Partisipasi Kerja Perempuan Stagnan di Angka 55%, Hambat Ekonomi Nasional

ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww.
Pekerja perempuan memproduksi alat pelindung diri sebuah perusahaan garmen saat kunjungan Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah di Jakarta, Rabu (1/7/2020). Kunjungan Menaker tersebut guna memastikan pekerja perempuan pada sektor industri tidak mendapatkan perlakuan diskriminatif serta untuk mengecek fasilitas laktasi dan perlindungan kesehatan bagi pekerja terutama saat pandemi COVID-19.
15/10/2026, 15.27 WIB

Laporan UN Women menyebut partisipasi kerja perempuan di Indonesia stagnan di angka 55% selama dua dekade terakhir. Tren ini berisiko menghambat akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.

Head of Programmes UN Women Indonesia Dwi Yuliawati mengatakan kesenjangan ini memicu terbuangnya potensi kontribusi sumber daya manusia berpendidikan tinggi di pasar kerja formal. Dampaknya, kondisi ini menciptakan inefisiensi ekonomi yang besar bagi Indonesia. Banyaknya perempuan berpendidikan tinggi yang terpaksa keluar dari pasar kerja resmi membuat peningkatan produktivitas nasional berjalan lambat.

“Meskipun tingkat pendidikan perempuan dan laki-laki sudah setara hingga 94 persen, partisipasi kerja perempuan selama 20 tahun terakhir tetap tertahan di 55 persen,” Ujar Dwi dalam diskusi Women's Empowerment Principles (WEPs) Awards di Jakarta, Kamis (15/10).

Dwi menyebut hambatan utama penyerapan tenaga kerja perempuan tersebut dipicu oleh tingginya beban pekerjaan perawatan rumah tangga (unpaid care work). Data menunjukkan perempuan di Indonesia rata-rata menghabiskan waktu dua setengah jam lebih lama setiap hari untuk urusan domestik dibandingkan laki-laki.

“Pekerjaan perawatan ini yang membuat perempuan menyatakan tidak siap bekerja secara statistik, meskipun secara tingkat pendidikan mereka sangat siap,” tegas Dwi.

Untuk mengoptimalkan potensi ekonomi makro tersebut, dunia usaha didorong menciptakan iklim kerja yang inklusif melalui penyediaan fasilitas pengasuhan anak (daycare) dan fleksibilitas kerja. Integrasi pekerja perempuan ke sektor formal dinilai menjadi kunci penting dalam mendongkrak produk domestik bruto (PDB) nasional secara berkelanjutan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Sukriwan Ramadhan