Polemik Kelakar Zulhas Soal Gerakan Salat, Bisa Berdampak ke Prabowo?

ANTARA FOTO/Auliya Rahman/foc.
Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan (kiri) menyapa warga pada acara kampanye PAN di Gor Thamrin, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (8/12/2023).
21/12/2023, 18.11 WIB

Sikap Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan atau Zulhas yang memperagakan gerakan menunjuk yang semula dari satu jari menjadi dua jari saat ibadah dinilai berpotensi memberikan sentimen negatif pada elektabilitas Prabowo Subianto dalam Pilpres 2024.

Direktur Eksekutif Indonesian Presidential Studies (IPS) Nyarwi Ahmad mengatakan pernyataan dan gestur Zulhas tersebut berpotensi menggagalkan misi menang satu putaran yang kerap digaungkan oleh tim pemenangan Prabowo-Gibran.

Terlebih, ujar Nyarwi, Zulhas saat itu secara spesifik menyebut nama Prabowo terkait penyataan adanya perubahan sikap sejumlah masyarakat yang tidak lagi mengucap kata 'aamiin' setelah imam salat selesai membaca surah Al-Fatihah.

"Jika para ketua umum partai pendukung melakukan blunder secara berkelanjutan, ini dapat menimbulkan efek negatif terhadap skenario Prabowo-Gibran menang Pilpres satu putaran," kata Nyarwi saat dihubungi lewat sambungan telepon pada Kamis (21/12).

Dosen komunikasi politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu juga menilai bahwa pernyataan Zulhas merupakan narasi yang kontraproduktif dan tidak layak untuk disebutkan dalam forum terbuka.

Terlebih kehadiran Zulhas dalam forum Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) saat itu sebagai Menteri Perdagangan.

Pakar komunikasi politik Universitas Padjajaran (Unpad) Kunto Adi Wibowo mengatakan sikap Zulhas berpotensi memengaruhi elektabilitas pasangan Prabowo-Gibran secara signifikan.

"Jika narasi itu terus digaungkan pasti akan memengaruhi elektabilitas Prabowo," kata Kunto saat dihubungi lewat sambungan telepon pada Kamis (21/12).

Prabowo terima dukungan dari Generasi Muda Islam (ANTARA FOTO/Galih Pradipta/YU)

Gestur itu diperlihatkan oleh Zulhas saat dirinya memberki sambutan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) di Semarang pada Selasa, 19 Desember 2023.

Dalam pidatonya, Zulkfili memperagakan gerakan menunjuk yang semula dari satu jari menjadi dua jari. Dia juga memperagakan tahiyat gerakan dua jari kepada para peserta Rakernas APPSI dari atas podium.

"Itu kalau tahiyat akhir sekarang banyak begini pak,” ujar Zulhas seperti terlihat dalam cuplikan video yang diunggah oleh akun Instagram @amanatnasional pada Rabu (20/12).

Zulhas juga terlihat melempar candaan mengenai perubahan sikap sejumlah masyarakat yang tidak lagi mengucap kata 'aamiin' setelah imam salat selesai membaca surah Al-Fatihah.

Diksi Amin saat ini populer merujuk pada pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 1, Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar. Adapun PAN saat ini merupakan bagian dari anggota Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang mengusung pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dalam ajang Pilpres 2024.

Tak Pengaruhi Elektabilitas PAN 

Di sisi lain, ujar Kunto, pernyataan Zulhas tidak memberikan dampak berarti bagi PAN dalam pemilihan calon legislatif tahun depan. Menurut Kunto, pamor PAN saat ini ditopang oleh para anggota yang sebagian besar berasal dari kalangan artis dan pesohor hiburan layar kaca.

"Caleg dari PAN itu sebagian besar sudah dikenal orang sebelum mereka bergabung PAN. Mereka dikenal bukan karena PAN atau korelasi dengan Zulhas-nya," ujar Kunto.

Adapun Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno menyampaikan pernyataan yang disampaikan oleh Zulhas merupakan cerita tentang kondisi di masyarakat yang dia temui.

"Misalnya ketika ada yang melafadzkan 'Amiin' nanti justru dirujuk atau diasosiasikan dengan salah satu capres. Karena itu akhirnya memilih untuk melafadzkan 'Amiin' dalam hati," kata Eddy dalam siaran pers pada Kamis (21/12).

Wakil Ketua Komisi VII DPR itu juga menyampaikan bahwa gestur serupa juga pernah disampaikan oleh sejumlah ulama. “Rupanya gejala unik ini juga pernah diceritakan oleh dua ulama kondang seperti Ust. Adi Hidayat dan Ust. Abdul Somad sebelumnya" ujar Eddy.

Eddy menegaskan bahwa tidak ada niat dari Zulhas untuk menyampaikan humor yang dibuat-buat, apalagi melecehkan agama. Ia justru menduga ada upaya mengemas pernyataan Ketua Umum PAN itu ke arah negatif agar menjadi sorotan publik.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu