Gelombang Protes Biaya Hidup Meluas, Kota-Kota di Eropa Bergejolak

REUTERS/Jack Taylor
Prancis mengalami salah satu hari unjuk rasa paling kacau dalam beberapa dekade terakhir.
Penulis: Agustiyanti
18/10/2026, 11.33 WIB

Ratusan ribu warga Eropa turun ke jalan dalam aksi unjuk rasa yang terpisah  untuk memprotes kenaikan biaya hidup di negara mereka masing-masing.  Gelombang aksi ini terjadi di Prancis, Italia, Belgia dan Portugal pada Sabtu (17/10).

Prancis mengalami salah satu hari unjuk rasa paling kacau dalam beberapa dekade terakhir. Menurut Kementerian Dalam Negeri, lebih dari 550.000 orang berpartisipasi dalam demonstrasi tersebut.

Aksi massa yang menyusul protes mahasiswa selama berminggu-minggu ini berujung pada bentrokan, penjarahan, dan kebakaran. Hal ini terjadi setelah kelompok-kelompok garis keras yang melakukan kekerasan menyasar bangunan publik, butik mewah, serta supermarket, sekaligus menyerang kendaraan dan petugas kepolisian.

Menteri Prancis Sebasten Lecornu menyatakan bahwa 1.200 orang telah ditangkap dan 150 petugas kepolisian terluka. "Sebuah keajaiban jumlah korban tidak lebih tinggi," ujarnya saat mengunjungi petugas yang dikerahkan di pusat kota Paris.

Kantor berita Prancis, AFP, melaporkan bahwa puluhan toko dijarah di Paris, Marseille, Nice, Nantes, Bordeaux, Limoges, Lille, Toulouse, dan Strasbourg.

Wali Kota Paris, Emmanuel  Gregoire, mengatakan bahwa sejumlah ruas jalan di ibu kota tersebut "telah hancur lebur". Di Limoges, sebuah gedung balai kota yang berusia lebih dari 140 tahun hancur akibat kebakaran yang sengaja dilakukan oleh pengunjuk rasa bertopeng.

Sementara itu, balai kota di  Marseille dan Lille sempat dibobol dan dirusak. Di Lyon, para pengunjuk rasa membakar kantor pariwisata kota tersebut.

Presiden Emmanuel Macron menyatakan melalui platform X bahwa pihak-pihak yang bertanggung jawab akan dituntut dan dihukum.

Di ibu kota Belgia, Brussels, unjuk rasa  yang telah berlangsung selama berminggu-minggu terkait biaya pendaftaran universitas, juga berakhir dengan kerusuhan. Polisi menembakkan gas air mata dan mengerahkan meriam air untuk membubarkan massa pada Sabtu (17/10). Polisi menuduh para pengunjuk rasa melemparkan berbagai benda ke arah mereka serta melakukan aksi pembakaran.

Di Liege, sebuah kota yang lebih kecil di sebelah timur Brussels, polisi juga mengerahkan meriam air untuk membubarkan demonstrasi. Pihak kepolisian tidak menyebutkan jumlah peserta aksi tersebut.

Sementara itu, di ibu kota Portugal, Lisbon, puluhan ribu pengunjuk rasa turun ke jalan untuk memprotes krisis biaya hidup, upah rendah, serta sulitnya mendapatkan akses perumahan di kota-kota besar. Harga rumah di Portugal telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2017, sedangkan harga sewa untuk perjanjian baru juga mengalami kenaikan dengan besaran yang hampir serupa.

Menteri Urusan Parlemen Portugal, Carlos Abreu Amorim  menyatakan pada hari Jumat bahwa pemerintah tidak akan tunduk pada tuntutan yang disuarakan di jalanan.  Para pengunjuk rasa menilai para pemimpin mereka "tidak peka" terhadap permasalahan yang ada.

Italia

Di  Milan, para perusuh terlibat bentrokan dengan polisi, menjarah toko-toko, dan membakar properti di pusat kota. Aksi ini membuat Piazza del  Duomo serta sebuah pusat perbelanjaan mewah—yang biasanya dipadati pengunjung—menjadi kosong.

Sebuah aksi unjuk rasa menentang perang dan kenaikan biaya hidup awalnya berlangsung damai, namun sejumlah pengunjuk rasa bertopeng melemparkan batu, bongkahan batu, dan benda-benda lainnya ke arah polisi antihuru-hara, serta membakar barikade yang dibuat dari meja-meja bar.

Polisi menggunakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan massa.

Kantor berita Italia, La Presse  melaporkan bahwa setidaknya dua petugas polisi terluka dan sekitar 50 demonstran—banyak di antaranya masih di bawah umur—ditahan.

Perdana Menteri Italia,  Giorgia Melono, mengecam kekerasan tersebut. "Berunjuk rasa adalah sebuah hak. Namun, membakar kota kita bukanlah hak," tulisnya di platform X. 

Wali Kota Milan Giuseppe Sala, menyatakan bahwa alasan di balik unjuk rasa tersebut dapat dipahami. Namun, kekerasan terhadap aparat penegak hukum dan kerusakan parah pada kota tidak dapat dibenarkan.

Di Bologna, polisi juga melaporkan adanya aksi pelemparan batu dan bentrokan antara pengunjuk rasa dengan petugas, di samping berlangsungnya unjuk rasa yang damai.

Protes di Prancis Meluas

Meskipun unjuk rasa di negara-negara lain tidak mencapai skala sebesar yang terjadi di Prancis, Profesor hukum dan kebijakan Uni Eropa di HEC Paris Business School Alberto Alemanno menilai peristiwa ini bisa menjadi tanda meluasnya ketidakpuasan. 

"Prancis adalah episentrum dari gerakan ini... dan kini terdapat tanda-tanda bahwa gerakan tersebut mulai menyebar ke luar Prancis," kata dia.

Ia menambahkan bahwa unjuk rasa yang terjadi pada hari Sabtu mungkin bukan yang terakhir di banyak negara tersebut. Titik-titik ketegangan baru bisa saja muncul. "Di Yunani, Jerman, dan Austria, tahap awal dari suatu gerakan mulai muncul, dengan mobilisasi yang diperkirakan akan terjadi “dalam minggu mendatang”, ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa ini bukanlah satu gerakan tunggal, melainkan beberapa aksi protes yang berlangsung secara bersamaan, dengan sejumlah keluhan yang sama : pendanaan pendidikan yang minim, meningkatnya biaya hidup, serta—bagi para mahasiswa—prospek masa depan yang tidak pasti setelah lulus.

Alemanno mengatakan, gejolak ini muncul pada saat yang krusial bagi Eropa, di tengah persiapan benua tersebut menghadapi siklus besar pemilihan umum nasional yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam 12 bulan ke depan, dengan pemungutan suara yang dijadwalkan di Spanyol, Prancis, Italia, dan Polandia.

“Mau tidak mau, semua aksi protes dan mobilisasi ini akan menjadi pusat perbincangan politik,” kata dia. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.