PSSI Gandeng Polisi, Perusuh Laga Persija vs Persib Terancam Hukuman Berat
Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) mengingatkan setiap perusuh atau pihak yang membahayakan keselamatan suporter akan dihukum seberat-beratnya. Peringatan ini disampaikan menjelang kembali digelarnya laga Persija Jakarta dan Persib Bandung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada Sabtu (12/9).
Ketua PSSI Erick Thohir mengatakan telah berkoordinasi dengan seluruh pihak untuk menjaga kelancaran pertandingan akbar besok. Adapun kedua tim terakhir kali bertanding di SUGBK pada 10 Juli 2019.
"Siapa pun yang mengakibatkan ada pendukung yang tidak pulang ke rumah dengan selamat, kami bersama Kepolisian sepakat akan ada proses hukum yang seberat-beratnya," kata Erick di Indonesia Sport Summit 2026, Jumat (11/9).
Erick mengingatkan, aksi kekerasan akan berpotensi mendapatkan sanksi oleh FIFA yang akhirnya menghentikan seluruh kejuaraan sepak bola di dalam negeri. Ancaman tersebut datang terakhir kali pasca tragedi Kanjuruhan pada Oktober 2022.
Tragedi Kanjuruhan terjadi saat laga akbar antara Persebaya Surabaya dan Arema Malang. Kericuhan itu menyebabkan 131 korban jiwa, termasuk 33 anak.
Erick mensinyalir FIFA sempat mengancam sanksi untuk membekukan PSSI selama 8-10 tahun. Namu, FIFA akhirnya mengurungkan rencana tersebut sehingga PSSI masih dapat mengelola Tim Nasional Indonesia.
"Saya mengingatkan peristiwa Kanjuruhan pada setiap orang yang menghadiri laga besok, jangan pernah dilupakan," katanya.
Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan terjadi usai pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya. Persebaya menang 3-2 dari Arema FC dalam laga lanjutan BRI Liga 1 2022/2023 ini.
Usai peluit panjang berbunyi, sontak suporter Aremania merangsek masuk ke lapangan, dan menyerang pemain klub kesayangan mereka. Sementara itu, pemain Persebaya langsung meninggalkan lapangan menggunakan kendaraan barracuda Polri.
Tak hanya menyerang sejumlah pemain Arema FC, suporter juga melemparkan suar atau flare, dan benda lainnya yang dapat mereka raih. Petugas keamanan gabungan dari kepolisian dan TNI berusaha menghalau para suporter tersebut dengan menembakkan gas air mata.
Namun akibatnya, ribuan suporter di tribun panik dan berusaha melarikan diri. Banyak dari mereka pingsan dan kesulitan bernapas karena berjejalan untuk keluar stadion. Kondisi tersebut kemudian menyebabkan 131 orang meninggal dunia.