IMF Waspadai Efek Domino AI: Saham AS Bisa Anjlok 20%, Ekonomi Dunia Tertekan

Vecteezy.com/Muhammad Nur
Ilustrasi agen AI, model AI, humanoid dengan otak kecerdasan buatan (AI).
Penulis: Ade Rosman
Editor: Ahmad Islamy
13/10/2026, 11.48 WIB

Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memperingatkan risiko investasi kecerdasan buatan (AI) terhadap perekonomian global. Organisasi itu menilai ada dampak yang harus diwaspadai di masa mendatang.

Menurut IMF, jika lonjakan investasi AI tidak menghasilkan peningkatan produktivitas seperti yang diharapkan, pasar saham Amerika Serikat (AS) berpotensi terkoreksi tajam hingga 20%. Tak hanya itu, kondisi tersebut juga dapat menekan pertumbuhan ekonomi dunia.

Bila itu terjadi, pertumbuhan ekonomi global pada 2028 dapat berada 1,1 poin persentase di bawah proyeksi dasar IMF. Lembaga internasional itu menggambarkan, dampaknya terhadap Asia diperkirakan lebih besar, dengan pertumbuhan ekonomi kawasan yang berpotensi 1,7 poin persentase lebih rendah dari perkiraan awal.

IMF menilai, investasi AI saat ini menjadi salah satu penopang permintaan ekonomi global. Namun, besarnya investasi yang mengalir ke sektor teknologi juga menimbulkan risiko apabila keuntungan produktivitas yang dijanjikan tidak terwujud.

Kepala Ekonom IMF, Silvana Tenreyro, menyoroti ketahanan ekonomi global yang mulai menghadapi batasnya di tengah berbagai tekanan, mulai dari konflik geopolitik hingga ketidakpastian pasar. “Ekonomi global telah menunjukkan ketahanan, namun ketahanan tersebut kini mencapai batasnya,” kata Tenreyro, dikutip dari CNBC, Selasa (13/10). 

IMF menggambarkan investasi AI sebagai guncangan permintaan besar yang terjadi dalam waktu relatif singkat. Arus belanja untuk pusat data, infrastruktur komputasi, dan teknologi pendukung AI dapat mendorong aktivitas ekonomi dalam jangka pendek.

Namun, apabila hasil investasi tersebut tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan, valuasi perusahaan teknologi berisiko terkoreksi. Penurunan harga saham AS kemudian dapat merambat ke pasar keuangan negara lain, menekan kekayaan investor, serta mengurangi belanja dan investasi.

Risiko tersebut menjadi perhatian karena pasar keuangan dan perekonomian sejumlah negara semakin terhubung. Koreksi tajam di pasar saham AS dapat memicu penyesuaian portofolio investor global dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi.

IMF juga memperingatkan, ketahanan ekonomi dunia tidak hanya diuji oleh risiko dari sektor teknologi. Konflik geopolitik dan gangguan pasokan energi turut membayangi prospek pertumbuhan dan inflasi.

Salah satu yang berpotensi terdampak yakni tekanan harga energi diakibatkan gangguan di kawasan Teluk. IMF memperkirakan inflasi global dapat melampaui 5% pada 2027, dengan probabilitas sekitar 35%.

Di sisi lain, ruang pemerintah untuk merespons guncangan ekonomi semakin terbatas akibat kenaikan utang. Utang publik negara-negara maju diproyeksikan mencapai 115% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2031, naik dari 108% pada 2025. Sementara itu, utang negara berkembang diperkirakan meningkat dari 74% menjadi 84% PDB pada periode yang sama.

Kombinasi risiko tersebut membuat prospek ekonomi global bergantung pada kemampuan investasi AI menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata, sekaligus kemampuan pemerintah dan bank sentral mengantisipasi tekanan dari pasar keuangan, energi, dan fiskal.

IMF menuturkan, arah pertumbuhan global tidak merata. Sejumlah negara diuntungkan oleh kuatnya permintaan terkait AI, sementara negara lain lebih rentan terhadap guncangan pasokan akibat konflik.

“Ekonomi global tidak sekadar melambat atau berakselerasi; sebaliknya, pertumbuhan sedang dialokasikan ulang antarnegara berdasarkan tingkat keterpaparan mereka terhadap guncangan pasokan akibat perang dan kuatnya permintaan yang didorong oleh akal imitasi (AI),” ujar Tenreyro.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman