Gempa M 7,7 Guncang NTT, 5 Orang Meninggal dan Ribuan Warga Mengungsi

Katadata/Agustiyanti
Jajaran Kodam IX/Udayana saat membantu proses evakuasi warga terdampak gempa bumi di NTT, Sabtu (15/8/2026). ANTARA/HO-Kodam IX/Udayana
Penulis: Andi M. Arief
Editor: Agustiyanti
15/8/2026, 12.46 WIB

Gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/6). Sedikitnya lima orang meninggal dunia dan ribuan orang dievakuasi akibat bencana ini.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mencatat, sekitar 2.000 orang melakukan evakuasi mandiri akibat peringatan tsunami pagi ini. Pusat gempa yang terjadi pukul 04.58 WITA berada di sekitar 38 kilometer timur Laut Mbay dengan kedalaman 15 kilometer.

Namun, Berton akhirnya mencabut peringatan tsunami dini selang 2,5 jam setelah peringatan gempa diumumkan. "Berdasarkan hasil observasi tinggi muka laut di wilayah terdampak, BMKG menyatakan tidak terdapat lagi kenaikan muka air laut signifikan yang membahayakan," kata Berton dalam keterangan resmi, Sabtu (15/8).

Berton mendata setidaknya ada dua kabupaten akibat gempa pada pagi hari ini, yakni Kabupaten Sikka dan Kabupaten Nagekeo. Setidaknya ada satu korban jiwa di Sikka dan empat korban luka-luka yang tersebar di Sikka dan Nagekeo.

Berton mencatat gempa di NTT telah merusak lima rumah penduduk, tiga fasilitas umum, dan tujuh bangunan pemerintah yang termasuk satu gudang Perum Bulog. Namun Berton menekankan data tersebut masih bersifat sementara dan terus diverifikasi oleh pihaknya.

Berdasarkan pantauan Berton, kondisi jalan di Nagekeo kini macet dan aliran listrik belum pulih. Sementara itu, kondisi di Kota Bima secara umum terpantau kondusif selagi verifikasi dampak masih terus berlangsung.

Berton mengatakan pihaknya telah mengerahkan tim penanganan darurat untuk mendukung pemerintah daerah dalam penanganan korban, pendataan dampak, dan pemenuhan kebutuhan kebutuhan masyarakat terdampak. Karena itu, BNPB telah mengerahkan satu unit helikopter untuk membantu mobilisasi logistik hingga evakuasi udara.

"Dukungan udara ini menjadi penting mengingat karakteristik wilayah NTT yang terdiri atas banyak pulau dan memiliki tantangan akses antardaerah," katanya.

Di sisi lain,  Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena mengatakan berdasarkan laporan terakhir yang diterima, sebanyak lima orang dilaporkan meninggal dunia akibat gempa. Korban yang meninggal dunia itu terdiri dari dua orang di Maumere, Kabupaten Sikka dan tiga lainnya di Kabupaten Manggarai. Para korban meninggal diduga akibat reruntuhan bangunan yang ambruk saat gempa bumi terjadi di daerah itu.

“Tetapi, kami akan pastikan lagi penyebabnya karena apa,” ujar dia.

Melki menambahkan data detail terkait korban jiwa mulai dari meninggal dunia dan luka-luka akan disampaikan sekembalinya dari Flores.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG menetapkan status siaga di beberapa wilayah di sekitar NTT. Wilayah tersebut adalah kawasan Manggarai Bagian Utara, Ngada Bagian Utara, Ende, dan Flores Timur di NTT, serta Jeneponto di Sulawesi Selatan.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto di Jakarta, menjelaskan bahwa BMKG telah mengeluarkan Peringatan Dini 1 pada pukul 05.00 WIB (2 menit 16 detik pascagempa) dan Peringatan Dini 2 pada pukul 05.09 WIB guna memastikan pemangku kepentingan serta masyarakat dapat merespons potensi ancaman tersebut secara cepat.

Dampak guncangan gempa dilaporkan paling kuat dirasakan di Aesesa (Nagekeo), Riung (Ngada), dan Kota Mbay pada skala VII MMI yang menyebabkan warga berhamburan keluar rumah serta memicu kerusakan ringan pada bangunan.

Kemudian, skala VI MMI dirasakan di Wolowae dan Bajawa, serta skala V MMI di Ende, Borong, dan Ruteng.

Merespons potensi ancaman tsunami tersebut, BMKG mengimbau warga di area berstatus siaga untuk segera melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih tinggi, sementara masyarakat di kawasan berstatus Waspada diminta menjauhi pantai dan tepian sungai.

"Tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi," katanya menegaskan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief