Sungai Citarum Meluap, 22 Ribu Keluarga Terendam Banjir di Bandung

BNPB
Bandir di Kabupaten Bandung, Kamis (7/3).
Penulis: Pingit Aria
8/3/2019, 07.09 WIB

Banjir merendam 12 desa/kelurahan 10 kecamatan di Kabupaten Bandung sejak Rabu (6/3). Banjir setinggi 40-280 cm disebabkan luapan Sungai Citarum dan drainase yang tidak mampu mengalirkan air hujan.

Banjir sesungguhnya bukan hal yang baru bagi masyarakat sekitar bantaran Sungai Citarum di Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat. “Terlebih lagi di daerah Kecamatan Baleendah dan Majalaya karena dalam setahun masyarakat dapat mengalami banjir sekitar 10 kali,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran pers, Kamis (7/3) malam.

Hujan berintensitas sedang hingga tinggi yang turun telah menyebabkan banjir di 12 desa/kelurahan 10 kecamatan di Kabupaten Bandung. Daerah yang banjir ada di Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah, Bojongsoang, Rancaekek, Cileunyi, Majalaya, Banjaran, Cicalengka, Kutawaringin, dan Ibun.

(Baca juga: Banjir Melanda 15 Kabupaten di Jawa Timur, 12 Ribu Keluarga Terdampak)

Sebanyak 22.105 keluarga terdampak banjir dengan sebaran:

  • Kecamatan Baleendah 5.271 keluarga
  • Kecamatan. Dayeuhkolot 3.005 keluarga
  • Kecamatan Bojongsoang 2.370 keluarga
  • Kecamatan Rancaekek 3.383 keluarga
  • Kecamatan Cileunyi 3.373 keluarga
  • Kecamatan Majalaya 1.929 keluarga
  • Kecamatan Banjaran 2.414 keluarga
  • Kecamatan Cicalengka 85 keluarga
  • Kecamatan Kutawaringin 25 keluarga
  • Kecamatan Ibun 250 keluarga

(Baca juga: Banjir Madiun, Jalan Tol Ngawi – Kertosono Ditutup Sementara)

Meskipun banjir melanda cukup luas dan rumah warga terendam banjir, namun hanya ada 90 keluarga yang terdiri dari 283 jiwa yang mengungsi. Sebaran pengungsi sebagai berikut:

  • Kecamatan Dayeuhkolot, 5 keluarga (17 jiwa)
  • Kecamatan Baleendah, 68 keluarga (226 jiwa)
  • Kecamatan Bojongsoang, 17 keluarga (40 jiwa)

Banjir terus berulang di daerah ini memerlukan penanganan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum secara komprehensif. Daerah Baleendah dan sekitarnya merupakan permukiman dan industri yang padat penduduknya.  Kondisi topografi cekung dengan dasar Sungai Citarum dangkal karena sedimentasi membuat air hujan kerap meluap.

Seringnya banjir melanda permukiman menyebabkan masyarakat sudah beradaptasi dengan kondisi alam yang ada. “Masyarakat sudah menyiapkan perahu dan mengetahui kemana mereka harus mengungsi. Jarang ada korban jiwa meskipun mereka sering dilanda banjir,” kata Sutopo.