.
Pengeluaran militer Taiwan meningkat 14% menjadi US$ 18,2 miliar atau Rp 313,79 triliun. Angka ini setara dengan 2,1% dari PDB Taiwan, menandai peningkatan tahunan terbesar sejak setidaknya tahun 1988.
Menurut SIRPI, peningkatan ini terjadi di tengah meningkatnya aktivitas militer di sekitar pulau tersebut oleh Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok.
Pada 2025, Tiongkok melakukan dua latihan militer besar di sekitar pulau tersebut pada bulan April dan Desember. Pelanggaran wilayah udara oleh pesawat di sekitar Taiwan meningkat tajam dari 380 pada tahun 2020 menjadi rekor 5.709 pada tahun 2025, menurut laporan media lokal.
Secara terpisah, pengeluaran militer Jepang meningkat sebesar 9,7% menjadi US$ 62,2 miliar atau Rp 1,07 kuadriliun pada tahun 2025. Angka ini setara dengan 1,4% dari PDB Jepang — tertinggi sejak tahun 1958.
Perdana Menteri Sanae Takaichi telah berjanji untuk meningkatkan pengeluaran pertahanan menjadi 2% dari PDB ketika ia menjabat. Pernyataan Takaichi ini mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam postur keamanan Tokyo.
Tokyo mencabut larangan ekspor senjata mematikan pada bulan April dan menandatangani proyek ekspor kapal perang pertamanya dengan Australia, di mana Mitsubishi Heavy Industries akan membangun tiga fregat baru untuk Angkatan Laut Kerajaan Australia.
Saham Sektor Pertahanan Melonjak
Ledakan belanja militer global telah mengangkat saham sektor pertahanan di seluruh Asia dan Eropa.
Saham Hanwha Aerospace, pemain pertahanan terbesar Seoul, melonjak 193% pada tahun 2025, melanjutkan kenaikan 154% pada tahun 2024.
Perusahaan ini terkenal karena memproduksi howitzer swagerak K9, salah satu sistem yang paling banyak diekspor dari jenisnya.
Saham perusahaan pertahanan lainnya, seperti Hyundai Rotem, pembuat tank tempur utama K2, serta produsen pertahanan udara LIG Nex1, juga melonjak masing-masing sebesar 278% dan 91% pada tahun 2025.
Di Jepang, peningkatan komitmen pertahanan oleh Takaichi mendongkrak saham perusahaan-perusahaan di sektor tersebut, bahkan sebelum Tokyo melonggarkan pembatasan ekspor senjata.
Saham Mitsubishi Heavy Industries naik 72,7%, sementara Kawasaki Heavy Industries naik 42,6% untuk tahun 2025. IHI Corp
melonjak 107,1% selama tahun tersebut.
Perusahaan pertahanan Eropa juga mengalami kenaikan. Harga saham Rheinmetall Jerman naik 154% sedangkan ThyssenKrupp
naik 215%.
Pada tahun 2025, Uni Eropa menguraikan rencana untuk memobilisasi hingga 800 miliar euro atau Rp 15,22 kuadriliun pada 2030 untuk memperkuat keamanan regional.
Rheinmetall memproduksi kendaraan tempur infanteri, senjata kaliber besar, dan sistem pertahanan Udara. Adapun ThyssenKrupp memproduksi kendaraan angkatan laut seperti fregat dan kapal selam.
Berlin mengesahkan reformasi utang bersejarah pada Maret 2025, membuka jalan bagi peningkatan signifikan dalam pengeluaran pertahanan.
Di Inggris, BAE Systems, yang memproduksi komponen untuk Eurofighter Typhoon dan F-35 Lightning II, mengalami peningkatan sebesar 49,2% dibandingkan tahun 2025, seiring dengan janji pemerintah untuk meningkatkan pengeluaran pertahanan nasional Inggris.