Ketegangan di Selat Hormuz mendorong harga minyak dunia dan berisiko membebani APBN Indonesia, memperlihatkan kerentanan serta pentingnya kedaulatan energi nasional.
Konfilk geopolitik antara Israel dan Iran pada tahun 2026 telah menyebabkan kenaikan harga minyak, namun polanya mirip dengan perang Rusia-Ukraina pada tahun 2022.
Nilai kerja sama terbesar berasal dari kerja sama PT Pertamina (Persero) dengan perusahaan migas Jepang, INPEX, dalam pengembangan Lapangan Masela senilai US$ 20,9 miliar atau Rp 355,45 triliun
Konflik geopolitik di Timur Tengah mengguncang stabilitas pasokan dan harga energi global, mengancam pertumbuhan ekonomi serta pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).
Artikel ini membahas bagaimana krisis energi mengungkap kerapuhan masyarakat modern yang sangat bergantung pada sistem energi kompleks, terutama saat distribusi terganggu oleh gejolak geopolitik.
Ketegangan geopolitik antara Iran, Israel, dan AS di Timur Tengah mengancam stabilitas Selat Hormuz, jalur vital minyak dunia, dan berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Pasar Keuangan Indonesia mengalami tekanan bertubi-tubi dari peringatan MSCI, penurunan outlook rating, hingga eskalasi konflik geopolitik yang memicu sentimen global negatif.
Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz menjadi alarm bagi ketahanan energi Indonesia yang masih bergantung impor minyak, mendesak perlunya strategi transisi yang aman.
Chief Operating Officer Bareksa Ni Putu Kurniasari menilai situasi geopolitik yang memanas juga membuat pergerakan harga emas menjadi jauh lebih fluktuatif.
Konflik AS-Israel dan Iran memanaskan Timur Tengah dan mengancam stabilitas harga minyak dunia, mengingatkan pada krisis energi 1973 yang melambungkan harga empat kali lipat.
Menurut Retno, dunia saat ini menghadapi tantangan serius, mulai dari perang di sejumlah wilayah hingga meningkatnya rivalitas geopolitik yang berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi global.
Cina membangun ketergantungan strategis sebagai kekuatan baru, menggeser pertarungan global dari militer ke perebutan pengaruh ekonomi dan teknologi yang inklusif.
Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz mengancam stabilitas pasokan energi global, yang berdampak langsung pada ketahanan energi nasional Indonesia sebagai negara pengimpor.