Survei KedaiKOPI: 25% Orang Kelas Menengah Terdampak PHK

ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/nz.
Pencari kerja membawa dokumen lamaran pekerjaan mengantre untuk mengikuti job fair Solo Career Expo di Balai Kota, Solo, Jawa Tengah, Rabu (23/7/2025).
28/10/2025, 15.42 WIB

Temuan survei KedaiKOPI menunjukkan seperempat responden terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK). Dari hasil penjaringan opini KedaiKOPI, sebanyak 25% responden mengaku terdampak PHK.

Angka tersebut terdiri dari mereka yang mengaku terkena PHK sebanyak 9% maupun anggota keluarganya yakni sebanyak 16%. 

“Ternyata 25% rumah tangga pernah mengalami PHK. Sebanyak 9% dia, respondennya yang di-PHK, atau 16% anggota rumah tangganya,” kata peneliti senior Lembaga Survei KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah, dalam paparannya, Selasa (28/10). 

Dari sejumlah responden yang terkena PHK, setengah di antaranya belum mendapatkan pekerjaan kembali setelah lebih dari enam bulan terkena PHK. Tak hanya itu, para korban PHK memakai tabungan darurat untuk menjaga konsumsinya.

“Sebanyak 43,4% (dari 9% korban PHK) itu lebih dari 6 bulan belum dapat kerja,” kata Ashma. 

Temuan KedaiKOPI menunjukkan reaponden yang merupakan pekerja informal lebih banyak terkena PHK dibanding responden dengan status pekerja formal. 

KedaiKOPI memberi masukan pada pemerintah agar lebih memperhatikan masyarakat kelas menengah. Terutama dari segi menjaga kualitas hidup. Karena, selama ini bantuan yang diberikan lebih menyasar masyarakat kelas bawah. 

“Menjaga kualitas hidup itu tuh jadi poin utama gitu untuk masyarakat kelas menengah,” kata dia. 

Adapun, survei ‘Pergeseran Perilaku Konsumsi dan Daya Beli Masyarakat Kelas Menengah’ ini dilakukan pada 14-19 Oktober 2025 dengan metode Online-Computerized Assisted Self Interview (CASI).

Survei tersebut melibatkan 932 responden WNI yang berusia 17-55 tahun, dengan pendapatan antara Rp 3,5 - Rp 14,5 juta/bulan, atau memiliki pengeluaran per kapita antara Rp 2 juta hingga Rp 9,9 juta per bulan. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman