Operasi Narkoba di Tumbang Kalemei Berdarah: Satu Polisi Tewas, Dua Menghilang

ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nz
Ilustrasi narkoba.
Penulis: Andi M. Arief
Editor: Yuliawati
3/7/2026, 12.04 WIB

Seorang petugas polisi meninggal dan dua orang hilang dalam operasi penangkapan pengedar sabu di Desa Tumbang Kalemei, Kalimantan Tengah. Badan Reserse Kriminal atau Bareskrim Kepolisian Mabes Polri  akan turun tangan mengungkapkan jaringan narkotika tersebut. 

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Eko Hadi Santoso mencatat Aipda Yudhie Perdana Putra tewas akibat serangan senjata tajam saat operasi berlangsung. Selain itu, dua petugas masih dinyatakan hilang setelah dilakukan pencarian selama dua malam, yakni Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana.

"Kami akan melakukan dukungan penuh terhadap jajaran di lapangan, baik dalam proses pencarian anggota yang belum ditemukan, pengamanan wilayah, maupun pengungkapan tuntas jaringan narkotika dan pelaku penyerangan terhadap anggota Polri," kata Eko dalam keterangan resmi, Jumat (3/7).

Eko menyampaikan tim gabungan masih melakukan pencarian terhadap Sumaryanto dan Nopandri. Pada saat yang sama, penegak hukum sedang mendalami keterlibatan para pelaku yang menyerang petugas dalam operasi di Desa Tumbang Kalemei.

Eko memaparkan operasi yang dimaksud adalah menangkap seorang pengedar di Desa Tumbang Kalemei, yakni seseorang berinisial BIO. Target operasi tersebut tercatat kerap menjadi pengedar sabu setelah mendekam di penjara atau residivis.

Menurutnya, operasi tersebut telah menurunkan 12 petugas kepolisian yang dibagi menjadi dua kelompok. Sebagian melakukan penangkapan di rumah BIO, sedangkan yang lain bersiaga di lokasi lain sebagai unsur pendukung.

Setelah target berhasil diamankan, beberapa orang dari dalam rumah BIO menyerang dengan menggunakan senjata tajam. Warga sekitar pun turut menyerang menggunakan senjata api rakitan.

Akibatnya, sebagian petugas menyeberangi sungai untuk menghindari amukan massa. Yudhie ditemukan meninggal dunia dalam kekacauan tersebut. "Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum Aipda Yudhie Perdana Putra yang gugur saat menjalankan tugas memberantas peredaran narkotika," katanya.

Selain menambah petugas di Kalimantan Tengah, Eko berencana untuk mengevaluasi setiap operasi pemberantasan narkotika di kawasan. Menurutnya, kesiapan seluruh personel dalam operasi menjadi kunci untuk menghadapi berbagai kemungkinan di lapangan.

"Sebab, keselamatan anggota merupakan prioritas tanpa mengurangi ketegasan dalam pemberantasan narkotika," ujarnya.

Berdasarkan laporan Kantor PBB Urusan Obat-Obatan dan Kejahatan atau UNODC, total sabu yang telah disita pada 2018-2024 mencapai 71,36 ton. Mayoritas penyitaan sabu terjadi pada 2019 yang mencapai 17,92 ton.

Pada 2024, total sabu yang disita aparat mencapai 7,65 ton atau susut 17,61% secara tahunan. Walau demikian, penyusutan perampasan sabu terbesar terjadi pada 2022 sebesar 27,11%, yakni dari 11,74 ton pada 2021 menjadi 8,56 ton.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief