Menhan Sjafrie Evaluasi Latihan Militer untuk Calon Manajer Kopdes Merah Putih
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengevaluasi secara menyeluruh Program Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) untuk para calon manajer Koperasi Desa atau Kopdes Merah Putih. Evaluasi itu menyusul meninggalnya lima peserta Latsarmil saat menjalani masa pendidikan.
"Atas arahan Menteri Pertahanan (Sjafrie), penyelenggara telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek kesehatan," kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pertahanan (BPSDM Kemhan), Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia saat jumpa pers di Jakarta, Sabtu (27/6).
Menurut Ketut, pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi fisik para peserta. Setelah kondisi kesehatan para peserta diketahui, setiap satuan TNI yang jadi pihak pelatih Latsarmil harus menyesuaikan porsi latihan fisik sesuai dengan kondisi peserta.
Dari sisi penanganan, Kemhan juga meminta agar penanganan medis terhadap peserta yang sakit bisa dilakukan secara cepat dan maksimal.
Tidak hanya evaluasi soal kesehatan saja, Ketut mengatakan Sjafrie meminta evaluasi juga harus dilakukan dari segi pemberian materi selama pendidikan. "Kegiatan juga diarahkan agar lebih adaptif, edukatif, dan memperhatikan kondisi psikologis peserta melalui metode pembelajaran yang membangun semangat kerja sama, problem solving, dan suasana yang lebih menggembirakan," ujarnya.
Dengan begitu, para peserta tidak akan kehilangan esensi dari pendidikan Latsarmil yang lebih menekankan pada nilai kedisiplinan dan membangun jiwa kepemimpinan. Ketut memastikan proses evaluasi akan terus dilakukan pihaknya selama masa pendidikan latsarmil demi kenyamanan dan keselamatan para peserta.
Sebelumnya, lima calon manajer Kopdes Merah Putih meninggal saat mengikuti Latsarmil. Kelima peserta itu adalah Yonanda Muhammad Taufiq, Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang, Rifki Renaldi Gunawan. dan Nola Dya Sari.
Yonanda Muhammad Taufiq diketahui meninggal pada Rabu (17/6). Dia mengembuskan napas terakhir setelah mengalami henti jantung saat menjalani Latsarmil di Satdik Puslatpur Kodiklatad, Baturaja, Sumatra Selatan.
Anisa Muyassaroh meninggal pada Kamis (18/6) karena karena heat stroke saat mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur. Berikutnya, Novia Rahmadhani Sihotang dinyatakan meninggal pada Selasa (23/6) karena tuberkulosis (TBC) saat mengikuti Latsarmil di Kodiklatau Jakarta.
Sementara Rifki Renaldi Gunawan dinyatakan meninggal saat mengikuti pendidikan di Satdik Yon Parako 465, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (26/8). Di hari yang sama, Nola Dya Sari dinyatakan meninggal dunia saat mengikuti Latsarmil di Singkawang, Kalimantan Barat.
Sinyal Latsarmil Bakal Jalan Terus bagi Calon Manajer Kopdes
Desakan untuk menghentikan Program Latsarmil bagi para calon pengelola Kopdes Merah Putih sudah menggema sejak kabar meninggalnya para peserta mulai mencuat ke publik. Salah satu kritik datang dari peneliti Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS)-Yusof Ishak, Made Supriatma, yang menilai latihan itu tidak relevan dengan tugas peserta setelah menyelesaikan program.
Menurut Made, peserta seharusnya mendapatkan pelatihan seperti manajemen organisasi, akuntansi, pemasaran, pengelolaan gudang, serta tata kelola usaha. "Kenapa para calon manajer koperasi atau pengelola kampung nelayan ini harus dilatih oleh Kementerian Pertahanan? Kenapa tidak dilatih oleh para profesional? Seharusnya lebih banyak dilatih mengenai pekerjaan otak, bukan melibatkan fisik berlebih," ujarnya saat dihubungi Kamis (25/6).
Namun, Ketut menjelaskan alasan perlunya para calon manajer Kopdes Merah Putih mengikuti Latsarmil. Menurut dia, latihan itu diberlakukan agar mereka memiliki jiwa disiplin yang tinggi dan kuat bekerja di bawah tekanan.
"Latihan bela negara dan manajerial ini diarahkan untuk membentuk karakter, disiplin, kepemimpinan, integritas, kerja sama, tanggung jawab, profesionalisme, kemampuan bekerja dalam tekanan, serta semangat pengabdian kepada masyarakat," kata Ketut, Sabtu (27/6).
Dia mengatakan, ragam kemampuan itu, harus dimiliki para calon manajer Kopdes Merah Putih maupun dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) karena mereka akan menjadi mengelola perputaran uang rakyat melalui koperasi. Dia beranggapan, dengan jiwa kepemimpinan dan profesionalisme yang kuat, koperasi yang mereka pimpin diharapkan menjadi salah satu faktor penentu kuatnya perekonomian rakyat di pedesaan.
"Ekonomi rakyat yang kuat merupakan bagian dari ketahanan nasional. Karena itu, pembentukan calon pengelola koperasi yang berkarakter, berintegritas, disiplin, dan memiliki jiwa kepemimpinan menjadi bagian penting," katanya.
Ketut pun membantah bila banyaknya kegiatan fisik dan pelatihan semimiliter selama Latsarmil bertujuan untuk menjadikan para pengelola koperasi sebagai prajurit. Menurutnya, hal itu semata-mata untuk membentuk mental, karakter, tanggung jawab, daya juang, kerja sama, serta kemampuan memecahkan masalah para peserta.