Di Ujung Utara Indonesia, Satu Dokter Layani 823 Warga di Miangas
Di Miangas, hanya ada satu puskesmas yang menjadi fasilitas kesehatan untuk melayani lebih dari 800-an warga. Satu dokter umum sekaligus kepala puskesmas bersama tenaga terbatas, memikul tanggung jawab besar karena harus mengakomodasi kebutuhan kesehatan ratusan jiwa yang bergantung pada satu titik layanan.
Presiden Prabowo Subianto pun mendapat laporan dari Menteri Kesehatan bahwa Puskesmas Miangas belum pernah diperbaiki sejak era Suharto.
Kepala Puskesmas Miangas, Cefrilia Pesik, kini menjalankan peran yang melampaui kapasitas fasilitas yang tersedia. Ia menjadi satu-satunya dokter umum di satu-satunya fasilitas kesehatan di bumi Nyiur Melambai.
Dalam segala keterbatasan, puskesmas itu berdiri sebagai satu-satunya tumpuan harapan bagi warga terhadap layanan kesehatan dasar. Tidak ada rumah sakit, tidak ada klinik lain.
Puskesmas yang dihidupi oleh satu dokter umum dan 10 staf pelayanan ini memikul tanggung jawab besar karena harus mengakomodasi kebutuhan kesehatan 823 jiwa yang bergantung pada satu titik layanan ini.
"Dari segi sumber daya manusia, masih sangat kurang. Bidan hanya seorang," kata Kepala Puskesmas Miangas, Cefrilia Pasik, saat ditemui di Puskesmas pada Sabtu (9/5).
Ia mengatakan obat-obatan dikirim dari Melonguane, ibu kota Kabupaten Kepulauan Talaud pada setiap bulannya. Namun, distribusi produk farmasi itu kerap tidak sesuai kebutuhan. Obat yang diminta sering kosong, sementara yang tidak diperlukan justru datang berulang.
Dalam situasi darurat, tantangan menjadi berlipat. Tidak semua penyakit bisa ditangani. Rujukan ke rumah sakit seperti RSUD Mala di Melonguane harus menunggu kapal atau pesawat yang datang tidak menentu, tergantung cuaca.
Cefrilia mengatakan kapal perintis bisa memakan waktu hingga 10 hari untuk singgah, sementara pesawat hanya dua kali seminggu. Selain pasokan obat, kebutuhan dasar oksigen sebagai kebutuhan dasar penanganan medis belum tersedia.
Di tengah kondisi itu, Cefrilia menyampaikan harapan yang sederhana namun mendesak, yakni tambahan tenaga medis, ketersediaan obat, dan perbaikan fasilitas. Baginya, Miangas bukan sekadar wilayah pinggiran, tetapi garis depan yang seharusnya mendapat perhatian utama.
"Mohon bantuan dari pemerintah pusat agar fasilitas sarana persarana dan juga obat-obatan di puskesmas ini dapat terpenuhi. Juga SDM-nya tolong ditambahkan," kata Cefrilia.