BMKG Waspadai Badai Seroja Terulang: Angin Kencang, Hujan Deras, Potensi Banjir

ANTARA/HO-BPBD Sabu Raijua
Kapal Chantika 10 yang karam di Pelabuhan Seba Pulau Sabu\
Penulis: Desy Setyowati
2/11/2025, 12.28 WIB

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mengingatkan potensi badai Seroja terulang. Fenomena ini dapat menimbulkan angin kencang, hujan sangat deras hingga badai besar yang berpotensi menimbulkan banjir, banjir bandang, dan tanah longsor di wilayah pesisir selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Maluku.

Badai Seroja pernah terjadi Nusa Tenggara Timur pada April 2021. BMKG mewaspadai fenomena ini terjadi selama periode puncak musim hujan November 2025 hingga triwulan pertama 2026.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan badai Seroja mungkin terjadi, karena ada peningkatan aktivitas siklon tropis di sekitar perairan selatan Indonesia yang dimulai medio Oktober - November 2025, dan diperkirakan berlangsung hingga Maret atau April 2026.

“Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas siklon tropis di sekitar perairan selatan sering memicu hujan ekstrem di wilayah pesisir. Kami ingat pada 2021 terjadi badai Seroja pada awal April, dan potensi seperti itu bisa terulang pada fase ini,” kata dia dalam konferensi pers bertajuk ‘Kesiapan Menghadapi Puncak Musim Hujan’ di Jakarta, Sabtu (1/11).

Dia menjelaskan kondisi itu dipicu oleh suhu muka laut yang berkisar 0,5 hingga 3 derajat Celsius lebih hangat dari normal di perairan selatan Indonesia. Hal ini memperkuat penguapan dan meningkatkan energi pembentuk sistem tekanan rendah penyebab siklon tropis.

“Mulai November, wilayah selatan Indonesia memasuki periode aktif siklon tropis yang dapat memengaruhi pola cuaca nasional. Kondisi ini berpotensi memperkuat curah hujan ekstrem di wilayah barat, tengah, hingga timur Indonesia,” ujar dia.

Dia juga memaparkan bahwa aktivitas atmosfer global seperti Madden Julian Oscillation (MJO) serta gelombang ekuatorial Rosby dan Kelvin turut memperkuat potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah tengah dan timur Indonesia, sehingga memperbesar risiko cuaca ekstrem.

BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap ancaman siklon tropis. Caranya, dengan memantau peringatan dini cuaca dari BMKG serta menyiapkan langkah antisipatif di daerah rawan banjir dan longsor.

“Kami berharap masyarakat tidak panik, tetapi tetap siaga dan responsif terhadap setiap peringatan dini yang kami keluarkan,” kata Dwikorita.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Antara