Lima Kali Bertemu Macron, Diplomasi Prabowo Dinilai Semakin Personal
Presiden Prabowo Subianto tercatat telah lima kali bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam kurun waktu setahun terakhir. Intensitas pertemuan ini dinilai mencerminkan semakin strategisnya posisi Prancis bagi Indonesia, terutama dalam kerja sama pertahanan, teknologi, hingga geopolitik Indo-Pasifik.
Namun, frekuensi kunjungan tingkat kepala negara itu juga memunculkan catatan kritis, karena sebagian agenda dinilai bersifat teknis dan sebenarnya dapat didelegasikan kepada kementerian terkait.
Pertemuan pertama berlangsung saat Macron melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada 27 Mei 2025 dan mengunjungi Candi Borobudur. Setelah itu, Prabowo menghadiri Bastille Day di Paris pada 14 Juli 2025. Pertemuan mereka kembali berlangsung pada 23 Januari 2026 di Prancis usai Prabowo melakukan lawatan agenda tahunan World Economic Forum di Davos, Swiss.
Prabowo kembali bertolak ke Prancis untuk menemui Macron di Istana Élysée pada 14 April 2026. Yang terbaru, Prabowo melakukan kunjungan kenegaraan ke Prancis pada 26 Mei 2026.
Intensitas pertemuan yang terlalu sering dan kunjungan ke pimpinan negara tertentu memunculkan sorotan bahwa pengambilan keputusan diplomasi Indonesia belakangan terlihat semakin bersifat personal dan cenderung terpusat pada peran kepala negara.
Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi), Rizal Darma Putra menilai intensitas kunjungan luar negeri Prabowo ke Prancis sebenarnya dapat ditangani di level kementerian teknis.
“Kalau untuk pembelian alutsista, investasi, atau kerja sama perdagangan, sebenarnya cukup ditangani tingkat menteri. Saya pikir tidak harus presiden bertemu presiden,” kata Rizal saat dihubungi Katadata.co.id, lewat sambungan telepon pada Jumat (29/5).
Hal senada disampaikan oleh Konsultan Marapi Consulting & Advisory, Beni Sukadis. Ia mengingatkan agar intensitas kunjungan kepala negara tetap diarahkan pada capaian strategis yang bersifat besar dan fundamental.
Ia menilai kunjungan presiden semestinya difokuskan pada agenda strategis seperti penandatanganan kesepakatan besar yang berkaitan langsung dengan kepentingan nasional Indonesia.
“Jika agenda yang dibahas lebih dominan bersifat teknis seperti tindak lanjut kontrak alutsista, transfer teknologi, atau implementasi kerja sama industri, maka sebagian bisa didelegasikan kepada menteri terkait maupun pejabat teknis. Kunjungan kepala negara sebaiknya difokuskan pada pencapaian seperti penandatanganan MoU dan lain-lain,” kata Beni pada Jumat (29/5).
Kepentingan Prancis di Indo-Pasifik
Rizal Darma Putra menilai Prancis merupakan negara Barat yang memiliki posisi politik luar negeri relatif independen dibandingkan dengan sekutu utama Amerika Serikat lainnya di Eropa, seperti Inggris dan Jerman.
Menurut dia, sikap itu membuat Prancis dipandang memiliki kedekatan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif Indonesia.
“Prancis berani mengatakan tidak kepada Amerika sewaktu ingin menginvasi Irak. Prancis keras menolak narasi koalisi Amerika yang menyatakan Irak memiliki senjata pembunuh massal,” kata Rizal.
Di sisi lain, sikap Prancis yang cenderung terbuka kepada Indonesia juga dilihat punya maksud tertentu. Rizal beranggapan Paris tengah berupaya memperluas pengaruh geopolitik di kawasan Indo-Pasifik dan melihat Indonesia sebagai mitra strategis di Asia Tenggara.
Ia mengatakan kepentingan Prancis di Indo-Pasifik juga beririsan dengan upaya menjaga stabilitas kawasan, termasuk respons atas meningkatnya pengaruh Cina di Laut Cina Selatan. Faktor ini disebut menjadi alasan Prancis untuk memperkuat hubungan militer dengan Indonesia.
Dokumen pernyataan bersama atau joint statement yang dirilis Kantor Kepresidenan Prancis setelah pertemuan bilateral di Istana Élysée, menyebutkan bahwa Prabowo dan Macron berkomitmen memperkuat kerja sama keamanan dan pertahanan.
Kedua negara juga menyepakati perluasan berbagai program pelatihan, mulai dari satuan kavaleri berkuda, pelatihan bahasa, hingga pertukaran antarkepolisian terkait pengelolaan ketertiban umum dan keamanan masyarakat.
Saat konferensi pers, Macron menyampaikan sejumlah agenda latihan bersama Indonesia dan Prancis akan kembali digelar dalam beberapa bulan ke depan, termasuk melalui misi Misi Pégase pada September 2026.
Misi Pégase merupakan operasi proyeksi kekuatan udara jarak jauh milik Angkatan Udara Prancis ke kawasan Indo-Pasifik. Dalam misi ini, Prancis mengirim pesawat tempur, pesawat angkut, dan personel militer untuk latihan bersama, diplomasi pertahanan, serta menunjukkan kehadiran strategisnya di kawasan.
Indonesia pernah menjadi salah satu titik persinggahan Misi Pégase 2024. Saat itu, Angkatan Udara Prancis membawa jet tempur Dassault Rafale, pesawat tanker, dan Airbus A400M ke Lanud Halim Perdanakusuma sebagai bagian dari tur pertahanan di Asia Tenggara.
“Prancis punya ambisi untuk membangun proyeksi globalnya di kawasan Asia Tenggara. Jadi tidak hanya Amerika yang melihat Cina sebagai ancaman, Prancis juga melihat Cina sebagai ancaman,” ujarnya.
Selain faktor geopolitik, Rizal menyebut kerja sama pertahanan menjadi salah satu alasan utama kedekatan kedua negara. Menurut dia, Prancis relatif lebih terbuka dibandingkan dengan Amerika Serikat dalam urusan transfer teknologi militer.
Ia mencontohkan pembatasan penggunaan alutsista dan transfer teknologi dari AS dinilai lebih ketat. Sementara Prancis dianggap lebih longgar dalam kerja sama industri pertahanan. Keterangan Rizal senada dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Sugiono.
Sugiono pada 22 April, menceritakan hasil kunjungan kerja Prabowo saat bertemu Macron di Istana Élysée pada 14 April. Hasil pembicaraan keduanya, salah satunya menyepakati kerja sama pertahanan, terutama dalam aspek transfer teknologi dan pengadaan persenjataan militer.
Prabowo sebelumnya juga menyaksikan penyerahan enam unit jet tempur Rafale kepada Tentara Nasional Indonesia. Enam unit Rafale ini merupakan bagian dari kontrak 42 unit yang telah disepakati pada 2022 lalu. Seremoni penyerahan berlangsung di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, pada Senin (18/5).
Selain Rafale, sejumlah armada tempur buatan Prancis lainnya seperti enam unit pesawat Falcon 8X dan satu pesawat Airbus A400M juga turut diserahkan kepada TNI.