Menpora Erick Thohir Sebut Pemerintah Matangkan Skema Dana Pensiun untuk Atlet

ANTARA FOTO/Fauzan/agr
Menpora Erick Thohir memberikan sambutan saat acara pemberian dukungan Dubes Jepang kepada kontingen Indonesia di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
10/9/2026, 09.49 WIB

Pemerintah tengah mematangkan formulasi dana pensiun bagi atlet sebagai bagian dari upaya menjamin kesejahteraan olahragawan setelah memasuki masa purnakarier.  Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Erick Thohir, mengatakan pemerintah telah membahas ketentuan tersebut secara lintas sektoral.

Menurut Erick dana yang disiapkan mencakup kebutuhan instrument atau payung hukum untuk menjalankannya. “Ada nanti, ada waktunya. Sudah duduk bersama,” kata Erick di Istana Merdeka Jakarta pada Rabu (9/9).

Pengadaan dana pensiun bagi atlet merupakan salah satu arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto saat menggelar pertemuan dengan Erick dan pelatih sepak bola Tim Nasional Indonesia, John Herdman di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada 19 Juni lalu. 

Program tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan olahragawan setelah menyelesaikan masa pengabdiannya di dunia olahraga. Selain dana pensiun, pertemuan saat itu juga membahas penguatan pembangunan olahraga nasional, termasuk pembinaan atlet sejak usia dini, hingga pendanaan pelatihan nasional dalam skema multiyear.

Pemerintah juga mempertimbangkan karakteristik atlet yang sebagian besar bekerja dalam sektor informal. Kondisi tersebut membuat skema dana pensiun atlet tidak dapat serta-merta menggunakan pola dana pensiun pekerja formal. Salah satu opsi yang pernah dibahas pemerintah ialah mengarahkan sebagian bonus atau pendapatan atlet untuk menjadi simpanan masa depan.

Erick sebelumnya juga telah membawa rencana tersebut ke pembahasan dengan Menteri Keuangan. Pada September 2025, Kemenpora menyampaikan usulan dana pensiun untuk atlet dan pelatih berprestasi berdasarkan kategori peraih medali pada Olimpiade, Asian Games, hingga SEA Games.

Pada Februari 2026, Erick telah melakukan studi banding dengan Menteri Belia dan Sukan (Menpora) Malaysia, Muhammed Taufiq Johari, terkait penerapan skema dana pensiun atlet di negeri Jiran. Pertemuan tersebut membahas program dana pensiun atlet yang telah berjalan di Malaysia sebagai salah satu bahan bagi pemerintah Indonesia dalam merancang perlindungan masa depan atlet.

Yenny Wahid: Negara Perlu Jamin Masa Depan Atlet

Ketua Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid, menyambut positif pemberian dana pensiun untuk atlet nantinya. Menurutnya, perlindungan masa depan atlet perlu menjadi bagian dari pembinaan olahraga karena masa produktif seorang atlet relatif terbatas.

“Karena usia produktif atlet itu sangat terbatas. Mungkin di atas usia 35 tahun sudah berbeda ya, pasti atlet akan menghadapi tantangan dari atlet usia 20 tahun. Belum tentu prestasinya bisa dipuncak kembali, biasanya sekitar 20-an itu puncak prestasi atlet,” kata Yenny di Istana Merdeka Jakarta pada Rabu (9/9).

Pembinaan atlet menurut Yenny tidak cukup berhenti ketika atlet mencapai prestasi. Pemerintah dan federasi perlu menyiapkan peta jalan yang membantu atlet menjaga stabilitas finansial setelah memasuki masa pensiun.

Yenny menyebut FPTI belum dilibatkan dalam pembahasan teknis skema dana pensiun atlet bersama pemerintah. “Belum, belum spesifik. Tapi kami sangat mendukung upaya untuk adanya dana pensiun atlet itu,” ujarnya. 

Putri kedua Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu berpendapat, skema peta jalan stabilitas finansial atlet dapat berbentuk dana pensiun maupun peningkatan literasi keuangan. 

Atlet perlu memahami cara mengelola hadiah dan pendapatan selama masa produktif melalui investasi, pembelian aset, atau instrumen keuangan lain yang dapat menopang kehidupan setelah tidak lagi aktif bertanding. Yenny menilai negara idealnya mengambil peran utama dalam penyediaan dana pensiun. Sebagian penghasilan atlet tersebut dapat dialokasikan secara berkala untuk dana pensiun.

Yenny bercerita, FPTI telah menjalankan langkah awal melalui pelatihan inklusi keuangan bagi atlet. Program tersebut bertujuan membantu atlet mengelola pendapatan yang mereka peroleh ketika masih berada pada usia produktif sehingga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pada masa mendatang.

“Ini harus dibantu agar pemahaman mereka mengenai bagaimana mengelola aset, bagaimana mengelola usia produktif mereka agar bisa terus menghasilkan pendapatan yang baik dan kemudian bisa dipakai sebagai bekal menghadapi masa tua,” ujarnya. 

Ia juga menilai pemerintah dapat memperluas akses karier bagi atlet setelah pensiun dari dunia olahraga. Pemerintah dapat membuka peluang bagi atlet berprestasi untuk berkarier sebagai aparatur sipil negara maupun melalui jalur TNI dan Polri.

“Bisa juga pemerintah memberikan akses untuk atlet bisa menjadi pegawai negeri, atau Pak Prabowo sering memberikan akses untuk bisa masuk TNI atau Polri. Itu penting karena kemudian atlet punya masa depan yang jelas, agar tidak gelisah akan masa depannya,” kata Yenny.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu