BGN Siapkan Akses CCTV Dapur SPPG untuk Orang Tua dan Kepala Sekolah
Badan Gizi Nasional (BGN) berencana untuk mengikutsertakan peran orang tua siswa dan pihak sekolah untuk ikut mengawasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui akses kamera pengawas atau CCTV di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kepala BGN, Sudaryono, mengatakan pihaknya masih membahas mekanisme pemberian akses tersebut dan belum menetapkannya sebagai kebijakan resmi. BGN mempertimbangkan pemberian akses terbatas kepada pihak tertentu, seperti kepala sekolah, guru, dan orang tua siswa, agar mereka dapat ikut memantau aktivitas produksi makanan di SPPG.
“Dalam rangka keterbukaan dan akuntabilitas untuk publik, kami ingin CCTV bisa terkoneksi AI, mungkin tidak dalam bentuk video, karena harus dilihat dari sisi keamanannya,” kata Sudaryono setelah mengikuti rapat koordinasi perbaikan tata Kelola MBG di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, pada Senin (19/10).
Akses terbatas CCTV kepada orang tua murid dan kepala sekolah diharapkan menjadi instrument untuk memperkuat pengawasan terhadap pelaksanaan standar operasional prosedur (SOP) di SPPG.
Sistem pemantauan juga disebut akan memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk membantu mendeteksi ketidaksesuaian SOP pengolahan makanan. Sudaryono mengatakan BGN masih perlu menyusun aturan mengenai pembatasan akses, perlindungan keamanan dapur, dan pemanfaatan data CCTV. “Karena kalau semua orang bisa akses, artinya lekuk-lekuk dapur di sana sebagainya kan jadi tahu,” ujar Sudaryono.
Pemantauan akan mencakup berbagai tahapan pengolahan makanan, mulai dari persiapan bahan baku, proses memasak, hingga pencucian wadah makanan. Sistem tersebut diharapkan membantu mendeteksi praktik yang tidak sesuai dengan standar kebersihan dan keamanan pangan.
Sudaryono menjelaskan seluruh dapur pada dasarnya telah memiliki CCTV, tetapi selama ini penggunaannya masih terbatas untuk pemantauan internal. Melalui uji coba integrasi, BGN berupaya meningkatkan pengawasan terhadap tenaga pelaksana, kepala dapur, dan mitra yayasan.
“Misalnya ini sederhana namun terjadi, tenaga kerja ibu-ibu beberapa tidak terbiasa mencacah kol di meja, biasanya mencacah di lantai. Dengan adanya CCTV, itu bisa ditindaklanjuti,” ujarnya.
Lebih juah Sudaryono menyatakan inisiatif ini bakal menggunakan CCTV yang telah terpasang di dapur SPPG ke pusat pemantauan daripada mengadakan puluhan ribu perangkat baru. “Jadi insyaallah tidak akan ada pengadaan yang bombastis seperti yang lalu, sampai ratusan miliar nggak akan ada,” ujarnya.
