Kristomei Janji Bersih-Bersih BNPB Usai Kasus Korupsi Dana Bencana
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letnan Jenderal TNI Kristomei Sianturi, segera membenahi internal lembaganya menyusul kasus dugaan korupsi dana siap pakai (DSP) untuk penanganan bencana.
Kristomei mengatakan dirinya akan segera melakukan konsolidasi internal untuk mengevaluasi kondisi organisasi dan tugas BNPB. “Saya tadi sudah bilang akan melakukan konsolidasi internal. Kalau memang harus diganti karena ada proses hukum, ya harus kami ganti,” kata Kristomei setelah menjalani seremoni pelantikan di Istana Negara, Jakarta pada Kamis (15/10).
Keterangan Kristomei menyusul Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang telah menetapkan lima orang tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa yang anggarannya diduga bersumber dari DSP BNPB.
Kelima tersangka tersebut adalah Bima Setiawan, adik sekaligus Tenaga Ahli eks Kepala BNPB Suharyanto; Richard Erlangga, Tenaga Ahli Kepala BNPB; Gabriel Purwaka Sigit, Kepala Subdirektorat Pengelolaan Bantuan dan Dana Kedaruratan BNPB; serta Syifa Nrika Ghifarin dan Gery Prasetiawan dari pihak swasta.
Kristomei menjanjikan BNPB tidak akan mengintervensi proses hukum yang sedang berjalan saat ini. Eks Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XXI/Radin Inten itu menyerahkan sepenuhnya penanganan perkara kepada aparat agar proses hukum berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Kristomei juga membuka kemungkinan pergantian pejabat BNPB apabila proses hukum mengharuskan perubahan susunan personel. Namun, ia belum menentukan pejabat yang akan mengalami pergantian karena masih akan melakukan konsolidasi internal terlebih dahulu.
“Silakan aparat penegak hukum memproses sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ujarnya.
Di tengah upaya pembenahan internal, Kristomei juga akan memeriksa kembali data kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belakangan menjadi sorotan publik.
Kristomei akan menggunakan data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) dan hasil pemantauan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) sebagai bahan verifikasi. Langkah tersebut menyusul laporan BNPB dalam rapat terbatas sebelumnya yang menyebut luas kebakaran masih sekitar 613 hektare (ha) pada 12 Oktober lalu.
“Saya sudah bilang, saya akan melakukan konsolidasi total. Saya akan mengecek terlebih dahulu data dan fakta yang ada saat ini berdasarkan satelit,” ujarnya.
Lebih jauh, alumnus SMA Taruna Nusantara itu berencana mengunjungi lokasi karhutla. Ia akan berkoordinasi dengan jajaran internal BNPB untuk menentukan daerah yang perlu mendapat perhatian paling awal. “Harus siap langsung (ke lokasi karhutla),” kata Kristomei.