Tren Liburan Berubah, Wisatawan Domestik Geser ke Destinasi Lebih Terjangkau
Tren perjalanan wisatawan Indonesia mulai menunjukkan perubahan. Bali dan sejumlah destinasi besar masih menjadi pilihan utama, tetapi pertumbuhan permintaan semakin mengarah ke destinasi yang menawarkan pengalaman wisata berkualitas dengan biaya perjalanan yang lebih terjangkau.
Temuan tersebut tercatat dalam Traveloka SEA Index Q2 2026, yang mengukur tren perjalanan masyarakat Asia Tenggara berdasarkan data pemesanan Traveloka sepanjang April-Juni 2026.
Dalam laporan itu, destinasi yang paling banyak dipesan wisatawan Indonesia masih didominasi nama-nama besar seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan Bali. Namun, di balik dominasi destinasi tersebut, terdapat perubahan dalam arah pertumbuhan permintaan wisatawan.
Laporan ini juga mencatat pertumbuhan permintaan wisatawan Indonesia semakin mengarah pada destinasi yang menawarkan kombinasi pengalaman wisata dan biaya perjalanan yang lebih terjangkau.
"Bali masih menjadi destinasi favorit wisatawan Indonesia. Namun, pertumbuhan permintaan kini semakin mengarah ke destinasi yang menawarkan pengalaman wisata berkualitas dengan biaya perjalanan yang lebih terjangkau," demikian temuan dalam Traveloka SEA Index Q2 2026, dikutip Kamis (13/8).
Salah satu destinasi yang mulai banyak diminati wisatawan Indonesia adalah Penang, Malaysia. Penang mencatat skor permintaan 87. Pertumbuhan ini didorong oleh semakin lamanya wisatawan menginap dan meningkatnya perjalanan bersama keluarga.
Artinya, wisatawan Indonesia tidak hanya melihat destinasi yang populer, tetapi juga mulai mempertimbangkan biaya dan pengalaman yang didapat saat memilih tempat liburan.
Perubahan tren juga terjadi di tingkat Asia Tenggara. Sejumlah kota lapis kedua di China, seperti Chengdu, Shenzhen, Kunming, dan Chongqing, mengalami pertumbuhan wisata yang cepat.
Pemesanan ke kota-kota tersebut tumbuh sekitar 2-4 kali lebih cepat dibandingkan rata-rata pasar di sejumlah negara Asia Tenggara.
Namun, wisatawan Indonesia belum sepenuhnya mengikuti tren tersebut.
Contohnya Qingdao. Secara regional, pemesanan ke kota tersebut tumbuh hingga 9 kali lipat dari empat negara Asia Tenggara. Sementara dari Indonesia, pemesanan memang naik 56% dibandingkan tahun lalu, tetapi jumlahnya masih belum cukup besar untuk disebut sebagai lonjakan.
Wisatawan Indonesia Masih Pertimbangkan Harga
Perubahan pola perjalanan tersebut juga terlihat ketika dibandingkan dengan perilaku wisatawan dari negara Asia Tenggara lainnya.
Singapura menjadi salah satu pengecualian. Pertumbuhan pencarian perjalanan dari wisatawan Singapura tercatat 21% secara tahunan, sementara pertumbuhan pemesanannya mencapai 90%. Artinya, kenaikan pemesanan jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan minat pencarian.
Sebaliknya, wisatawan Indonesia dinilai masih mempertimbangkan waktu dan harga yang tepat sebelum melakukan pemesanan perjalanan ke Singapura.