PT Pertamina EP tengah mencari cadangan minyak dan gas bumi (migas) di wilayah timur Indonesia, tepatnya di Provinsi Papua Barat. Dana sebesar ratusan miliar rupiah disipakan untuk membiayai pemetaan bawah permukaan bumi atau biasa disebut seismik.

Public Relations Manager Pertamina EP Muhammad Baron mengatakan, program pemetaan ini diberi nama Seismik 2D Kupalanda. Program ini sudah dimulai sejak Desember tahun lalu dan direncanakan berakhir bulan Agustus mendatang. Perkiraan anggaran seismik di Kupalanda sebesar US$ 16 juta atau sekitar Rp 217,56 miliar. “Tujuannya untuk menemukan cadangan migas baru di wilayah timur Indonesia,” kata dia kepada Katadata akhir pekan lalu.

Baron mengatakan, seismik Kupalanda ini merupakan kegiatan survei yang pertama kali dilakukan setelah belasan tahun Pertamina EP tidak melakukan seismik di Papua. Pertamina EP terakhir kali melakukan seismik di Papua tahun 1998. (Baca: Eksplorasi Minim, Cadangan Minyak Turun Hampir Empat Persen)

Program Seismik Kupalanda ini telah mendapat persertujuan dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) sejak 2012. Pemetaan tersebut meliputi lintasan sepanjang 431 kilometer (km), mencakup dua kabupaten yaitu Kabupaten Sorong Selatan yang masuk ke wilayah Distrik Kokoda dan Kabupaten Teluk Bintuni yang terdiri dari empat distrik yakni Distrik Kamundan, Distrik Wiriagar, Distrik Tomu dan Distrik Aranday.

Menurut Baron, lokasi operasi Seismik 2D Kupalanda merupakan area dataran rendah dengan vegetasi rawa sagu di sebelah selatan hutan dan hutan tropis di wilayah utara dengan kontur perbukitan. Area survei juga dilintasi oleh tiga sungai besar yaitu Sungai Kamundan, Sungai Wiriagar dan Sungai Arandai. “Ditinjau dari kondisi permukaan operasi, strukturnya adalah sebagian besar berupa lumpur bercampur pasir dengan beberapa lokasi berupa tanah gambut khas hutan hujan tropis,” ujar dia.

Baron mengatakan, medan operasi ini cukup berat karena tidak ada akses jalan sehingga moda transportasinya menggunakan perahu. Untuk area kerja yang tidak dapat diakses dengan perahu, kegiatan operasi didukung penggunaan helikopter yang khusus untuk memasok bahan makanan dan Bahan Bakar Minyak (BBM) serta evakuasi medis untuk keadaan darurat. (Baca: Distribusi Panjang, Harga BBM di Papua Tiga Kali Lebih Mahal)

Dalam kegiatan seismik ini, Pertamina mengikutsertakan tenaga kerja lokal di Papua. Kegiatan seismik ini melibatkan kurang lebih 1.100 orang, yang 70 persen di antaranya merupakan masyarakat lokal Papua. Per 17 Mei lalu, jam kerja telah mencapai 617.920 jam.

Selain Seismik 2D Kupalanda, Pertamina EP melakukan seismik di daerah lain. Tahun ini, Pertamina EP sedang mengerjakan lima proyek seismik yaitu Seimik 2D Kupalanda, Seismik 2D Tanjung Area 1, Seismik 2D Bunyu Seismik 3D Akasia Besar dan Seismik 3D Seremban. (Baca: 10 Tahun Terakhir, Cuma 3 Blok Eksplorasi yang Bisa Berproduksi)

Menurut Baron, pemetaan tersebut menunjukkan komitmen Pertamina EP untuk terus mencari sumber cadangan baru di tengah kondisi industri hulu migas yang belum terlalu stabil. “Kami tetap berkomitmen mencari sumber cadangan baru dengan agresif melakukan seismic sebagai awal dari proses operasi hulu migas,” ujar dia. Ditargetkan total panjang program seismik 2D sekitar 1.550 km dan luas area program seismik 3D sebesar 1.556 kilometer persegi.