Menkes Sebut Penyemprotan Jalan Hanya Memindahkan Polusi

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan paparan dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (28/3/2023).
Penulis: Lona Olavia
27/8/2023, 15.38 WIB

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyatakan, penyemprotan jalan tidak efektif untuk mengatasi polusi udara. Sebab kegiatan itu hanya memindahkan polusi dari satu tempat ke tempat lain. 

"Partikel PM 2,5 banyak beredar di udara atas, bukan di bawah. Jadi sebenarnya kalau menyemprot harus di atas, bukan di bawah. Kegiatan penyemprotnya juga harus luas karena kalau sedikit itu hanya menggeser-geser saja malah bisa menyebarkan pindah ke tempat lain," kata Menkes di Jakarta, Minggu (27/8) dikutip dari Antara.
 
Badan Kesehatan Dunia (WHO) membagi polusi udara ke dalam dua kelompok, yaitu gas dan partikel. Polusi udara yang dipicu gas bersumber dari nitrogen monoksida, sulfur monoksida, dan karbon monoksida. Sedangkan, polusi udara yang disebabkan partikel berasal dari PM2,5 dan PM10.
 
Menkes menuturkan, hanya ada dua hal yang bisa menghilangkan partikel PM 2,5 dan sumber-sumber polutan lainnya secara cepat, yaitu hujan lebat dan angin kencang.
 
Pada 17 Agustus 2023 lalu, berbagai pemantauan indeks kualitas udara di Jakarta menunjukkan angka berwarna kuning bahkan hijau, karena saat itu ada angin kencang yang meniup polusi udara menjauhi Ibu Kota Indonesia tersebut.
 
Lebih lanjut dia menyampaikan ada tiga penyebab utama polusi udara, yaitu transportasi, pembangkit listrik tenaga uap yang memakai bakar batu bara, dan industri-industri yang menggunakan batu bara atau bahan bakar karbon lainnya.
 
"Jadi kalau mau mengurangi PM 2,5 itu yang biasanya dikurangi adalah transportasi, pembangkit listrik, dan industri. Inilah yang menyebabkan banyak PM 2,5 berada di atas," pungkas Menkes.
Reporter: Antara