Sebelum Mundur, Kepala BGN Nanik S Deyang Sempat Curhat Soal Teror hingga Stres

ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/sg
Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang menyapa wartawan sebelum konferensi pers di Kantor Pusat BGN, Jakarta, Kamis (4/6/2026). Konferensi pers tersebut memperkenalkan dua Wakil Kepala BGN yang baru Agustina Arumsari bersama Mayjen TNI Trenggono dan menyampaikan perbaikan tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2026 dimulai dari mengoptimalkan efisiensi anggaran.
Penulis: Ira Guslina Sufa
22/7/2026, 08.47 WIB

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang mundur dari jabatan yang baru ia emban lebih dari satu bulan. Ia diangkat menjadi Kepala BGN pada 2 Juni 2026 setelah menggantikan Dadan Hindayana yang ditetapkan jadi tersangka dalam perkara korupsi Makan Bergizi Gratis. 

Dalam unggahan akun media sosial miliknya, Nanik mengatakan mundur untuk alasan kesehatan. Ia mengatakan akan berangkat ke luar negeri pada hari ini Rabu (22/7). 

“Dengan berat hati akhirnya saya pamit Bapak presiden untuk melakukan pengobatan di Luar Negeri untuk jantung saya,” ujar Nanik dalam pernyataan resmi di akun facebook miliknya. 

Sebelum mengumumkan mundur, Nanik sempat berbagi curahan hati (curhat) mengenai kegundahan  yang tengah ia rasakan. Ia membagikan perasaan dan hal yang dirasakan itu melalui akun sosial media facebook miliknya pada Selasa (21/7) dini hari. Dalam unggahan itu Nanik bercerita kondisi kesehatannya menurun drastis dalam 9 hari terakhir dan bahkan sempat dirawat di Rumah Sakit selama 1 minggu. 

Nanik mengatakan mendapat penjelasan dari dokter mengenai sumbatan di arteri jantung yang kini ia alami. Sumbatan itu menurut Nanik selain karena kolesterol  tinggi, juga dipicu juga oleh stres yang luar biasa. 

“Saya saat ini  memimpin lembaga yang semua orang mencibir karena semua tahulah..., jadi bisa dibayangkan hancurnya,” ujar Nanik. 

Menurut Nanik, sebenarnya ia ia tidak keberatan untuk membereskan berbagai masalah dalam program Makan Bergizi Gratis yang menjadi sorotan. Namun ia menyebut memiliki ketakutan dan trauma lantaran program tersebut berkaitan dengan anggaran yang sangat besar. 

“Saya sampai tidak bisa tidur kalau ingat ini duit negara, duit rakyat harus benar dijalankan dan tidak boleh saya kecolongan,” ujar Nanik. 

Ia mengatakan, jabatan kepala BGN yang ia emban sejak 2 Juni 2026 setelah menggantikan Dadan Hindayana merupakan bagian paling berat lantaran memegang anggaran yang sangat besar. Ia menyimpan kekhawatiran bila anggaran itu tidak tersalurkan dengan benar dan disalahgunakan. 

“Itu seperti  berdiri di tebing jurang yang curam, meleng sedikit bisa terjerembab dan mati.”

Ketakutan akan pertanggungjawaban penggunaan uang negara itu menurut Nanik membuat ia menjadi sangat hati-hati. Bahkan untuk menandatangani dokumen yang berkaitan dengan MBG dia tak mau memberi paraf sendirian. Dua wakil kepala BGN pun juga harus ikut memberi persetujuan. 

“Setiap kebijakan saya tanya berulang -ulang. Bahkan kalau Sepri (asisten pribadi) saya bawa tumpukan dokumen saya sudah parno duluan dan badan panas-dingin, akibatnya   saya ambruk,” tulis Nanik lagi. 

Tak hanya itu, Nanik pun mengatakan ia kerap mendapat teror berkaitan dengan jabatan yang ia emban. Bahkan kini ia mengaku telah membuang nomor hape yang biasa ia gunakan. Hal itu menurut Nanik dilakukan untuk menjaga kesehatan mentalnya. 

Nanik pun meminta doa kepada masyarakat dan teman-teman agar proses pengobatan dan pemulihan yang ia jalani bisa berlangsung sukses. 

“Bila  Anda berselimut madu, maka jangan dikira Anda akan punya hidup yang manis, di situ Anda  akan "diserang" dari berbagai  penjuru  angin yang ingin menikmati madu yang Anda  pegang. Pilihannya? Kayaknya angkat bendera putih,” tulis Nanik di akhir curahan hatinya. 

Usai mengunggah curahan hati itu sehari kemudian Nanik pun mengumumkan mundur dari jabatannya. Ia menyatakan telah pamit kepada Presiden Prabowo Subianto. 

Menurut Nanik sebagai tindak lanjut atas kemundurannya, presiden kemungkinan akan membentuk dewan pengawas. Dalam struktur baru itu Nanik mengatakan ia diminta menjadi ketua dewan pengawas. 

Sebagai pendukung Prabowo lebih dari 14 tahun, Nanik mengatakan ia tetap berjuang  bersama presiden yang ia nilai sangat keras berupaya memperbaiki kehidupan  rakyat Indonesia. Ia meyakini program MBG yang telah dijalankan merupakan intervensi gizi anak -anak agar tumbuh menjadi generasi emas dan juga untuk menjaga kesehatan mereka.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.